Soto Gebraak dan Nasi Gandul

IMG_7247 IMG_7339

Dua duanya berkuah, yang soto kadang bersantan kadang jernih, rasanya gurih. Sedang yang gandul bersantan, rasanya manis gurih dan disajikan dengan piring menggunakan alas daun pisang. Soto banyak variannya, tapi Gandul hanya satu macam, sehingga disebut Nasi Gandul Khas Pati. Sedang Soto banyak nama yang mengikutinya, soto madura, soto lamongan, soto padang, soto betawi, soto kuning, soto semarang, sroto sokaraja, coto Makassar, banyak sekali. Konon soto mulanya adalah masakan china, selalu ada so’un yang menyertai kuahnya dan irisan dagingnya.

Soto Gebraak kategorinya soto Madura, yang khas darinya tukang soto akan menghempaskan botol kecap sekeras mungkin hingga terdengar suara “gebraaak” dan kita pembeli kadang kaget dibuatnya, pas lapar kadang bete dibuatnya….itulah ciri khas soto Madura yang disajikan oleh Cak Anton pemiliknya. Saya pernah ketemu belia, waktu mampir di warung sotonya di bilangan Casablanka, dulu sekali. Selebihnya, wajah Cak Anton akan terpampang di dinding warung sotonya, bersama comedian Mamik Prakoso, Krisdayanti dan seleb seleb lainnya. Fotonya itu itu saja, di Depok dan di BSD, foto yang terpampang juga itu itu saja. Tapi tak apa yang penting rasa sotonya  pas di lidah saya.

IMG_7249IMG_7246IMG_7248

Dari sekian banyak varian soto, saya menyukai soto daging sapi dengan kuah yang agak pekat, tapi bukan pekat santan seperti soto betawi. Soto Gebraak yang saya sukai adalag soto daging campur nasi yang mirip dengan soto yang biasa saya santap pada masa kecil saya di Surabaya. Kala itu soto Madura yang saya nanti itu cukup istimewa, satu mangkok 300 rupiah, harganya setara dengan satu bungkus nasi pecil, padahal harga bakso satu mangkok kala itu masih 100 rupiah. Jadi lumayan mahal untuk kantong bocah kecil yang doyan jajan. Saya harus merayu nenek saya untuk mendapatkan uang untuk membeli soto. Setelah berhasil mendapatkan uang, perjuangan berikutnya adalah menanti bakul soto yang mendorong gerobaknya, jangan-jangan ia tidak melewati kampong saya, tapi nyasar ke kampong sebelah dan ludes dagangannya di kampong itu.

Begitu cintanya saya kepada soto daging Madura di pagi hari itu, hingga saya merindukan rasanya hingga dewasa dan tidak lagi muda. Rasa soto yang saya rindu itu saya temukan padanannya pada Soto Gebraak milik Cak Anton. Itulah kala rindu kepada soto daging muncul, saya bergegas ke Depok atau ke BSD dan menuju warung Soto Gebraak. Satu mangkok soto daging campur nasi, satu tusuk sate usus, emping kriuk, dan es teh tawar, begitu lezatnya dan dapat memenuhi selera.

Lalu bagaimana dengan nasi gandul? Kenapa nasi ini dinamai gandul? Kisahnya hampir serupa dengan kisah lontong balap. Nasi gandul dijual di wilayah Pati, dengan penjual yang memikul barang dagangannya menggunakan pikulan kayu dengan dua bakul yang saling bergandulan di ujung-ujung pikulan. Gondal gandul begitu kelihatannya, sehingga orang sebut Nasi Gandul, sego gandul….sama dengan lontong balap bukan? Bedanya di Surabaya orang menyebut itu balapan antara bakul dengan pikulan, sedang orang Pati menggambarkannya itu pikulan yang gondal gandul….

IMG_7335IMG_7340

Saya mengenal nasi gandul dari salah seorang kawan yang aseli Pati. Ia sempat membuka warung nasi gandul di area dekat rumah kami, sayang warung itu tidak bertahan. Klise memang, usaha kecil seperti warung nasi itu membutuhkan tenaga sumber daya manusia yang tidak sedikit. Jadi terkadang keuntungan tidak bisa menutupi biaya produksi terutama untuk mengadakan sumber daya manusia yang hari-hari ini tentu tak mau dibayar murah…..itu problem yang ditemui oleh hampir semua pengusaha warungan.

Soto dan Nasi Gandul sama-sama unik dan menarik. Menyantap  keduanya seperti menyantap sejarah dan persahabatan. Sejarah rasa masa kecil yang terus terbawa hingga masa dewasa. Persahabatan kita dengan rasa dan masa yang ternyata sudah terlampau maju ke depan. Dulu 300 rupiah hari ini 15 ribu rupiah. Bayangkan! Waktu berjalan seiring dengan harga yang berlipat-lipat ganda. Hidup tak semudah dahulu, tak sesederhana masa lalu. Begitulah hidup, semua ada harganya dan semua kenikmatan harus kita tebus dengan angka-angka. Nikmatilah!

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: