Zomia Budaya Indonesia

Dalam bukunya The Art of Not Being Governed (2009) James C. Scott  menuliskan zomia adalah suatu ruang tanpa negara (nonstate spaces) yang terbentang luas di daratan Asia, meliputi beberapa bagian daratan Asia Tenggara yang berbatasan dengan Cina, India, dan Banglades. Zomia adalah wilayah yang dianggap remeh, tidak mempunyai posisi penting dalam gambaran peta dunia. Wilayah itu jauh dari pusat pemerintahan bekerja dan pusat perekonomian berproduksi, meski karena posisinya yang berbatasan dengan beberapa wilayah itu memungkinkan mereka untuk bersandar pada berbagai negara-bangsa serta bersentuhan dengan berbagai agama, tradisi, dan kosmologi.

Image

Konsep zomia yang digunakan oleh Scott merujuk kepada zomia yang dirumuskan oleh Willem van Schendel (2005), seorang sejarawan University of Amsterdam. Schendel menggunakan kata dari bahasa Tibet-Burma “zomia”, yang biasa digunakan oleh penduduk di sekitar perbatasan India, Bangladesh, dan Burma untuk menyebut orang yang tinggal di dataran tinggi seperti bukit dan pegunungan. Zo berarti sesuatu yang terpencil dan mempunyai konotasi kehidupan di perbukitan atau pegunungan, sedangkan Mi berarti penduduk. Sebagaimana biasa dimengerti oleh masyarakat Asia Tenggara, Mi-zo atau Zo-mi digunakan untuk menyebut penduduk yang tinggal di perbukitan atau pegunungan yang terpencil. Kemudian kata yang sama juga berlaku untuk penyebutan wilayah perbukitan dan pegunungan yang terpencil itu.

Beberapa karakter wilayah zomia yang dituliskan oleh Scott berkarakteristik “negative”. Masyarakat zomia cenderung tidak seragam, tapi mempunyai ciri khas keberagaman dalam budaya, bahasa, pola kehidupan yang berbeda-beda, yang susah untuk diatur dan diperintah. Masyarakat zomia selalu bergerak dinamis tidak mempunyai pola organisasi yang permanen, model kepemimpinannya bersifat sementara dan terus berganti-ganti, pola kehidupannya selalu berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tanpa meninggalkan bekas, selanjutnya bahasa dan identitas mereka senantiasa berganti-ganti. Itu adalah strategi adaptasi masyarakat zomia untuk tidak mudah ditundukkan oleh suatu kekuasaan yang sedang menjalankan pemerintahan.

Menurut Schendell wilayah zomia di masa lampau adalah pusat dari berjalannya formasi suatu negara, tapi kemudian perkembangan politik modern telah menyebabkan zomia keluar dari pusat negara dan menjadi wilayah perbatasan beberapa negara yang berbeda-beda. Zomia yang semula berada di pusat, kini berada di pinggir. Dengan posisi itu, zomia adalah wilayah membingungkan dan tidak merepresentasikan sesuatu yang penting dari negara. Secara politik zomia adalah bagian terpinggirkan dari wilayah suatu negara. Kontrol kekuasaan negara atas area zomia yang luas itu sangat lemah. Zomia adalah suatu wilayah yang dianggap berbeda dalam suatu negara.

Mengacu kepada konsep zomia itu, saya merasa bahwa ranah kebudayaan Indonesia dewasa ini dapat kita kategorikan sebagai wilayah zomia budaya dalam kawasan budaya Asia Tenggara. Beragamnya budaya Indonesia yang terlahir dari beragam suku bangsa di wilayah kepulauan yang saling berpencar. Kemudian beberapa diantara suku bangsa itu bereksodus ke wilayah lain di dalam kawasan Asia Tenggara dengan membawa produk budayanya masing-masing. Mereka menggunakan produk budaya itu sebagai identitas suku bangsa di wilayah mereka yang baru. Tak heran, Reog dari Ponorogo akan kita temui di pedalaman Kalimantan hingga ke negeri Malaysia, karena pada kedua tempat itu orang-orang Ponorogo bermukim untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Lalu tarian Tor-Tor dan beberapa tarian Sumatra lainnya juga dengan mudah kita dapati di Tanah Melayu yang hanya terpisah oleh Selat Malaka. Negara tetangga kita yang satu ini, Malaysia, memang tetangga yang rajin mengklaim produk budaya tanah air sebagai bagian dari kebudayaan nasional mereka. Salah siapa? tentu tidak hanya salah mereka, tapi kita juga mempunyai andil dalam memberi peluang mereka untuk berbuat semacam itu.

Di Malaysia tampaknya berbagai produk budaya Nusantara itu diurus dan dirawat dengan baik oleh warganya, sementara di tanah kelahirannya sendiri produk budaya itu tak terurus, tak terawat, dan diabaikan oleh warganya serta tak tersentuh oleh negara. Masyarakat dibiarkan merawat budayanya sendiri dengan kemampuan ala kadarnya serta tanpa proteksi dari serbuan budaya pop yang datang dari luar dan tampak lebih memesona dan telah menjadi trend karena terlahir dari gelombang kapiltalisme global. Negara berjasa dengan baik kepada arus budaya popular itu untuk dikonsumsi oleh masyarakatnya sehingga gagap dalam memilih budaya mana yang hendak mereka rawat, budaya lama atau budaya baru? Pilihan budaya mereka bersifat labil kerap berubah-ubah sesuai dengan trend yang sedang diusung oleh kapitalisme penguasa pasar konsumsi. Perubahan itu dengan terpaksa mereka lakukan untuk dapat bertahan dalam lingkaran kehidupan yang mereka terlibat di dalamnya. Tidak mengikuti perubahan, tidak mengikuti trend budaya yang sedang berlaku, akan mengakibatkan pengucilan dan keterasingan dari jaringan sosial yang mereka ada di dalamnya.

Dan tibalah saatnya ketika negara tetangga mengumumkan klaimnya atas produk budaya dari tanah air kita, kita tersadar bahwa ranah budaya selama ini adalah sesuatu yang terpinggirkan dalam kehidupan bernegara kita. Pakaian tradisional hanya kita kenakan ketika datang Hari Kartini atau peringatan Hari Kemerdekaan pada tiap 17 Agustus. Mode batik pun ramai kita gunakan secara serempak ketika, lagi-lagi, negara tetangga akan mengakuinya sebagai warisan budaya milik mereka. Sebelumnya, batik adalah kain yang hanya digunakan sebagai sarung dan pakaian minor lainnya yang jarang kita kenakan. Namun setelah serangan klaim itu tiba, masyarakat bereaksi untuk memungut kembali budaya mereka, kerap kali reaksi itu bersifat spontan tapi tak terarah dan tidak menyelesaikan masalah. Yang lahir hanya sentimen dan kebencian kepada negeri tetangga.

Sementara itu negara tampil sama gamangnya dengan masyarakat, mengambil sikap yang serba terlambat, pengabaian yang selama ini mereka lakukan semakin terlihat bahwa mereka tak terbiasa mengurus ranah budaya dengan baik. Sejak merdeka pada 1945, hingga saat ini negara belum mempunyai suatu perangkat undang-undang yang mengatur kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Kita baru mempunyai beberapa undang-undang mengenai Cagar Budaya, tentang Perfilman, tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Belakangan kalangan DPR  mengatakan bahwa  Undang-Undang Kebudayaan ditargetkan terbentuk pada 2013 setelah melalui berbagai penyempurnaan terlebih dahulu. DPR berniat untuk menyempurnakan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kebudayaan dengan meminta masukan berbagai daerah di Indonesia. Selain gagasan mengenai aturan budaya, dalam draf UU Kebudayaan juga akan diusulkan wacana mengenai bank budaya.”Bank budaya adalah semacam badan atau lembaga yang melakukan inventarisasi terhadap kebudayaan, baik yang intangible berupa perilaku maupun tangible berwujud karya seni.

Terlambat atau tidak tapi itulah nasib budaya kita, negara baru tergugah untuk menyentuh ranah budaya setelah ranah itu telah menjadi semacam wilayah zomia budaya. Budaya Indonesia, yang beragam dan yang menjadi penguasa untuk dirinya sendiri, mengambil bentuk dan ruangnya sendiri tanpa ada suatu institusi kekuasaan yang bisa mengaturnya. Kelak, jika terus diabaikan, beragam budaya itu akan beranjak pergi dari ruang yang bernama Indonesia atau Nusanatara ini. Beragam budaya itu tak akan kehabisan ruang di kawasan Asia Tenggara ini, atau bahkan dalam ruang dunia yang lebih luas lagi. Dengan mudah ragam budaya itu akan beroleh tempatnya meski entah di bagian mana, paling sial mereka akan abadi dalam museum budaya di berbagai belahan dunia, yang di Indonesia kita tak menemukan tempatnya. Lalu siapa yang akan merugi?

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: