Sate Madura di Cikini Bintaro

Jika anda melewati cikini Bintaro di malam hari, di ujung depan jalan komplek anda akan mendapati dua gerobak yang dikerumuni beberapa pembeli, yaitu gerobak penjual nasi goreng dan gerobak penjual sate. Petang tadi, saya sempat mampir membeli sate untuk mengisi perut yang kosong. Saya dan istri, dua-duanya doyan sate. Terutama saya sendiri,  lumayan doyan soto dan sate. Sejak kecil di Surabaya saya sering membeli sate, masakan istimewa masa itu, umumnya sate ayam Madura. Menginjak dewasa saya mulai menyukai sate kambing, ayah saya kerap membawa saya membeli sate kambing yang istimewa di daerah Ampel, Surabaya. Lalu sewaktu hijrah ke Jakarta, referensi sate saya bertambah dengan sate padang. Berbeda dengan Surabaya, sate padang banyak kita temui di wilayah ibu kota.

IMG_9738

Sore tadi, bakul sate di Cikini Bintaro ini baru saja menggelar perniagaannya, saya termasuk pembeli pertama. Saya baru sempat berkenalan, namanya Sujasmin, pria asal Tanah Merah, Bangkalan, Madura, yang mulai berdagang sate ayam dan kambing di wilayah Bintaro sekitar tahun 2008 – 2009. Setau saya, sebelumnya yang berdagang sate di titik cikini bintaro ini adalah seorang ibu yang lumayan banyak bicara, khas wanita Madura. Rupanya ibu itu adalah istri pak Sujasmin. “Sudah dua tahun mas, saya yang dagang disini, istri saya pindah ke daerah sekolah al azhar Bintaro, di Pondok Betung. Disana lumayan lebih ramai daripada disini….”, begitu tutur pak Sujasmin membuka pembicaraan.

Pak Sujasmin cukup senang mengetahui saya sebagaimana dirinya adalah pendatang dari Timur pulau Jawa. Ia mengatakan “saya berdagang lama di Jakarta, tapi belum punya rumah sendiri sampai sekarang, saya masih ngontrak….”. Ia menuturkan bahwa ia, istri, dan seorang anak perempuannya selama ini bekerja keras berjualan sate, tidak berkeliling, tapi lebih memilih mencari suatu titik tertentu untuk di tempati. “Kalu di cikini ini, saya geser-geser dagangnya, karena terkadang dilarang jualan, apa lagi di siang hari, saya nggak bisa dagang disini…”, begitu kata pak Sujasmin. Meskipun untuk satu titik yang bergeser-geser itu ia harus membayar ongkos keamanan sebesar 200 ribu rupiah kepada oknum petugas keamanan komplek. “Kalau tempat istri saya, hitungannya permanen, saya nyewa gentian dengan tukang bubur, siang ditempati tukang bubur, sore sampai malam istri saya yang dagang disitu”, demikian lanjut Sujasmin.

Setelah berbicara beberapa lama, saya mengetahui jika untung menjual sate ayam dan kambing ini tidak bisa mendapatkan untung yang terlalu besar. Pertama, banyaknya saingan penjual sate yang menjajakan sate berkeliling juga harga bahan baku yang akhir-akhir ini terus melonjak. “Dijual mahal, nggak ada yang beli, dijual murah untungnya pas, malah kadang rugi….”, itu keluhan pak Sujasmin. Sekali kulakan memenuhi dagangannya, Sujasmin membutuhkan modal sekitar 400 ribu hingga 500 ribu rupiah, dengan keuntungan kotor sebesar 600 hingga 700 ribu rupiah. Jadi hanya ada untung bersih sebesar 100 hingga 200 ribu saja. Entah apakah informasi itu benar, atau ia berusaha menutupi keuntungannya. Dalam sehari, Sujasmin menghabiskan dua ekor ayam dan tiga perempat kilo daging kambing untuk bahan satenya. “Tidak terlalu banyak mas, karena waktu jualnya juga terbatas dari jam lima sore sampai jam sebelas malam….kadang saya bagi dua dengan dagangan istri saya…”, demikian kisah pak Sujasmin sambil terus mengipas sate yang saya pesan.

FullSizeRender

Kelemahan dari jualan sate ayam atau kambing ini adalah rentannya bahan daging ayam atau daging kambing jika tidak habis dalam satu malam. Kedua daging itu tentu kurang nikmat disate jika tidak dalam kondisi yang segar. Dengan demikian, pak Sujasmin sangat berhitung untuk menyiapkan bahan daging sate ini. “Saya atur, tidak terlalu banyak beli daging hingga lebih, dikira-kira aja yang penting semalam habis terjual…..kalau nggak begitu, pas nggak habis bisa nggak nutup modal saya….”, demikian kisah pak Sujasmin. Sate saya siap dalam beberapa menit, saya membayar 15 ribu rupiah untuk 10 tusuk sate ayam dan 10 ribu rupiah untuk 5 tusuk sate kambing. Jika kita ingin makan sate dengan lontong, tersedia lontong seharga dua ribu rupiah per lontong. Bumbu sate, saya memilih bumbu kacang, meski tersedia juga bumbu kecap untuk sate kambing.

Demikian kisah penjual sate Madura di Cikini Bintaro. Mereka bekerja keras berjualan sate dari petang hingga malam. Menarik gerobak beberapa ratus meter atau beberapa kilo meter dari rumah kontrakan mereka menuju titik mereka mangkal berjualan. Mereka terus bergeliat, kondisi ekonomi pasang surut, kantong kita kadang mengembang kadang mengempis, tapi hasrat membeli sate Madura selalu ada dari waktu ke waktu. Dengan itu mereka bertahan. Te….Sate……!

 

 

13082016

 

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: