Madura dulu dan sekarang

Ango’an poteya tolang etembang poteya mata”, demikianlah salah satu prinsip hidup yang digunakan oleh orang Madura pada umumnya. Kalimat peribahasa itu secara harfiah berarti “lebih baik berputih tulang daripada berputih mata” yang kemudian dipahami dengan makna “lebih baik mati daripada menanggung rasa malu”. Tapi berputih tulang atau mati ala Madura, bukan mati ala Jepang dengan harakiri menghujamkan pedang atau pisau menyayat lambung untuk menghabisi nyawa sendiri atau membiarkan musuh yang dihormati memenggal kepala kita sebagaimana dilakukan para Samurai. Mati ala Madura, setau saya, adalah mati dengan menempuh jalan terhormat melalui pertarungan terbuka dengan menggunakan celurit (arit), benda kesayangan milik laki-laki Madura.

Seperti para cowboy di Amerika yang beradu ketangkasan dalam menembak satu sama lain secara berhadap-hadapan, laki-laki Madura saling mengobarkan celurit melumpuhkan satu sama lain, mereka menamai cara itu sebagai carok. Biasanya persoalan kehormatan atau persoalan malu yang harus diselesaikan dengan carok itu bersumber pada perempuan. Perempuan selingkuh atau diselingkuhi, lelaki cemburu, penghormatan terusik, dan carok pun menjadi jalan penentu. Atau si perempuan merasa tersinggung dilecehkan, mengadu kepada si suami, lalu menuntut balas dengan mengajak duel dengan carok.

Saya baru saja pulang dari Madura, tak jauh, hanya di Bangakalan, beberapa belas kilometer dari pelabuhan Kamal. Di kota pintu menuju pulau Madura itu, istri saya mempunyai seorang kakek dan bibi yang mendiami rumah keluarga yang sudah sunyi senyap.Sejak 2008 tiap tahun saya rutin mengunjungi Madura, dan saya berpendapat secara selintas Madura tak banyak berubah. Antara Kamal dan Bangkalan, seingat saya sejak tahun-tahun terakhir kunjungan saya pada akhir 1990an hingga 2008 itu masih begitu-begitu saja, sepanjang jalan masih banyak lahan kosong, sawah atau ladang yang kering kerontang, dengan diselingi rumah berkapur putih dan satu dua toko atau kios. Jalanan masih relatif lengang, sehingga sopir-sopir colt angkutan kota Madura bisa seenaknya berkejaran satu sama lain, melaju kencang menerpa angin jalanan Madura yang cukup panas.

Kondisi yang tak berubah itu menggelitik saya apakah tulisan Ellie Touwen-Bouwsma dalam Madoera, het Sicilie van Java? yang mengutip Over Madoereezen en Grauwe Theorie, Java Post (1922) itu masih relevan untuk menggambarkan orang Madura pada hari ini. Bouwsma menuliskan sebagai berikut :

“Orang Madura dan pisaunya adalah satu; tangannya selalu siap untuk merampas dan memotong. Dia sudah terlatih untuk menggunakan segala macam senjata, tetapi paling ahli dalam menggunakan arit (…). Tanpa arit ini dia tidak lengkap, hanya setengah laki-laki, orang liar yang sudah dijinakkan.”

Image

Itu adalah gambaran orang pada umumunya tentang masyarakat Madura pada awal abad ke 20. Orang Madura dianggap sebagai orang berbahaya bagi masyarakat luas. Hingga pada akhir 1970 an, gambaran tentang masyarakat Madura sebagai orang yang berbahaya dan daratan mereka sebagai tempat yang tidak aman masih melekat dalam benak masyarakat luas. Stereotip orang Madura yang cepat marah dan yang cepat siap untuk membunuh lawannya, hidup dengan kuat diantara orang bukan Madura? Bagaimana dengan saat ini? Terus terang saya juga masih ngeri-ngeri asyik setiap kali menaiki angkutan umum dari Kamal menuju Bangkalan. Setelah saya sadari, kengerian saya sebagian besar datang dari ketidak-mengertian saya tentang bahasa mereka, dan prejudice etnic yang melekat dalam benak saya tentang liarnya orang-orang Madura yang kerap berbuat onar dan melakukan tindakan kriminal (untuk mengkonfirmasi hal semacam ini, pegilah ke Surabaya, maka cerita seputar keonaran dan kriminalitas orang-orang Madura akan mudah terdengar). Hingga saat ini, ketika jembatan Suramadu telah dibentangkan di atas selat Madura, ada suatu daerah yang bernama Labeng, yang dikatakan masih cukup rawan bagi para pelawat dari luar Madura, terutama di malam hari. Konon pada awal beroperasinya Suramadu, para teknisi jembatan Suramadu yang berkebangsaan Korea, sempat merasa terheran-heran, karena hampir tiap hari mereka kehilangan pernik-pernik komponen jembatan yang terbuat dari besi. Begitulah kabar yang saya dengar dari beberapa orang di Surabaya.

********

Adapun soal marah-marah, memang demikian kenyataan yang kita dapati hingga saat ini, tentu tidak sebrutal yang digambarkan, tapi orang Madura memang pada umumnya cukup temperamental, tidak mudah menurut, keras kepala, meski beberapa diantara mereka terkadang lucu dan jenaka karena pikiran dan perkataan mereka yang spontan dan polos. Perlu upaya dan kelihaian lebih untuk dapat menaklukkan orang Madura. Terkadang kepolosan mereka, yang kemudian cenderung menjadi jenaka, juga harus kita hadapi dengan kepolosan dan kejenakaan yang serupa. Singkatnya kita harus pandai-pandai bermuslihat guna menghadapi orang Madura yang terkenal keras dan temperamental itu. Sebagaimana umum kita ketahui, pada batas tertentu sikap keras jangan dilawan dengan keras, sikap kasar jangan dilawan dengan halus. Demikian halnya yang lucu, jenaka, dan menggelikan juga harus kita lawan dengan sikap yang serupa.

Terkait kelucuan dan kejenakaan itu, pada masa lalu, dalam dunia komedi kita, figure lucu dan jenaka orang Madura yang spontan dan polos dapat kita lihat dalam diri pelawak Kadir yang berduet dengan Doyok. Kadir hingga saat ini masih eksis dalam dunia lawakan bersama kelompok Srimulat. Rasanya kelucuan dan kejenakaan Kadir juga bisa kita sandingkan dengan sosok Bu’ Bariyah. Awalnya Bu’ Bariyah adalah tokoh boneka dalam serial si Unyil yang menjadi penjual rujak di kawasan desa Sukamaju, desa si Unyil. Kemudian, karena beberapa kata yang sering diucapkannya (ta’ iye’, boh abo nak kanak…) cukup khas dan diingat dengan baik oleh banyak pemirsa TV, figure Bu’ Bariyah akhirnya muncul dalam versi aslinya, sebagaimana figure Pak Raden dan Pak Ogah. Selain Kadir dan Bu’ Bariyah boleh jadi masih banyak lagi orang Madura yang keluar dari steorotip umum liar dan sangar sebagaimana digambarkan dalam Over Madoereezen en Grauwe Theorie, Java Post (1922).

Selain sebagai komedian, banyak orang Madura yang berperan menonjol dalam pentas nasional, baik sebagai pemimpin birokrasi, pengusaha, ekonom, tentara, bahkan penyair dan seniman. Dahulu kita mengenal Abdurrahman Saleh sebagai pahlawan kemerdekaan yang namanya diabadikan sebagai bandara udara di Malang, sebab ia adalah seorang penerbang pertama RI. Lalu ada Mohammad Noer, gubernur Jawa Timur yang cukup disegani dan kepemimpinannya menjadi legenda di wilayah itu. Beberapa tahun terakhir ini dalam kancah politik nasional sosok unik orang Madura kembali kita temui dalam figur Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi RI. Presiden Abdurrahman Wahid adalah orang yang menemukan Mahfud dan mendapuknya sebagai Menteri Pertahanan pada masa kepemimpinannya. Waktu itu, hebat sekali pikir saya, seorang Menhan yang untuk pertama kalinya dijabat oleh seorang sipil adalah orang Madura. Sepeninggal Pak Dur, hingga hari ini Mahfud MD cukup mempunyai peranan penting dalam dunia perpolitikan nasional. Kabarnya, beberapa kalangan mulai mendorong Mahfud  untuk mencalonkan diri sebagai Presiden RI periode mendatang.

Selain Mahfud MD dalam dunia birokrasi nasional Indonesia, kita juga pernah mengenal Jenderal TNI R Hartono yang cukup berperan pada pemerintahan Presiden Suharto, lalu ada juga Rachmat Saleh, Gubernur Bank Indonesia yang cukup disegani dan salah satu arsitek ekonomi Orde Baru itu yang ternyata juga orang Madura. Untuk penyair kita mengenal Zawawi Imron sebagai orang Madura yang melahirkan berbagai puisi dan lirik bernuansa mitis dan religius. Lalu siapa yang tak kenal Ahmad Wahib, pemuda Madura yang lahir sebagai seorang pemikir Islam periode 1970an, tapi sayang ia mati muda.  Namun demikian, saya agak terheran, dari berbagai posisi dan profesi itu kenapa tidak ada orang Madura yang menjadi pemain bola nasional? Mengapa pulau Madura tak mampu melahirkan pemain bola? Mungkin yang terakhir ini hanya kelakar saya saja. Saya kerap mengaitkan absennya pemain bola yang terlahir dari Madura, karena mungkin banyak tanah lapang di pulau Madura digunakan sebagai ajang karapan sapi, bukan lapangan sepak bola.

Di Madura, karapan sapi tentu lebih terkenal dan familiar daripada sepak bola. Karapan sapi, sebagaimana kita ketahui adalah permainan rakyat Madura yang terkenal di seantero negeri ini. Bicara tentang Madura maka kita akan langsung mengasosiasikannya dengan karapan sapi, selain jamu kuat ramuan Madura tentunya. Karapan sapi itu mula-mula adalah lomba membajak sawah dengan seorang pengemudi (pembajak) berdiri di atas garu dan memacu sapi yang berpasang-pasangan. Karapan sapi menjadi semacam lomba tingkat nasional Madura, yang dikoordinir dari mulai tingkat desa, kecamatan, dan kota. Banyak tanah lapang di Madura yang digunakan sebagai ajang karapan sapi ini. Ketika saya menengok alun-alun Bangkalan, saya melihat arena karapan sapi, bukan lapangan bola!

Subyek utama dalam karapan sapi adalah sapi Madura yang perawakan tubuhnya berukuran kecil sampai sedang dan mempunyai kulit dengan warna merah atau coklat muda. Beberapa sapi Madura mempunyai kulit sangat gelap atau mempunyai garis warna hitam membujur sepanjang punggungnya, dan sebagian besar mempunyai kaki putih,sebagai tanda yang jelas dari keturunan banteng. Darah zebu ditunjukkan dengan adanya punuk kecil yang sangat menonjol pada sapi jantan. Secara umum sapi Madura dianggap berasal dari perkawinan silang antara banteng lokal (Bos Javanicus) yang juga dikenal sebagai sapi Bali dalam bentuk yang sudah dijinakkan, dan jenis Sinhala atau Ceylon dari zebu (sapi India) yang sudah dijinakkan (Bos Indicus). Sapi zebu telah di bawah ke Indonesia pada tahun 1500 an oleh para pedagang dari India. Ada juga yang mengatakan bahwa sapi Madura adalah  peranakan dari sapi Jawa yang adalah persilangan dari sapi Eropa (Bos Taurus) dan zebu yang kemudian dikawinkan dengan banteng lokal.

Pada kehidupan sehari-hari tampaknya sapi Madura lebih banyak digunakan untuk karapan daripada untuk mereka konsumsi. Sebagaimana masyarakat muslim Jawa, daging sapi sangat dihargai oleh masyarakat Madura, meski jarang seorang petani Madura menyembelih sapinya untuk tujuan-tujuan konsumsi. Sapi dicadangkan untuk peristiwa-peristiwa upacara yang sangat istimewa, seperti perkawinan, pemakaman, dan beberapa acara selamatan bila tamu yang harus dijamu berjumlah besar. Sebagaimana kita ketahui orang Madura juga kerap mengadakan pesta-pesta besar untuk perhelatan khitan dan perkawinan. Terutama dalam acara pesta perkawinan seorang keluarga, orang Madura akan berusaha jor-jor an untuk mendapatkan penghormatan dan pengakuan dari yang lainnya, dengan memberikan bantuan materi dan financial yang besar untuk kerabatnya yang terkadang melampaui kemampuan ekonominya.

************

Apa yang diinginkan dari jor-jor an itu tidak lain adalah menjaga harga diri, agar tak kalah pamor dari orang lainnya. Sebagaimana dalam carok, yang saya sebutkan di atas, persoalan harga diri adalah pokok utama bagi orang Madura untuk dipertahankan, meski nyawa menjadi taruhannya. Maka, selain soal perempuan, soal jor-joran kekayaan, dan berbagai persoalan harga diri lainnya, agaknya jarang kita temui, bahkan tidak mungkin orang Madura berkonflik antara satu sama lainnya. Pernah pada dekade 1990an terjadi kerusuhan di Madura, terkait dengan pembangunan waduk Nipah. Beberapa orang Madura terlibat konflik dengan aparat keamanan pemerintahan Orde Baru, beberapa orang Madura tewas dalam kejadian itu. Tewasnya orang Madura segera memicu amarah masyarakat Madura yang hampir saja meluas, jika seandainya pemerintah tidak segera meredam gejolak massa itu dengan menurunkan seorang kyai karismatis, Kiai Alawy Muhammad. Dalam waktu singkat amarah masyarakat Madura bisa mereda dan peristiwa itu melambungkan nama sang kyai, dimana sebelum itu tidak ada kyai kharismatis yang kita kenal dari Madura, selain Syaikhona Cholil, Bangkalan, yang melegenda itu.

Dari beberapa yang saya kemukakan di atas, saya merasa heran dengan terjadinya konflik kekerasan antara pengikut Sunni dan Syiah di Sampang  yang terjadi baru-baru ini. Konflik antara warga satu desa tapi berbeda patron itu adalah pola konflik yang sama sekali baru, dalam sejarah konflik orang Madura. Selama ini saya mengenal secara umum bahwa mayoritas orang Madura adalah muslim yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU). Saking besarnya jumlah pengikut NU di pulau itu ada kelakar yang menyatakan, “orang Madura itu eslam semua, kecuali ada yang Muhammadiyah satu atau dua….”. Beberapa keturunan bangsawan Madura, yang menggunakan gelar raden panji atau raden ayu (RP atau RA) cenderung menjadi penganut Islam KTP dan beberapa yang terdidik berafiliasi dalam Muhammadiyah. Di luar itu, saya belum pernah mendengar adanya aliran kelompok masyarakat lainnya di Madura. Apalagi hingga kemudian mereka berkonflik akibat pertentangan aliran-aliran yang mereka anut itu. Maka, saya melihat bahwa konflik antara pengikut Syiah dan NU di Sampang Madura belakangan ini adalah konflik baru dan menggunakan cara yang baru pula, yang entah terilhami dari mana, atau tercetus dari siapa?

Bagi saya orang Madura yang beneran akan menuntaskan konfliknya dengan cara mereka sendiri, dengan cara carok misalnya, cara yang mereka anggap terhormat, bukan menyerang keroyokan lalu membakar dan memusnahkan harta benda sesama mereka. Benar apa yang dikatakan Mahfud MD, dalam salah satu surat kabar beberapa waktu yang lalu, orang Madura tak pernah berkonflik selain urusan perempuan. Sekilas hal itu tampak sebagai gurauan, tapi begitulah adanya, harga diri manusia Madura memang tampak terpusat pada perempuan-perempuan mereka. Demikian halnya dengan konflik Sampang baru-baru ini, usut punya usut penyebab awalnya adalah perempuan juga, meski agak berbeda dengan kisah-kisah perempuan yang menyebabkan carok sebagaimana saya paparkan di atas. Selanjutnya unsur persaingan dan perebutan pengaruh antara dua pemimpin masyarakat juga turut mewarnai konflik Sampang itu. Hingga kemudian persaingan itu digiring ke dalam suatu konflik bernuansa permusuhan antara aliran, yaitu syi’ah dan sunni di desa itu. Terlepas dari apapun motifnya, tapi pola konflik yang terjadi di Sampang itu, bukanlah pola konflik yang khas masyarakat Madura.

Memang pada masa setelah pemerintahan Orde Baru tumbang, orang-orang Madura di Kalimantan barat pernah mengalami kekerasan yang serupa dari penduduk asli pulai itu, yaitu orang-orang Dayak. Dalam bukunya Zaman Edan (2005) Richard Llyod Parry menuliskan:

“Dua hari pertempuran berdarah antara kelompok-kelompok etnis yang bertikai dengan bersenjata pisau dan pedang telah menewaskan sekurangnya 43 orang di sebuah wilayah terpencil di pulau Kalimantan, Indonesia, kata polisi. Lebih dari 500 terbakar dan beberapa korbannya dipotong-potong. Seorang pria dipenggal, kepalanya diarak keliling desa oleh orang-orang yang riuh bersorak, kata seorang saksi mata.”

Itu adalah pengalaman konflik dan kekerasan paling buruk yang pernah menimpa masyarakat Madura. Tapi saat itu mereka berhadapan dengan etnis lain, yang mungkin tak kalah liarnya dengan diri mereka. Dan lagi saat itu, mereka adalah tamu di daratan milik orang lain yang jauh dari tanah kelahiran yang mereka cintai, yaitu Madura. Jadi kemungkinan terjadinya kecemburuan, konflik, dan pertentangan semacam itu memang bisa saja terjadi karena terbentuk oleh situasi-situasi yang selama ini menjadi suatu transkrip yang tersembunyi. Bahkan karena terpendam lama, transkrip yang tersembunyi itu kemudian menjadi suatu konflik yang dengan cepat diwarnai dengan kebrutalan yang diluar batas sebagaimana kutipan tersebut di atas.

Tapi ironinya konflik Sampang baru-baru ini, terjadi antar sesama orang Madura yang berada dalam satu desa kelahiran yang sama, berbahasa sama, bahkan dua pemimpin masyarakat yang menjadi pangkal konflik yaitu Tajul Muluk dan Rais adalah kakak-beradik sekandung. Tapi kekerasan yang tercipta dari konflik diantara mereka bila dibiarkan boleh jadi akan menjadi semakin brutal sebagaimana pernah terjadi di Kalimantan Barat itu. Sebenarnya saya ingin mengatakan, saya bukanlah pendukung kekerasan model carok yang biasa dilakukan oleh orang Madura itu, tapi terus terang saya khawatir jika nantinya orang-orang Madura itu akan mengubah imajinasi penyelesaian konfliknya yang biasanya dilakukan dengan carok lalu diganti dengan cara bakar-bakaran, serbu serbuan, hancur-hancuran, dan bunuh-bunuhan dengan cara yang lebih keji daripada carok!

***********************

Sumber:

Huub de Jonge (ed.). Agama, Kebudayaan, dan Ekonomi: Studi-Studi Interdisipliner tentang Masyarakat Madura. Jakarta: Rajawali Press, 1989.

A.Latief Wiyata. Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: LKiS, 2002.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: