Kerak Telor: Pizzanya Betawi

Selain nasi uduk, kerak telor adalah sajian kuliner betawi yang cukup khas dan terkenal di Indonesia. Sekilas bentuknya seperti martabak telor atau pizza italia, bulat sesuai dengan bentuk wajan. Telor pada makanan ini dijadikan lapisan pembungkus adonan kerak beras ketan, serundeng, ebi rebon, yang kemudian ditaburi bawang goreng. Gurih rasanya menggugah selera dengan pilihan telor bebek atau telor ayam. Jika nasi uduk menjadi menu makanan utama bagi warga betawi, kerak telor adalah jajanan sekunder, untuk pengisi perut di malam hari, setara dengan gorengan atau combro tapi dalam porsi yang besar. Satu porsi kerak telor agaknya cukup untuk dimakan berdua atau bertiga, tapi juga bisa untuk dimakan sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.

IMG_9685

Dahulu, sebelum ramai-ramai kita menyemarakkan budaya dan tradisi Betawi, termasuk budaya kulinernya, susah mendapati pedagang kerak telor kecuali di pasar-pasar kaget atau gelaran hajatan yang banyak mengundang kerumunan orang. Hari ini sudah relative mudah kita mendapati kerak telor, meski jarang, tapi orang sudah mulai menjual kerak telor yang harganya tidak murah bagi saku orang jalanan, orang kebanyakan. Rata-rata harga kerak telor Rp 10 ribu seporsi untuk telor ayam dan Rp 15 ribu untuk telor bebek. Harga itu akan bertambah masing-masing Rp 5 ribu jika kita membeli kerak telor dalam sebuah pasar kaget, pasar malam, atau hajatan lainnya. Untuk ukuran jajan harga itu masih cukup tinggi.

Malam itu, pada acara Lebaran Betawi Tangsel 2016, saya membeli kerak telor dari Bang Ade yang memiliki nama asli Maulana. Ia pemuda asli betawi yang tinggal di daerah Cililitan Jakarta Timur. Selain bekerja di sebuah usaha furniture di siang hari, Maulana atau Bang Ade menjajakan kerak telor dari satu pasar kaget ke pasar kaget lainnya di wilayah Jakarta Timur. Bahkan, jika ada perhelatan atau pagelaran khusus betawi, ia akan datang berjualan meski ke luar wilayah Jakarta Timur. Contohnya malam itu, ia datang dari Cililitan ke Jurangmangu Barat, Pondok Aren di Tangerang Selatan.

 

Saya bertanya kepada Maulana, apa motivasinya berjualan kerak telor? Selain untuk tambahan rezeki, ia ingin melestarikan keberadaan kerak telor dalam ranah kuliner Betawi. “Kalau bukan saya yang orang Betawi, siapa lagi mas yang mau jualan kerak telor?”, begitu Maulana bertutur, meski ia mengakui pada saat ini banyak juga orang Cirebon atau orang Jawa yang juga mulai berjualan kerak telor. Maulana biasanya berdagang bergantian dengan pamannya, yang biasanya berdagang es selendang mayang, persis di sampingnya. “Keluarga saya banyak yang berjualan kuliner betawi, jadi saya mudah saja memulai usaha seperti ini, nggak ribet”, begitu sambung Maulana.

IMG_9681

Kemudian saya bertanya lagi kepada Maulana, berapa besar ia harus mengeluarkan modal untuk berdagang kerak telor? Ia mengatakan, banyak komponen kerak telor seperti kelapa untuk bahan serundeng, ebi rebon, dan terutama telor yang harganya terus berfluktuasi. “Yang kayak begitu itu mas, yang bikin modal terus nambah. Saya sekali ngelengkapi dagangan, telor bebek telor ayam empat susun, serundeng, ebi, ketan, bawang goreng, dan minyak, bisa habis 500 ribu…..”. Dari modal itu, jika beruntung bisa habis dalam satu malam Maulana akan mengantongi pendapatan kotor satu juta tiga ratus ribu rupiah hingga satu juta lima ratus ribu rupiah. Tapi jika belum beruntung, paling lama tiga hari dagangan baru habis dan keuntungan dapat diperoleh. Bagi para pedagang kerak telor, kondisi bahan pembuat kerak telor cukup awet bertahan selama beberapa hari. “Jadi, kalau masih nyisa bahan, sampai tiga atau lima hari masih aman mas…..masih bagus dikonsumsi, nggak basi!” begitu tutur Maulana.

IMG_9686

Selama beberapa menit menunggu Maulana menyiapkan kerak telor, saya cukup asyik menyaksikan bagaimana proses pembuatan jajanan itu berlangsung. Ingin sesekali mencoba membuat kerak telor. Dan akhirnya waktunya tiba, kerak telor yang gurih hangat telah siap untuk saya santap. Nikmat!

12082016

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: