Putu: Tuuuut…..Tuuuut…!

Penjual makanan yang satu ini, tidak perlu berteriak menyebutkan apa yang dijualnya. Cukup bermodal sumbu api yang menyembulkan suara mirip seruling “tuuuuuuuut….” memecah kesunyian malam, kita akan tau apa makanan yang ia jajakan. Cukup khas bukan? Putu!

IMG_9670

Saya tak tau persis dari mana jajan pasar ini berasal, tapi kita bisa menjumpainya di sejumlah daerah di wilayah Jawa. Di kampong halaman saya di Surabaya, putu bisa saya temui. Dulu waktu nyantri di Gontor, putu adalah salah satu jajanan favorit di malam hari yang cukup terlarang. Pondok tidak menjualnya, jadi kami harus sembunyi-sembunyi  jika harus membeli putu atau memakannya sekalipun. Putu bagi santri gontor, pada masa saya, seperti ganja atau morfin yang dilarang peredarannya.

Malam, ini suara “tuuuuut…….” Itu melewati rumah saya. “Putu….! begitu saya memekik memanggil dari dalam rumah. Suara yang mulanya menjauh, kembali mendekat. Di depan pagar suara itu semakin nyaring lalu terhenti dan si pedagang, laki-laki tinggi kurus berkulit liat, bertanya kepada saya “beli berapa mas? Seribuan…..putu aja atau campur klepon?”. Saya memutuskan membeli tujuh ribu rupiah, empat putu dan tiga klepon. Mas Iman, begitu si penjual memperkenalkan namanya, segera meracik adonan putu dalam batang bambu yang kopong berukuran 5 cm, lalu membariskannya di atas blek kaleng minyak bentuk kotak berisi air yang mendidih, beberapa kejap putu telah siap!

Saya bertanya, kepada Iman? Sudah berapa lama ia berjualan putu dan klepon di wilayah Bintaro. Ia bilang sejak putu berharga 200 rupiah per butir hingga saat ini seribu rupiah per butir. Ia tak ingat tahun, tapi terangnya pada saat kerusuhan Jakarta 1998 ia telah berada di kawasan daerah sawah baru ciputat dan sudah mulai berjualan putu. “saya lulus sd nggak sekolah, terus jualan putu mas….sampai sekarang, dari mulai pake pikulan, lalu menggunakan gerobak dorong, terus sekarang gerobak sepeda…”, begitu kata Iman, pemuda asal kebumen penjual putu.

IMG_9672

Hampir 20 tahun sudah, Iman berjualan putu, setiap hari menjajakan putu di wilayah bintaro dari sore jam 3 hingga berakhir pada malam hari jam 9 atau 10 malam. Iman mengatakan bahwa setiap hari 3,5 kilo tepung beras peranya akan habis terjual berupa putu, dan 2,5 kilo keleponnya juga selalu habis terjual. “ini bulan kapid mas, sebentar lagi orang berangkat haji, biasanya agak lama waktu jualan saya, jam 10 malam, susah nyari pembeli. Tapi kalu pas desember atau januari, pas hujan hujan gitu, jam 8 malam saya sudah pulang, putu habis terjual…..”, begitu cerita Iman. Rupanya, musim hujan —yang kini — tak menentu kapan datangnya, malah banyak membawa rejeki buat dirinya. Orang banyak membeli putu, tatkala musim hujan. “apalagi kalau pas gerimis rintik, orang banyak beli putu, tau kenapa, pingin jajan karena dingin atau kasihan ya sama penjualnya…..”, begitu Iman berkelakar.

IMG_9671

Saya senang sekali, melihat orang-orang seperti  Iman, penjual putu, masih bisa berkelakar dengan lepas. Meski rejeki hanya pas pas saja, ia tetap bekerja keras. Seratus tujuh puluh ribu modal yang ia keluarkan untuk berniaga putu, pada malam hari akan tumbuh menjadi tiga ratus atau tiga ratus lima puluh ribu. “Itu keuntungan kotor saya mas, dan nahan nggak ngerokok, kalu saya dagang sambil merokok, bisa lain lagi untungnya”, begitu Iman berterus terang. Dalam hitungan 10 menit, putu dan klepon saya sudah siap, perbincangan singkat saya berakhir, dan Iman kembali membuka penutup bahtera kecilnya, dan tuuuut……..gerobak putu kembali melaju…..”

04082016

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: