Gaza dan Musa

Image

Pagi tadi aku membaca Surah Ibrahim. Ada nama Musa. Membuatku teringat akan Gaza. Siapakah Musa? Ia adalah seorang nabi yang perkasa yang diutus Tuhan untuk membawa Israel keluar dari penindasan Raja Diraja Fir’aun, penguasa Mesir. Musa tak pandai bercakap, meski ketegasan sikapnya, keberaniannya tak ada duanya di dunia. Lidahnya serasa kelu, penuh tetelor apabila ia berbicara. Maka ia meninta Harun sebagai pendampingya untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, menuju tanah yang dijanjikan, yaitu Palestina.

Pagi tadi dalam surah Ibrahim itu, saya membaca firman Allah “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” Lalu Ia mengirim Musa kepada Israel, karena Ia tau bahwa hanya Musa-lah yang mampu memimpin bangsa Israel itu. Atau Ia menjadikan manusia Musa yang cakap dan mampu untuk memimpin bangsa Israel itu. Meski Musa tak pernah sampai menghantarkan mereka ke tanah yang dijanjikan. Toh, akhirnya bangsa Israel hingga hari ini masih berusaha keras untuk kembali ke tanah yang dijanjikan itu. Mereka ingin kembali ke Palestina! Masih ingin kembali.

Pagi tadi saya jadi teringat Gaza. Entah jalur, entah kota, entah apa itu Gaza, saya tak peduli. Telinga ini telah ribuan kali mendengarnya. Sejak zaman televisi hitam putih, sejak zaman Dunia dalam Berita kita simak secara serempak tepat pukul sembilan malam, sejak saat itu kita selalu melihat Gaza berlumuran darah, Gaza penuh dengan asap putih, orang-orang bersorban melempar batu sambil teriak, lalu tentara membalasnya dengan letupan senapan, ibu menangis, anak merintih, ambulance berlari kencang, tak ada habis-habisnya Gaza.

Gaza seperti arti namanya, benteng, yang kuat, memang benar-benar kuat. Benar-benar benteng dari segala perang, perang yang tak kunjung usai, balas membalas, hingga sudah menjadi kabur, siapa menyerang siapa, karena apa, sebab apa. Semua pihak berbalas alasan, berbalas argumen yang tak ada habis-habisnya seperti juga roket mereka,amunisi mereka yang sia-sia menebus nyawa orang-orang tak berdosa.

Pagi tadi, seperti kemaren-kemaren. Saya sudah tak ingin tau lagi siapa punya salah apa. Bagaimana hikayat perang antar mereka. Siapa yang lebih kejam dan lebih biadab diantara mereka. Saya sungguh tak ingin tau lagi. Yang saya ingin benar-benar tau sekarang adalah bagaimana perang itu berhenti di Gaza, bagaimana darah dan tangis itu tak lagi mengucur di Gaza, bagaimana asap tebal itu, batu-batu itu, peluru-peluru itu, roket-roket itu tak lagi membumbung tinggi di angkasa Gaza.

Gaza, akankah kamu membutuhkan Musa? Israel apakah kalian masih membutuhkan Musa? Inikah dosa turunan yang dibuat Musa yang tak pernah menyampaikan kalian kepada tanah yang dijanjikan? Maka hingga hari ini kalian ingin merebutnya sendiri? Masih berlaku  kah janji itu bagi kalian? Masih berkobarkah semangat kembali ke ltanah perjanjian itu dalam hati kalian? Hingga dengan cara apa saja kalian ingin sampai kepadanya?

Musa, menjelmalah kembali. Bangkitlah dari kematian sejarah mu. Kami membutuhkan manusia tegas dan pemberani seperti engkau. Bawalah serta Harun, saudaramu itu. Agar ia mengajari kami bagaimana cara bersilat lidah yang santun, bersilat lidah dengan penuh keadaban. Hari-hari ini kami telah kehilangan itu semua. Kami telah kehilangan ketegasan dan keberanian yang santun dan beradab. Kami hanya mengingat sepotong-sepotong saja. Kami hanya mau meneladani sebagian saja. Kami selalu mengingat kemenangan dan kekalahan Perang Salib. Tapi tak menghiraukan kenapa menang?kenapa kalah? Kenapa perang? Kenapa perang? Kenapa perang? Kami terbuai romantisme yang palsu.

 

Gaza, kuatkan dirimu.  Semoga Musa akan segera tiba.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: