Tahu Bulat Lima Ratuuuuus

Taaaaahu bulat…..

Diiiigoreng

Daaaadakan

Lima ratuuuuussss….

Anget anget…..

Begitulah jingle yang kerap berkumandang di jalanan Jakarta, masuk ke kampong kampong, menelusuri komplek komplek, bakul tahu mengendarai mobil perlahan menarik perhatian dengan jinglenya. Bahkan saking uniknya, beberapa penggiat media sosial mulai membuat meme tentang tahu bulat, membuat tahu itu semakin popular untuk saat ini.

Siang tadi, jingle yang sama berkumandang di komplek perumahan saya. Suara mobil terdengar menyisir perlahan. Tak lama saya menyusul ke luar rumah, memburu asal muasal suara. Terlihat di tengah komplek yang sepi, mobil Colt 120 SS warna putih yang menjadi ciri khasnya dikerumuni beberapa anak kecil dan ibu ibu rumah tangga. Ada yang membeli, ada yang hanya menyaksikan bagaimana atraksi yang diperagakan penjual, menggoreng tahu tahu bulat di wajan panas lalu mengangkatnya, mengolahnya dalam bungkus-bungkus plastic yang diingini pembeli. Ada rasa pedas, ada rasa asin biasa, harganya seperti dikumandangkan lima ratus rupiah untuk setiap butir tahu.

Saya ujug ujug tersenyum di hadapan pak Aji, pria asal Pangandaran yang menggoreng tahu tahu bulat, panas, meletup letup….”ini tahu bulat, dalamnya kopong pak…..nggak ada beda dengan tahu lain, cuman bentuknya bulat”, begitu kata pak Aji, memulai pembicaraan dengan saya. Disamping pak Aji ada seorang perempuan ramah, Novi namanya, sambal terus meladeni pembeli juga ikut ambil bagian dalam pembicaraan. “silahkan pak, dicoba….”, begitu katanya dengan ramah. “oh, terima kasih saya akan membelinya nanti….”, begitu jawab saya menjawab keramahan itu.

Sambil terus mengamati Aji menggoreng tahu-tahu bulat itu saya terus melontarkan beberapa pertanyaan. Hebatnya Aji dan Novi menjawab semua pertanyaan saya dengan penuh semangat, seolah ingin berpromosi. Pertama, saya bertanya tentang jingle, siapa gerangan yang menciptakan?

Tahu buuuuulat…..

Diiiigoreng…..

Liima ratusss….

Dst…..

Lirik dalam jingle yang sederhana itu seolah menjadi sihir yang menyulap seketika tahu bulat menjadi digemari banyak orang. Pak Aji menarangkan bahwa kebetulan yang menciptakan jingle itu dan sekaligus merekam suaranya untuk dikumandangkan berkeliling adalah Pak Toto, pemilik grup penjual tahu bulat di wilayah Jombang, Ciputat. Suara dan intonasinya yang khas menjadi ciri khas penjual tahu bulat di seantero Jabotabek. “pernah file suara itu terhapus dan saya berusaha menggantinya dengan rekaman suara yang sama sekali baru, eh….ternyata tahu bulat saya tidak laku, tidak ada pembeli yang tertarik untuk mendekat…”, begitu kisah pak Aji sambal terkekeh.

Aji dan Novi secara bergantian menuturkan kepada saya, bahwa mulanya usaha tahu bulat ini beroperasi tiga atau empat tahun yang lalu di wilayah Taman Mini Indonesia Indah, Cililitan, Jakarta Timur dan sekitarnya. Taufik (Ovik) seorang pria dari Tasikmalaya yang memulai bisnisnya, lalu diikuti oleh beberapa orang lainnya yang membentuk semacam grup  pedagang tahu bulat dengan ciri khas yang sama, ada grup Mustika, ada grup Kharisma, untuk menandai bahwa mereka masih terhubung dengan Taufik, sang pemula penjual tahu bulat di Jakarta. Pada saat ini di wilayah Jombang, Ciputat terdapat 15 armada mobil colt penjual tahu yang dikepalai oleh Toto. Sementara itu di Jakarta Timur terdapat sekitar 27 armada, di Bekasi ada beberapa Armada, dan di Lampung juga beredar 21 armada tahu bulat.

Aji dan Novi adalah tenaga yang menjalankan usaha tahu bulat milik owner seperti Toto dan Taufik. Para owner ini menyewakan mobil colt, membekali 5000 butir tahu, dan menyediakan peralatan lainnya untuk menjual tahu bulat. Aji dan Novi membayar sewa mobil colt itu 100 ribu rupiah perhari, belum termasuk bensin. Selanjutnya mereka menjual tiap butir tahu seharga 500 rupiah dengan keuntungan 200 rupiah tiap butir tahu. Lumayan kata mereka, jika 5000 butir tahu ludes dalam sehari mereka akan mengantongi keuntungan kotor sebesar  1 juta rupiah dalam sehari!

Lalu dari mana datangnya tahu-tahu bulat itu? Sang owner Taufik yang mengusahaka pasokan tahu-tahu dari Ciamis ke Jakarta dan Lampung. Hampir setiap hari Taufik mendatangkan puluhan ribu butir tahu dari Ciamis! Puluhan butir tahu itu dititipkan melalui sejumlah armada bus dari Ciamis yang setiap saat melaju hilir mudik  dari Ciamis ke beberapa terminal di Jakarta. Dari terminal itulah, tahu-tahu bulat mengalir ke grup grup tahu yang beredar di masing-masing wilayah.

Akhirnya, saya bertanya kepada Aji, pertanyaan klise, apakah ia menikmati profesinya sebagai penjual tahu bulat? Dengan senyum sumringah, ia mengatakan bahwa dirinya merasa beruntung bisa bergabung dalam grup penjual tahu. Sejak dua tahun lalu, Aji meninggalkan profesinya sebagai sopir truk yang beroperasi di wilayah Jawa. “Kalau berjualan tahu bulat pak, saya punya jadwal yang jelas. Jam delapan pagi keluar berjualan dan pada jam enam sore menjelang petang sudah kembali ke basecamp untuk beristirahat. Lain dengan sopir truk, saya hidup di atas jalan raya…..”, begitu jawaban Aji. Dan jawaban yang sama saya peroleh dari Novi, partner Aji berjualan tahu.

Itulah tahu bulat, suatu inovasi bangsa kita, menjual tahu, meski tahu biasa, tapi bukan hanya sekedar tahu, tapi …..

Taaaaahu bulat…..

Diiiigoreng

Daaaadakan

Lima ratuuuuussss….

Anget anget…..

30072016

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: