Emak

Image

Saya sudah lama tak berdo’a untuk Emak. siapakah gerangan ia? ia adalah nenek saya, ibunda dari ayah saya. meskipun begitu, sampai akhir hayatnya, kami memanggilnya “emak”. mengikuti cara anak semata wayangnya memanggilnya…..”emak”. emak sendiri berarti ibu. Saya sudah lama tak berdo’a untuk Emak. tapi saya rasa Tuhan pun tau, bahwa di setiap do’a saya, yang terucap dan tak, selalu ada namanya, nama Emak, juga nama para leluhur saya. Saya yakin Tuhan mengerti itu. do’a yang terucap dan yang tak, selalu terselip untuk emak. Saya sudah lama tak berdo’a untuk Emak. tapi jangan khawatir, perasaan saya selalu berkata, bahwa Emak tetap menyaksikan saya, sepak terjang cucunya yang paling jauh terbuang ini, tetap diperhatikannya dari alam sana. itulah yang saya rasa hingga saat ini…..

Mengingat Emak…..Saya menerawang, kapan kiranya aku terakhir kali bertemu emak? sudah lama sekali, hingga tak terekam lagi. sungguh Saya lupa, —oh betapa laknatnya aku……melupakan kapan terakhir bertemu dengan mu

Tepatnya Tahun 1994 atau 1995, Saya mendapat berita bahwa emak telah tiada. ia telah pergi meninggalkan keluarga, meninggalkan anak semata wayang-nya…yang tak pernah terpisah dari lahir hingga beranjak tua.Tapi, keduanya harus berpisah,saat Tuhan berkehendak memanggil keduanya dengan cara berbeda. Waktu itu ayah Saya berangkat haji, memenuhi panggilan Tuhan, dan di hari-hari terakhir itu Tuhan pun memanggil sang ibu, si emak. Oh, alangkah indahnya, Tuhan memisahkan keduanya dengan panggilannya, panggilan yang berbeda, satu panggilan bertamu ke bait-Nya, dan satu panggilan bertemu ke hadirat-Nya. Oh alangkah indah. kisah pertemuan dan perpisahan ibu dan anaknya yang sungguh indah.

Mengingat Emak. Saya ingat masa kecil. bagaimana emak dengan sabar menunggui saya belajar saban sore. tidak hanya pelajaran sekolah, mengaji pun emak sungguh memperhatikan sampai dimana kemampuan saya. Suatu ketika Emak berujar, –jadilah kamu anak yang pintar, sekolah sampai tinggi….biar kelak kamu dapat naik pesawat terbang–.Saya kecil pun menjawab, –iya. pasti aku kelak dapat naik pesawat terbang, dan saat itu emak pasti sudah tiada–. lalu dengan jenaka emak menjawab –tak apa, tapi ingatlah aku akan ada di sayap pesawat, mengikuti kemana pun kamu pergi–.

Lalu beberapa belas tahun kemudian ketika saya menaiki pesawat terbang untuk pertama kali, maka yang saya lihat untuk pertama kali adalah kaca jendela pesawat. Saya berpikir, kali aja Emak benar-benar ada disitu,  bertengger di sayap pesawat. Konyol, jenaka, tapi percakapan itu tak akan pernah saya lupakan, Emak.

Mengingat Emak. Saya menuliskan ini. dengan harapan Emak juga membacanya dari alam sana. tulisan ini adalah do’a buat mu, Emak.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: