Bakul Bubur Ayam

Maqsudi, namanya. Usianya kurang lebih 60 tahun berpeci haji khas haji sullam tukang bubur dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang ngehits dan menjadi role model para tukang bubur. Tukang bubur yang alim dan selalu bersyukur. Demikian pula dengan pak Maqsudi, sesaat setelah menyajikan bubur ayam kepada saya, dia tampak berbincang dengan sejawatnya, tukang kue pancong, yang berkeluh kesah tentang penghasian yang semakin seret. Sayup terdengar pak Maqsudi menasehatinya, supaya temannya itu bersyukur dengan penghasilan yang ia terima. Tak lama, nasehat menasehati itu terhenti, karena ada pembeli kue pancong yang menginterupsi. Nah, saatnya saya beraksi.

IMG_9643

“Tetangga atau teman sekampung pak?”, tanya saya kepada pak Maqsudi. “oh itu, sama-sama orang Pemalang (suatu daerah di Jawa Tengah), tetangga desa. Di sini banyak orang Pemalang. Yang jualan bubur ayam juga banyak orang Pemalang…..Cirebon cuman sedikit..!” begitu jelas Pak Maqsudi langsung nyambung ke urusan bubur ayam yang ia jual. Saya kembali bertanya “jadi ini bubur ayam Pemalang? bukan Cirebon? Setau saya bubur ayam banyak yang berlabel bubur ayam Cirebon atau Tasikmalaya?” Pak Maqsudi menjawab” iya, ada bubur ayam Cirebon, tapi yang ini bubur ayam Pemalang, saya orang Pemalang, saudara-saudara saya semua disini jualan bubur ayam, anak saya juga ikutan jual bubur ayam”. Lantas ia menyambungya dengan informasi beberapa tempat di sekitar Bintaro, dimana keluarga dan putranya juga berjualan bubur ayam.

Pagi yang terik ini, saya terhitung telat sarapan, tapi itulah kebiasaan saya, telat sarapan. Pukul delapan pagi saya segera saja melahap semangkok bubur ayam plus sate ati ampela, karena sate usus dan sate telor puyuh sudah ludes oleh pembeli pagi tadi. Jam enam pagi gerobak bubur ayam pak Maqsudi sudah terparkir rapi di pinggir pintu komplek Cikini, Bintaro. Sejenak terlihat kerumunan pembeli, yaitu warga sekitar yang antre sarapan. Sejenak kemudian kerumunan menghilang. Meski demikian, kata Maqsudi, asal hari cerah tidak hujan, bubur ayam akan habis terjual pada pukul 11 siang. Dan itu saatnya pak Maqsudi untuk pulang. “Lumayan, mas. Alhamdulillah, pulang kadang bawa uang pas, pas dengan modal, kadang lebih sedikit, kadang juga banyak….”. Pak Maqsudi kemudian menjawab pertanyaan saya, bahwa modal yang ia keluarkan untuk menyiapkan tiga liter bubur ayam lengkap dengan segala komponennya, sekitar 400 ribu Rupiah. Jika untung, ia akan membawa pulang 500 ribu Rupiah atau 600 ribu Rupiah dalam sekali perniagaan bubur ayam. Jadi untungnya sekitar 100 ribu hingga 200 ribu untuk harga semangkok bubur ayam delapan ribu rupiah dan  setusuk sate dua ribu rupiah, air minum gratis!

Bubur ayam adalah sarapan khas wilayah urban Jakarta, selain terdapat pula nasi uduk dan lontong sayur yang juga menjamur pada banyak titik di perkampungan atau jalan-jalan ibu kota Jakarta. Jika diperhatikan ada jadwal tertentu untuk menu sarapan di pagi hari ini, ada nasi uduk, ketan sambal, dan gorengan di pagi hari, menyusul lontong sayur dan bubur ayam, menyusul jamu gendong, menyusul ketoprak, baru bakso dan yang serupa muncul pada pagi istirahat pertama sekolah hingga menjelang siang hingga malam.

Membahas menu makanan dari pagi hingga siang lanjut sore ke malam di wilayah Jakarta tak akan ada habisnya. Dan bubur ayam adalah pilihan tepat bagi orang-orang yang ingin sarapan ringan setengah berat, hingga dua atau tiga jam kemudian merasa lapar lagi dan makan lagi. Demikianlah, bagi saya bubur itu sarapan ringan, tidak begah tidak terlalu berat, dan rasa kenyangnya tidak permanen. Demikian halnya dengan pak Maqsudi, bakul bubur ayam itu, menurut pengakuannya ia menikmati menjual bubur di pagi hari, hidup berjalan normal, bekerja mulai dini hari, bersiap di pagi hari dan beristirahat pada siang hari.

“Saya dulu masuk Jakarta, tahun 1982 mas…..mulai dagang nasi goreng di wilayah Tegal Alur. Saya cukup lama berdagang nasi goreng, lalu saya tak tahan karena harus berdagang keliling di malam hari. Saya sering masuk angin….” Keluhan serupa “masuk angin” tampaknya dibenarkan oleh para pedagang lainnya. Mereka lebih memilih berdagang di waktu pagi dan siang dibandingkan berdagang di malam hari. Berdagang di malam hari dengan cuaca yang cerah saja membutuhkan stamina prima, apalagi berdagang di malam hari dan cuaca sedang tak bersahabat? Tentunya stamina harus luar biasa prima, semangat harus benar-benar tangguh.

Pak Maqsudi mulai berjualan bubur ayam di Bintaro sejak 1999, ia hijrah dari daerah Srengseng Jakarta Barat ke Jurangmangu pinggiran Bintaro. mulanya ia menjajakan bubur ayam berkeliling. seiring bertambah usia ia cukup menjualnya dengan mangkal di pingiran komplek.  Menjajakan barang dagangan satu liter dua liter atau tiga liter di tengah persaingan yang semakin banyak tentu tak mudah. Orang-orang seperti pak Maqsudi, penjual bubur ayam itu tentu ingin  membuktikan, bahwa mereka bukan pemalas, dan mereka terus bersyukur……kali aja nasib mereka semujur nasib haji sullam penjual bubur dalam sinetron itu!

29072016

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: