Penjual Ketoprak

Yanto namanya, usianya 60 an tahun, berasal dari Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Sejak 1997 ia bersama keluarga datang ke Jakarta mencari penghidupan yang lebih baik di ibu kota. Akhirnya ia menetap di wilayah Jurangmangu Barat, yang kala itu adalah pinggiran selatan Jakarta yang berbatasan dengan kawasan perumahan Bintaro Jaya. Sejak itu pula Yanto memutuskan untuk mencari nafkah dari jualan ketoprak, makanan dengan bahan lontong dari daerah Jawa Tengah, yang rasa dan penampakannya mirip karedok atau gado-gado.

IMG_9635

“Saya jualan ketoprak dari tahun 1997, dari harga ketoprak sepiring 400 rupiah sekarang 12 ribu rupiah!’, begitu tukas pak Yanto kepada saya. “Harga-harga terus melonjak tinggi mas, bahan-bahan naik, saya dapat untung tak seberapa, cuma cukup buat makan sehari-hari”, begitu pak Yanto melanjutkan keluh kesahnya. Dalam sekali perniagaan ketoprak, Yanto bermodal 200 ribu rupiah untuk belanja bahan-bahan seperti beras untuk lontong, toge,  tahu, bumbu kacang, dan bumbu dapur lainnya. Dari modal tersebut, biasanya paling banter pak Yanto akan mendapatkan 300 ribu rupiah, sehingga keuntungan bersih yang ia dapatkan adalah 100 ribu rupiah.

“Dari hasil seratus ribu itu mas, saya gunakan untuk makan, merokok, dan menabung untuk membayar sewa kontrakan tiap bulan. Saya belasan tahun merantau di Jakarta, belum punya rumah”, begitu Yanto membuat semacam laporan keuangan kepada saya. Matanya menerawang bangunan rumah megah di seberang rombong ketopraknya, yang mungkin rumah itu berharga miliaran Rupiah.

Ya begitulah, banyak Yanto-Yanto lainnya yang bertahan hidup di negeri ini, tak kenal lelah, bukan pemalas, bukan peminta. Mereka berkejaran dengan hidup yang besaran biayanya  semakin tak terkejar. Saya bertanya kepada pak Yanto bagaimana dengan nasib anak-anaknya? Ia menjawab “anak-anak saya sudah pada menikah, tapi belum bisa saya andalkan untuk menopang hidup, mereka masih berjuang sendiri-sendiri mempertahankan hidupnya”. “Saya dan istri ingin mandiri mas….” begitu lanjutnya.

IMG_9636

Dalam rangka ingin hidup mandiri itu, Yanto yang telah berusia pension masih rela pergi ke pasar pada dini hari, memasak pada pagi hari, dan keluar rumah menjual ketoprak dari jam tujuh pagi hingga jam dua siang, jika perniagaannya laris, dan kadang hingga petang jika pembeli jarang yang menghampiri. “Asalkan tidak hujan, pas jam makan siang cuaca cerah, ketoprak saya pasti laku mas….Jika cuaca tidak mendukung, ya sudah pasrah saja…”, cerita pak Yanto kepada saya.

Demikian sepenggal kisah Penjual Ketoprak di pinggiran Jakarta.

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: