Strategi Adaptasi Masyarakat Urban Jakarta : Sengsara membawa Nikmat?

Image

Kejamnya Jakarta

Berbicara Jakarta, saya akan teringat suatu film pada masa kanak-kanak saya yang dibintangi oleh pelawak Ateng dan Iskak. Film itu berjudul dirilis pada 1981 dengan judul Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota  dan disutradarai oleh Imam Tontowi, salah seorang sutradara handal di negeri kita ini. Film itu berkisah tentang Ateng yang merasakan betapa sengsaranya hidup bersama seorang ibu tiri. Ateng kerap mendapatkan banyak aturan untuk mengerjakan ini dan itu, sering kena marah, bahkan sesekali ditampar oleh sang ibu tiri. Ayahnya sendiri dirasakan tidak pernah membela Ateng. Hingga kemudian datang kawan lama Ateng, yaitu Iskak yang baru pulang rantau dari Jakarta. Orang-orang kampung mengagumi Iskak yang dianggap berhasil merantau ke ibukota. Padahal Iskak belum begitu lama merantau ke Jakarta. Hal tersebut membuat Ateng ingin sekali ikut merantau ke ibukota. Maka singkat cerita berangkatlah Ateng bersama-sama dengan Iskak.

Setibanya di Jakarta, beberapa kejadian tidak menyenangkan mulai menmpa Ateng dan Iskak. Ketika mereka berdua sedikit lengah, tas mereka hilang diambil orang. Kemudian Ateng mulai mengetahui bahwa ternyata Iskak sendiri selama ini hanya membual dan omong besar tentang kehidupannya di Jakarta. Ternyata Iskak sendiri susah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Apa lagi Ateng yang belum berpengalaman dan tidak memiliki ketrampilan tentu akan lebih susah lagi bertahan di ibukota. Ateng merasa sengsara di Jakarta, selain sempat babak belur dituduh maling, ia mengalami kelaparan dan kerap ditipu orang. Ateng merasakan betapa lebih kejamnya ibukota Jakarta dibanding ibu tirinya. Di akhir cerita, Ateng pun memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan kembali ke pangkuan ibu tirinya.

Film itu adalah gambaran bagaimana kondisi migrasi dan urbanisasi yang melanda ibukota Jakarta pada periode 1980 an. Selain tergambar dalam bentuk film, banyak pula lagu atau kisah yang menyuarakan bahwa kehidupan di Jakarta tidak senikmat yang banyak dikabarkan oleh orang-orang selama ini. Namun apakah hal itu membuat proses migrasi dan urbanisasi ke Jakarta menjadi terhenti? Akankah gambaran-gambaran muram tentang Jakarta itu membuat orang-orang menghentikan langkahnya menuju ibukota untuk mewujudkan berbagai impiannya? Tentu saja tidak semudah itu. Hingga melewati era 1980an, 1990 an dan pada saat ini periode 2000 an, tema migrasi dan urbanisasi masih hangat untuk kita bicarakan, baik di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di negeri ini.    

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, jumlah pendatang baru pada 2007 mencapai 109.617 orang, menurun 11,9 persen atau sebanyak 14.810 orang dari tahun sebelumnya (2006). Kemudian pada 2008, jumlah pendatang baru mencapai 88.473 orang, menurun 19,29 persen atau sebanyak 21.144 orang. Pada 2009, jumlah pendatang baru mencapai 69.554 orang, menurun 21,38 persen atau sebanyak 18.919 orang. Pada 2010, pendatang baru menurun menjadi 60 ribu orang (Okezone 21 Juli 2011). Meskipun terus menurun pada beberapa tahun terakhir, arus migrasi menuju kota atau yang kita sebut dengan urbanisasi itu terus daja mengalir. Penurunan jumlah pendatang baru di Jakarta tersebut disinyalir karena terjadinya peningkatan jumlah pendatang baru yang terjadi di kota-kota pinggirian Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang.

Menurut Gubenur DKI Fauzi Bowo warga luar Jakarta mulai beralih pindah ke kota-kota sekitar Jakarta karena pemerintah berhasil membangun kegiatan ekonomi di kota luar Jakarta tersebut. Selain pertumbuhan kegiatan ekonomi di luar Jakarta, penurunan kaum urban di Jakarta, menurut Fauzi, dikarenakan berhasilnya sosialisasi pemerintah tentang urbanisasi yang dilakukan di daerah-daerah asal pemudik. Hal itu adalah hasil kerja sama Pemerintah DKI dengan daerah-daerah asal pemudik yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Sebelum musim mudik biasanya Pemda DKI melakukan sosialisasi, menyebarkan informasi bahwa jika hendak bermigrasi ke Jakarta ada persyaratan yang harus mereka penuhi (Kompas.com, 5 September 2010).

Masalah urbanisasi di kota besar seperti Jakarta, terus menjadi persoalan tak berkesudahan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, urbanisasi dari daerah ke Jakarta setiap tahunnya terus meningkat. Imbasnya adalah bertambahnya jumlah penduduk kota. Pada April 2010, jumlah penduduk Jakarta mencapai 8,5 juta jiwa. Setahun kemudian (2011) bertambah menjadi lebih dari 9 juta jiwa. Dan pada April 2012 diperkirakan sudah melewati bilangan 9,5 juta jiwa. Diprediksi, jumlah penduduk Indonesia 25 tahun mendatang akan terus meningkat, dari 234 juta jiwa menurut Sensus Penduduk 2010 menjadi 273 juta jiwa pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 68 % di antaranya diperkirakan akan bermukim di wilayah perkotaan, khususnya Jakarta (Inilah.com, 16 Mei 2012).

Involusi Perkotaan

Kondisi ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran. Gelombang urbanisasi ke Jakarta sepertinya benar-benar tak bisa dibendung. Tak hanya sehabis Lebaran, tetapi pada hari-hari biasa para pendatang baru terus menginjakkan kaki di Ibu Kota dan kota-kota besar lainnya. Mereka datang berbekal sejuta impian, membawa sejuta harapan. Soal tercapai atau tidak, itu masalah belakangan. Bagi mereka yang penting datang ke Jakarta, Surabaya, Bandung atau Medan dulu. Pada titik inilah involusi perkotaan terus berlangsung di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Dalam sebuah makalahnya The End of Urban Involution and the Cultural Construction of Urbanism in Indonesia (2005) Hans Dieter Evers menuliskan bahwa pola urbanisasi di Indonesia dapat digambarkan sebagai suatu proses involusi perkotaan yang telah terjadi pada periode 1960 an dan 1970 an dan terus terjadui hingga saat ini. Involusi perkotaan adalah suatu pola yang berbelit-belit dari ekonomi informal perkotaam dikembangkan tanpa diarahkan kepada suatu modernisasi yang membangun struktur, moda transportasi, industri, dan pekerjaan. Pola itu saat ini terus bertambah rumit dan kompleks dan tidak menunjukkan suatu perkembangan maju kepada suatu tahap evolusi. Hampir di semua kota dan kota besar, tumbuhnya birokrasi dan perdagangan sektor informal lebih menjadi pilihan utama bagi faktor pendorong utama urbanisasi, dibandingkan dengan industrialisasi dan pengembangan pelayanan modern (Hans-Dieter Evers, 2005).

Salah satu elemen penting yang mendukung terus langgengnya involusi perkotaan adalah munculnya polarisasi etnis yang makin jelas dalam ruang kota. Meskipun urbanisasi atau migrasi menuju  perkotaan telah menimbulkan tingkat  pluralitas etnis yang semakin tajam, tapi hal itu tidak menutup adanya suatu klaim etnis atas daerah tertentu di perkotaan. Maka dari itu munculnya perkampungan etnis di wilayah perkotaan menunjukkan masih belum berakhirnya involusi perkotaan. Dan sebaliknya, ketika dalam struktur ruang perkotaan involusi etnis dan pembatasan teritorial wilayah etnis semakin menurun, kemudian digantikan oleh perkembangan kelas sosial yang lebih utama daripada etnis, maka involusi perkotaan telah berakhir. 

Mengutip Leo Suryadinata (2003) digambarkan susunan etnis yang hidup di Jakarta adalah sebagai berikut:

Mayoritas Kelompok Etnis di Jakarta berdasarkan Sensus tahun 2000

Kelompok Etnis

Jumlah

Prosentase

Jawa

2.927.340

35,16

Betawi

2.301.587

27,65

Sunda

1.271.531

15,27

China

460.002

5,53

Batak

300.562

3,61

Minangkabau

264.639

3,18

Melayu

134.477

1,62

Bugis

49.426

0,59

Madura

47.055

0,57

Banten

20.582

0,25

Banjar

7.977

0,1

Lainnya

539.529

6,48

Total

8.324.707

100,01

Sumber: Suryadinata et al 2003 (Hans-Dieter Evers, 2005)     

Jakarta pada 1920 an (awal abad ke 20) telah banyak muncul daerah-daerah perkampungan di sekitar kota yang dihuni oleh masyarakat Betawi dan para pendatang dari berbagai daerah di Jawa Barat. Sementara itu, daerah-daerah perkampungan lama mulai banyak yang tersingkir oleh pembangunan pemukiman untuk lapisan atas penduduk kota. Arus pendatang terus mengalir deras pada masa masa selanjutnya dan berbagai macam etnis perantau di nusantara mulai datang ke Jakarta sebagaimana tergambar dalam tabel di atas. Pada saat ini di Jakarta masih kita kenal dengan adanya kampung etnis, seperti Kampung Ambon yang belakangan ini mulai terkenal sebagai pusat perdagangan narkoba di Jakarta.  

Dalam suatu studi tentang pendatang yang dilakukan di 16 perkampungan Jakarta menemukan bahwa dari sekitar 10.000 kepala rumah tangga yang disurvei, 25% tiba di Jakarta antara 1946-1949, dan lebih dari sepatuh tiba pada tahun 1949. Kebanyakan mereka datang dari wilayah-wilayah pedesaan Jawa Barat, dan hampir semua karena alasan ekonomi. Membesarnya kelompok masyarakat pinggiran semakin tampak dengan meluasnya daerah pemukiman liar pada periode 1950 an. (Kamala Chandrakirana, 1999, hal. 14-15).

Sejak 1965 pemerintah Orde Baru melanjutkan mensponsori pembangunan proyek-proyek pameran seperti Taman Impian Jaya Ancol dan pembangunan kompleks kompleks rumah mewah. Citra “kota” yang dikejar oleh penguasa kota itu selalu mendapat prioritas dengan mengabaikan kepentingan mayoritas penduduknya. Konsep “superkultur Metropolitan” digunakan oleh Hildred Geertz pada tahun 1963, tetapi terus digunakannya istilah ini setelah itu cenderung memotongnya dari hubungan kesejarahan dengan perkembangan kapitalisme. Ideologi negara dan pemerintah tidak bisa dipisahkan dari hubungannya dengan dengan modal dan kekuasaan. Dalam hal kesenjangan yang meningkat di Jakarta, citra tentang kota metropolitan kurang menjadi dasar perencanaan tetapi lebih menjadi kedok dan pemutar-balikan kenyataan (Alison J. Murray, 1994, hal. 23).

Pengalaman yang dialami oleh Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia serupa dengan pengalaman kota kota besar lainnya di dunia, seperti London misalnya. Ibukota Inggris itu terus berkembang pesat sejak paruh pertama abad ke 19. Pada saat itu London dilanda arus urbanisasi yang besar oleh para pedagang kecil dan meningkatnya kaum buruh lepas dan pekerjaan-pekerjaan pinggir jalanan. Sejak periode 1860 an tekanan-tekanan dari luar mulai mendesak golongan miskin yang bekerja sambilan keluar dari tempat-tempat kediamannya di dalam kota. Meningkatnya sewa dan persaingan dengan barang-barang yang diproduksi secara massal dari daerah industri di bagian utara merugikan banyak bengkel kecil di London.

Pada saat itu terdapat empat tekanan yang terjadi pada kaum miskin kota, yaitu selera warga kelas menengah, peraturan pemerintah, tekanan ekonomi, dan perubahan bentuk kota mendesak penduduk/rakyat kecil dari rumah dan pekerjaan mereka di pusat kota. Program pembersihan daerah kumuh dan peremajaan perkotaan di London pada saat itu juga mengingatkan kita pada Jakarta pada saat ini. Para perencana kota memandang daerah-daerah kumuh di London sebagai daerah yang mengganggu pemandangan dan terbelakang dalam era pembangunan (Lea Jellinek, 1995, hal.231-232). Selain itu dalam kemiskina kota hal yang paling pasti bagi penduduk miskin adalah ketidak pastian hidup mereka. Segala sesuatu tampak terus berkembang, berubah dan meninggalkan mereka yang tidak mengetahui berapa lama mereka akan memiliki pekerjaan, pendapatan, rumah atau barang-barang miliknya (Lea Jellinek, 1995, hal. 236-237).

Dalam beberapa literatur tentang kemiskinan terdapat pendapat yang meyakini adanya “budaya kemiskinan”, yaitu rakyat miskin tetap miskin karena lahir dalam lingkungan kemiskinan yang sulit untuk dipecahkan. Budaya ini memungkinkan golongan miskin bertahan di bawah paksaan tetapi pada saat yang sama kemiskinan itu menjadi kekal. Golongan miskin jarang dapat mempertahankan pekerjaan untuk jangka waktu yang lama. Penghasilannya dari pekerjaan itu langsung habis untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu mereka juga menghamburkan uang mereka untuk membeli barang-barang mewah baik untuk dipertontonkan atau dibagikan kepada orang-orang untuk meningkatkan status sosial dan prestisenya.

Mereka menikmati hidup sepuas-puasnya saat itu dimungkinkan, karena mereka tak dapat menjamin hal itu terjadi lagi esok hari. Mereka menjadi sangat fatalistik dalam perbaikan nasibnya dan jarang melakukan investasi dengan cara-cara yang akan meningkatkan pendapatannya di masa depan. Mereka hidup dalam perasaan saling curiga, tidak memercayai satu sama lain, ikatan keluarga dapat mudah retak, sehingga susah menghimpun sumber daya manusia yang saling menguatkan. Masa kanak-kanak bagi mereka berlangsung dengan singkat dan pendidikan terbatas. Cara hidup seperti ini berlaku dari generasi ke generasi dan menjadi fenomena yang muncul ke permukaan suatu lingkaran setan yang sulit untuk dihindari (Lea Jellinek, 1995, hal. 239-240). 

Kondisi Jakarta semacam itulah yang sempat diamati oleh beberapa pengamat sosial seperti Alison J. Murray dan  Lea Jellinek pada periode 1980 an hingga 1990 an, meski masih terasa relevan dengan kondisi di beberapa sudut Jakarta saat ini. Tapi begitulah Jakarta, betapapun muramnya gambaran yang tersemat kepadanya, dan bagaimanapun kejamnya kota terhadap nasib penghuninya, tetap tidak menyurutkan langkah orang-orang untuk terus mendatanginya, mengadu nasib. Tak peduli sengsara yang mereka dapatkan, asal peluang beroleh kenikmatan kelak kemudian hari masih terjaga dalam benak mereka. Dalam situasi Jakarta seperti itu bagaimana para pendatang atau para perantau yang kemudian menjadi masyarakat urban itu menyusun dan menjalankan strategi adaptasinya? itulah yang akan menjadi bagian dari pembahasan makalah ini.

Migrasi : antara Desa dan Kota 

Migrasi dapat dilihat sebagai respon dari individu atau masyarakat atau kedua-duanya terhadap terbatasnya sumber daya lokal, tindakan sosial yang dianggap menyimpang, dan ketidak-puasan pribadi. Permasalahan tersebut kemudian diperburuk oleh peradaban Barat yang terus memungkinkan adanya pertumbuhan populasi yang cepat, mengurangi kekuasaan otoritas tradisional, dan terus mempromosikan hasrat untuk memproduksi suatu teknologi modern. Menurut Nancy B. Graves (1974) terdapat tiga pola utama bagaimana individu atau masyarakat melakukan migrasi, yaitu:

  1. Migrasi yang datang dan pergi
  2. Migrasi sirkuler
  3. Migrasi permanen.

Migrasi yang datang dan pergi biasanya terjadi di wilayah perbatasan antara dua negara atau dua wilayah dalam satu negara. Migrasi ini berguna untuk mengisi kekuarangan sumber daya manusia pada suatu lokal wilayah tertentu. Seperti halnya perbatasan Malaysia dengan Singapura. Setiap pagi dan petang tenaga kerja dari Johor Baru (Malaysia) bergerak masuk atau keluar dari Woodland (Singapura) untuk bekerja dan beraktifitas di Singapura. Hal yang sama juga terjadi di Jakarta, setiap pagi dan petang penduduk wilayah sekitar Jakarta yaitu Bogor, Tangerang, dan Bekasi masuk dan keluar dari Jakarta. Mereka beraktifitas di Jakarta dari pagi hingga petang (atau bahkan malam) untuk bekerja, bersekolah atau berbelanja kebutuhan perdagangan.

Perkembangan alamiah dari migrasi yang datang dan pergi itu adalah migrasi sirkuler yang menetap semi permanen di wilayah yang mereka datangi. Migrasi sirkuler terjadi karena faktor jarak yang terbentang antara pedesaan dan perkotaan. Migrasi ini pada dasarnya dapat menghubungkan jalinan ekonomi antara dua wilayah, yaitu wilayah pinggir dan pusat, wilayah pedesaan dan perkotaan. Secara fungsi migrasi ini masih sama dengan migrasi yang datang dan pergi itu, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sumber daya lokal. Tapi dalam hal identitas, berbeda dengan imigran yang datang dan pergi yang masih melekatkan identitas dirinya kepada masyarakat pedesaannya, para pelaku migrasi sirkuler telah merasa memiliki dua identitas sekaligus, yaitu identitas masyarakat pedesaan dan identitas masyarakat perkotaan yang ia tinggali.

Migrasi permanen terjadi ketika individu atau masyarakat berpindah dari pedesaan dan menetap di perkotaan, urbanisasi adalah salah satu contoh yang tepat untuk migrasi permanen. Migrasi ini terjadi karena terjadinya surplus jumlah sumber daya manusia yang terdapat di pedesaan dan adanya peluang kerja di perkotaan. Pada beberapa masyarakat pedesaan di dunia terdapat pandangan bahwa migrasi ke perkotaan adalah cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, lebih dari sekedar pertanian di pedesaan. Untuk itu dalam beberapa masyarakat itu, para lelaki biasanya menyiapkan diri untuk mencapai suatu tingkat pendidikan yang memungkinkan mereka mendapatkan status pekerjaan yang tinggi di perkotaan. Sedangkan para perempuan biasanya menyiapkan diri mereka untuk mengenakan berbagai atribut perkotaan, Maka dari itu, di beberapa negara migrasi permanen ini banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan dengan status sosial yang tinggi, sebab migrasi semacam itu membutuhkan uang sebagai modal mereka untuk menyiapkan diri (Nancy B. Graves, 1974).

Migrasi menurut Usman Pelly bukanlah perilaku acak, oleh karena itu seorang yang melakukan migrasi adalah seseorang yang terpilih diantara populasi suatu masyarakat tertentu. Mengutip Whiteford (1875), Usman Pelly menuliskan bahwa hipotesis push-pull sebagai faktor utama terjadinya migrasi adalah terlalu simplistik, karena menganggap semua kekuatan sebagai kekuatan eksternal dan mengabaikan adanya kehendak pribadi dalam suatu migrasi. Dalam pandangan ini, misalnya meski kemiskinan di pedesaan merupakan faktor yang mendorong penduduk untuk meninggalkan kampung halamannya, gerakan keluar (migrasi) itu sifatnya sangat selektif dan kemiskinan itu sendiri tidak merupakan alasan yang cukup untuk berimigrasi. Latar belakang individu dapat dikatakan sebagai faktor selektif yang menentukan siapa diantara individu-individu tersebut yang cenderung berimigrasi (Usman Pelly, 1994, hal.8).

Dalam sejarah demografi di Indonesia, khususnya Jawa, dua pola migrasi memainkan peranan penting dalam penyebaran penduduk dan pola mata pencaharian mereka. Dua pola tersebut, pindah dan merantau membentuk kota-kota yang kita kenal selama ini sebagai Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan sebagainya. Hal itu merupakan gambaran dari ketidakmampuan desa dan sistem ekonominya untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduknya karena carrying capacity yang sudah di luar batas. Migrasi berproses sebagai gerak dinamis penduduk desa dari wilayah yang kering secara ekonomi (desa) menuju wilayah yang mudah memperoleh pendapatan (kota) (Didik J. Rachbini, 1994, hal. 51-53).  

Sebagai kaum migran sirkuler yang datang ke Jakarta atau Surabaya hanya untuk mencari pekerjaan karena peluang bekerja di desa sudah sedemikian sempit atau untuk memanfaatkan waktu luang menunggu waktu panen padi. Dalam berbagai hal ketimpangan antara desa dan kota sangat berpengaruh pada massa lapisan bawah, di pedesaan mencari pekerjaan di kota –betapapun kasarnya ternyata lebih menghasilkan uang yang relative lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di desa. Ini adalah salah satu faktor kenapa kota menjadi sasaran utama sejumlah kaum urban dan informal. Pada tahun itu pekerjaan seperti tukang ojeg atau tukang becak dapat memberi peluang untuk mengirimkan uang ke rumah mereka di desa. Dengan melakukan pola migrasi sirkuler tersebut kehidupan keluarga mereka di desa bisa tertolong. Artinya pekerjaan di kota yang paling marjinal sekalipun dapat menyelamatkan kehidupan mereka, dibandingkan dengan tanah sejengkal yang mereka punyai di desa sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari (Didik J. Rachbini, 1994, hal. 41).

Tiga bentuk imigrasi tersebut di atas dengan berbagai macam motifnya dapat kita temui di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Pada saat ini untuk migrasi yang datang dan pergi Jakarta adalah kota terpadat di Indonesia yang dijejali oleh kaum pendatang semacam ini. Mereka merayap menuju Jakarta di pagi hari melalui berbagai penjuru kota dengan berbagai moda transportasi yang digunakannya. Lalu pada petang hingga malam para pendatang itu mulai merayap keluar dari Jakarta.

Menurut pengalaman yang saya rasakan, dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, Jakarta masih jauh tertinggal dalam menghadapi pola migrasi bentuk ini. Entah apa karena jumlah pelaku migrasinya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura atau karena ketidak-siapan infrastruktur dan sistem yang dimiliki oleh Jakarta. Yang jelas, perjalanan menuju dan kembali dari Jakarta, sangat menguras tenaga, emosi dan hal-hal material lainnya dibandingkan jika kita melakukannnya di Singapura atau Malaysia. Hal itu berarti menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh para pendatang di Jakarta jauh lebih besar dibandingkan dengan tantangan di kedua negara tersebut. Karena itu tentu diperlukan strategi adaptasi yang lebih baik pula untuk menghadapi tantangan tersebut.

Begitu halnya dengan migrasi sirkuler dan permanen di Jakarta, sama sulitnya dan lebih kompleks masalah yang dihadapinya. Jakarta bukanlah kota yang ramah dalam mengatasi perubahan dan modernitas. Kota itru seolah dibiarkan berjalan dan berkembang tanpa suatu konse yang jelas. Gambaran yang terjadi London, sebagaimana dikisahkan di atas, benar terjadi di Jakarta hingga saat ini. Untuk hidup dalam perkampungan di tengah kota Jakarta, dibutuhkan kesiapan mental spiritual dan materi yang berlebih dibandingkan hidup di pinggiran Jakarta. Wilayah pusat kota telah tumbuh menjadi wilayah kegiatan bisnis komersil yang tak ramah lagi pada manusia. Maka dari itu hanya orang-orang pada status tertentu saja yang masih mampu bertahan hidup dengan kenyamanan di komplek perumahan mewah atau apartemen yang megah dan elite.

Sisanya masyarakat urban Jakarta berpindah ke daerah pinggiran Jakarta yang masih lebih manusiawi dan lebih terjangkau secara ekonomi untuk hampir semua kalangan. Lihatlah kawasan pinggiran Jakarta, seperti Depok, Cibubur, Pamulang, Bintaro dan beberapa wilayah pinggiran lainnya, kini telah dipenuhi oleh berbagai macam perumahan untuk segala golongan. Dari mulai perumahan mewah hingga rumah type sederhana tersedia di wilayah ini. Baik para pendatang yang bermigrasi sirkuler atau permanen semuanya berkumpul di wilayah ini, menyatu dengan tuan rumah Jakarta, yaitu warga Betawi yang juga tak luput dari peminggiran kota.

Kondisi itu sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Usman Pelly di Medan, yang mengatakan bahwa orang Melayu (warga asli atau tuan rumah) di Medan cenderung menjual tanah mereka dan pindah ke pinggiran. Hal itu mereka lakukan karena tanah adalah satu-satunya harta mereka yang terpaksa mereka jual untuk bertahan hidup. Pola umum pemukiman perantau kota menurut Turner (1965) yang diambilnya dari kasus-kasus Amerika Latin menunjukkan bahwa para perantau mula-mula cenderung bermukim di atau dekat daerah pusat kota dan kemudian pindah ke pinggiran setelah periode penyesuaian dengan kehidupan kota (Usman Pelly, 1994, hal.279). Di daerah pinggiran itu muncul pemukiman etnik yang tumbuh bersama kota, dan selanjutnya terus dapat menarik perantau-perantau baru masuk dalam pemukiman tersebut.

Sekilas tentang Strategi Adaptasi

Pada zaman lampau dalam beradaptasi, manusia-lah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, seperti dengan pola curah hujan dan vegetasi alam, dan sampai taraf tertentu dengan siklus biologis dan kebutuhan hewan piaraan mereka. Seringkali perubahan alam itu menyebabkan mereka melakukan migrasi musiman agar mereka tetap dapat bertahan hidup (Roger M Keesing, 1999, hal. 138 – 139).

Dalam bukunya Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing  Usman Pelly (1994) menuliskan bahwa strategi adaptasi adalah cara-cara yang dipakai oleh pendatang baru (perantau)  untuk mengatasi rintangan-rintangan yang mereka hadapi dan untuk memperoleh suatu kesimbangan positif dengan kondisi-kondisi latar belakang perantauan. Ia merujukkan definisinya itu pada pendapat sejumlah ilmuwan sosial seperti  Whitten and Whitten (1972), Graves and Graves (1974), Berger (1976).

Lebih lanjut ia menuliskan bahwa strategi-strategi adaptasi tidak hanya ditentukan oleh kesediaan atau keengganan dari masyarakat tuan rumah untuk menerima para perantau dan mengijinkan mereka untuk ikut menikmati sumber daya daerah dan berperan dalam pemerintahannya. Strategi tersebut mungkin mereka rencanakan untuk membantu mereka dalam mencapai suatu tujuan tertentu yang telah terdapat dalam sistem nilai yang diajarkan oleh tradisi daerahnya masing-masing (misi budaya) dengan tetap memperhatikan kendala-kendala yang mungkin diberikan oleh masyarakat tuan rumah.

Dengan demikian Usman Pelly berpendapat bahwa kita harus memerhatikan interaksi antara strategi-tujuan perantau-pendatang (misi budaya) dan latar budaya daerah rantau, karena hal itu akan menpengaruhi strategi adaptasi yang akan dimunculkan. Selain itu, perubahan-perubahan dalam masyarakat tuan rumah akan membawa pengaruh terhadap strategi adaptasi perantau dan struktur sosialnya. Dalam hal ini Usman Pelly mengutip Marshal Sahlin (1976:22) yang berpendapat bahwa perubahan dimulai dari budaya, bukan sebaliknya budaya dimulai dari perubahan. Para perantau itu membuat situasi-situasi baru menjadi bermakna dalam konteks misi budaya yang mereka miliki sebelumnya (Usman Pelly, 1994, hal. 3-4).

Masih merujuk kepada Usman Pelly, setidaknya terdapat dua macam kekuatan yang terus menerus mempengaruhi keutuhan kelompok etnis di daerah rantau kota. Pertama, orang-orang di kampung halaman mengharapkan para perantau menjalankan misi budaya dan mempertahankan identitas etnik mereka, dan kedua, para perantau harus menyesuaikan diri dengan latar budaya tuan rumah. Para perantau harus mengendalikan hubungan-hubungan dinamik antara kebertahanan dan perubahan yang mempengaruhi bagaimana mereka beradaptasi (Usman Pelly, 1994, hal.15).

Kenyataan bahwa para pendatang yang datang dan pergi masih kuat menyandang identitas daerah asalnya adalah salah satu wujud dari strategi adaptasi itu sendiri. Seorang sunda yang berdomisil di Bogor dan bekerja sepanjang hari di Jakarta akan terus membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh negative pergaulan Jakarta dengan tetap menonjolkan ke-Sunda-annya atau komunitas Bogornya. Maka tak heran, jika pada saat ini diantara para pendatang yang datang pergi ke Jakarta dari Bogor mempunyai komunitas informal yang dikenal dengan sebutan Roker (rombongan kerja) atau untuk para pelajar universitas terdapat Komunitas Mahasiswa Bogor (KMB). Kedua kelompok itu terbentuk tidak lain bagian dari strategi adaptasi mereka dalam menghadapi Jakarta dengan cara mempertahankan identitas etnis dan kelompoknya.

Dalam bukunya itu Usman Pelly juga menemukan fakta bahwa kebanyakan perantau Minangkabau yang tinggal di Medan telah memutuskan untuk hidup menetap di rantau, uang untuk membangun rumah-rumah baru terus mengalir dari rantau ke kampung halaman. Pada periode penelitian Usman Pelly, ditemukan fakta bahwa banyak penduduk desa tergantung pada uang yang dikirim oleh keluarga mereka di rantau (Usman Pelly, 1994, hal.256-257).

Kaum migran kota (baik yang permanen maupun yang sirkuler) hanya hidup dari peluang yang mereka ciptakan sendiri. Pada kondisi yang terbatas itu, mereka menciptakan tambahan pendapatan yang tidak seberapa untuk keluarganya di desa. Dengan berbagai cara mereka datang ke kota hanya untuk bekerja dan meminimalkan pengeluarannya dengan tidak menyertakan keluarganya ikut tinggal di kota. Ini adalah pilihan yang tepat bagi para migran perkotaan yang subsisten. Aktivitas kaum urban di kota tersebut adalah penambah darah bagi sistem ekonomi pedesaan yang lesu (Didik J. Rachbini, 1994, hal. 41).

Demikian pula dengan para pendatang di Jakarta, meskipun telah lama menetap di Jakarta, dan dapat dikatakan telah menjadi warga permanen Jakarta, ternyata masih menyisakan asa untuk kembali pulang ke kampung halaman mereka pada suatu saat nanti. Oleh karena itu mereka cenderung tetap mempertahankan entitas keluarga mereka yang masih bertahan di kampung halaman. Hal ini adalah salah satu strategi adaptasi juga bagi mereka untuk tidak kehilangan jati diri mereka sebagai bagian dari entitas tertentu. Jati diri adalah pertanyaan mendasar yang selalu muncul bagi setiap pendatang di tengah himpitan yang mereka rasakan di dunia perantauan.

Hal serupa, pertanyaan tentang jati diri itu tidak hanya muncul dalam masyarakat urban Jakarta saja, bahkan masyarakat dengan tradisi rural-maritim seperti Suku Bajo pun mengalami hal yang serupa. Suku Bajo yang pada saat ini mulai dihadapkan pada tawaran untuk pindah menetap ke daratan dengan harapan penghidupan yang lebih baik pun mengalami kebimbangan. Apakah tawaran semacam itu akan dapat menghilangkan identitas mereka sebagai suku nomaden yang berbasis perairan. Mereka cemas akan masa depan identitas jati diri mereka. Mereka khawatir ke-Bajoan mereka akan hilang, meski akan terganti dengan keteraturan dan kesejahteraan yang ditawarkan. Rupanya tidak mudah untuk menukar identitas jati diri dengan hal material semacam kesejahteraan. (Francois-Robert Zacot, 2008, hal 12-13).

Sebagaimana kita ketahui, Suku Bajo cukup terkenal dengan keluwesannya dalam menyikapi kehidupan. Hal itu antara lain dapat terlihat dalam cara tinggal –bagi pasangan yang baru saja menikah– bersama keluarga besar untuk sementara waktu hingga pasangan itu mempunyai rumahs endiri adalah jalan keluar bagi mereka untuk melangsungkan kehidupan. Setiap rumah pada suku Bajo dapat menampung sepuluh orang dan setiap laki-laki di rumah itu, baik menantu maupun anak laki-laki mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menggunakan perahu, jala, perahu motor untuk mencari nafkah. Tak ada hukum yang menentukan pembagian kekayaan diantara mereka. Keluwesan macam ini adalah salah satu stretegi suku Bajo untuk menguntungkan setiap individu. Secara bekerjasama dalam suatu kelompok, Suku Bajo dapat melakukan tugas masing-masing dengan jelas. Kelompok mana yang bertugas menangkap ikan, lalu siapa yang menangani dan mengolah hasil tangkapan itu, semuanya mereka bagi secara merata. (Francois-Robert Zacot, 2008, hal. 42). Dengan strategi macam itu Suku Bajo masih bertahan hingga saat ini.

Strategi Adaptasi Masyarakat Urban

Dalam kesimpulan bukunya Usman Pelly menuliskan bahwa latar belakang tuan rumah yang berbeda akan memengaruhi strategi adaptasi yang dilakukan oleh para perantau. Tetapi respon terhadap pengaruh luar tersebut akan banyak dipengaruhi oleh identitas dan nilai-nilai (misi) budaya para perantau tersebut. Keputusan untuk melakukan penyesuaian atau tidak terhadap budaya-budaya tuan rumah akan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai (misi) budaya yang telah mereka bawa dari kampung halaman mereka. Nilai-nilai itu juga turut menentukan jenis pekerjaan, pemukiman dan asosiasi kemasyarakatan apa yang akan mereka pilih dalam dunia rantau (Usman Pelly, 1994, hal.287-288).

Sementara itu menurut pendapat Nancy B. Graves (1974) dalam melakukan adaptasi terhadap apa yang mereka hadapi di wilayah rantau, masyarakat urban mempunyai beberapa variable yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan mereka dalam adaptasi, yaitu sebagai berikut:

  1. variable kognitif yang dapat berupa pengetahuan, kepercayaan terhadap sesuatu, dan harapan mereka terhadap berbagai kemungkinan dan peluang yang akan mereka dapatkan di perantauan
  2. variable motivasi yaitu berupa kebutuhan untuk mencapai sesuatu dan memberikan masa depan untuk anak-anak mereka di masa yang akan dating
  3. variable kepribadian seperti sikap yang fleksibel (lentur) dalam menghadapi masalah, optimism, kedisiplinan waktu dan sikap berani mengambil resiko

Selain itu dalam masyarakat urban terdapat berbagai macam strategi adaptasi yang mereka lakukan dalam menghadapi dunia barunya. Seorang laki-laki akan mempunyai strategi yang berbeda dengan seorang perempuan. Seorang laki-laki akan cenderung aktif dan mengambil peranan penting dalam beradaptasi, sedangkan perempuan akan lebih bersifat pasif, termasuk dalam membantu sesamanya. Strategi adaptasi yang mereka gunakan terdiri dari dua bagian, yaitu:

  1. Strategi internal yang terdiri dari reframing (mengubah pendangan bahwa mereka mampu mengatasi permasalahannya) dan pengharapan pasif (pasrah atau tawakkal)
  2. Strategi eksternal yang terdiri dari dukungan spiritual, dukungan sosial dan pencarian bantuan

Dalam suatu penelitian terhadap masyarakat pedesaan dan perkotaan, dapat diketahui bahwa masyarakat pedesaan banyak menggunakan lima strategi tersebut di atas dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Namun demikian kedua masyarakat tersebut sama-sama sering menggunakan reframing, dukungan spiritual dan sosial dalam melakukan strategi adaptasinya. Masyarakat perkotaan kurang banyak menggunakan strategi pengharapan pasif dan lebih sering menggunakan pencarian bantuan, baik kepada teman atau keluarga, dalam strategi adaptasinya (Ramona Marotz Baden, 1986).

Refleksi: Sengsara membawa Nikmat

Lalu bagaimana dengan masyarakat urban di Jakarta? menurut hemat saya beberapa strategi adaptasi yang telah dipaparkan di atas juga dilakukan oleh masyarakat urban Jakarta dalam mengatasi problematika hidupnya. Betapapun susahnya problem urban yang mereka hadapi, mereka akan mencari cara untuk bertahan hidup.

Dalam hal ini saya teringat suatu tulisan Achmad Fedyani Saifudin dalam Catatan Reflektif Antropologi Sosial Budaya (2011) bahwa dibalik kondisi involusi yang tercipta dalam kehidupan masyarakat petani, sesunguhnya terdapat suatu proses berpikir, suatu proses memilih pemecahan permasalahan yang dilakukan oleh para petani dalam menghadapi hidupnya yang subsisten. Konsep dibalik slogan “mangan ora mangan sing penting ngumpul” (makan atau tidak, yang penting berkumpul bersama keluarga) adalah strategi adaptasi yang dilakukan oleh para petani yang terlahir dari pemikiran involutif tersebut.

Hal ini juga selaras dengan pendapat Ramona (1986) bahwa masyarakat rural cenderung pasrah dalam proses adaptasi yang dilakukannya.Tapi tidak demikian dengan masyarakat urban, mereka cenderung berjibaku, menggunakan strategi yang paling rasional dan yang paling mungkin untuk dilakukan. Bersikap pasrah bagi masyarakat urban di tengah himpitan kehidupan kota adalah sama dengan bunuh diri. Bagi mereka berbagai cara harus dilakukan, segala bantuan yang dapat diwujudkan harus diusahakan, bantuan kepada keluarga kepada teman tak segan-segan mereka lakukan. Rasa gengsi atau malu harus dapat dihilangkan untuk sementara waktu. Segala jenis pekerjaan yang mereka anggap mungkin akan segera mereka lakukan.

Lihatlah contoh dari kisah hidup si Nelly juragan beras berikut ini:

“Di kalangan para pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), sosok Nellys Soekidi sudah sangat populer. Memiliki lima kios dan gudang penyimpanan beras di PIBC, ia tercatat sebagai juragan beras yang cukup besar di Pasar Induk Beras Cipinang. Selain memiliki lima kios di pasar induk, ia juga memiliki delapan toko beras lain yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Di antaranya di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, Bintaro, dan Cengkareng.”

“Sukses yang diraih Nellys tidak datang begitu saja. Terlahir dari pasangan buruh tani, ia hanya bisa menamatkan bangku sekolah menengah atas (SMA) di Ngawi, Jawa Timur. Lantaran kondisi ekonomi orang tuanya yang lemah, ia pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Sama seperti kaum urban lainnya, tujuannya datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Tapi karena tidak memiliki keahlian, ia hanya bekerja serabutan dengan menjadi tenaga kasar di proyek-proyek bangunan. Jika proyek sedang sepi, ia menghabiskan waktu dengan mengamen di terminal dan bus-bus kota. Sebagai pengamen, ia biasa mangkal di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.”

“Saat mengamen inilah ia bertemu dengan seorang teman dari kampung halaman. Oleh temannya, ia diajak membantu mengelola toko beras milik bosnya di PIBC. Di toko beras tersebut, ia diperbantukan di bagian pembukuan. Tugasnya mencatat semua pengeluaran dan pemasukan toko. Meski mengemban tugas yang penting, Nellys mengaku tidak digaji secara layak oleh bosnya tersebut.  Kendati demikian, ia tetap berusaha menyisihkan hasil jerih payahnya itu sedikit demi sedikit.”

“Di luar materi, sesungguhnya ia banyak mendapat pengalaman baru. Selain mendapat pengetahuan seputar ilmu akuntansi atau pembukuan, ia juga banyak mendapat relasi para pemasok beras dari berbagai daerah, seperti Cirebon dan Garut. “Selama bekerja saya selalu berusaha jujur, dan itu dinilai oleh para pemasok beras yang menjadi mitra bos saya,” ujarnya. 
Pada tahun 1993, ia memutuskan berhenti bekerja dari toko tersebut. Berbekal ilmu akuntansi dan relasi yang sudah dimilikinya, ia nekat berjualan beras sendiri. Awalnya ia berjualan di los pasar induk dengan modal hanya Rp 3 juta. “Itu hasil menabung selama bekerja,” ujarnya. Kendati bermodal cekak, tapi ia mendapat dukungan dari pemasok beras yang menjadi relasinya.  (http://peluangusaha.kontan.co.id, Selasa, 6 Maret 2012)

Itulah salah satu profil strategi adaptasi masyarakat urban Jakarta, dengan berbekal nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya seperti kejujuran, keulatan, hemat, dam tentunya pergulatan hidup yang tak pasrah, akhirnya dapat menemukan kehidupan yang menjadi impian setiap masyarakat urban. Dalam titik ini saya teringat judul sebuah novel yang ditulis oleh Tulis Sutan Sati dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1929, tak lain tak bukan “Sengsara membawa Nikmat” itulah gambaran strategi adaptasi masyarakat urban Jakarta.  

Sumber Referensi: 

Chandrakirana, Kamala. Dinamika Ekonomi Informal Di Jakarta: Industri Daur Ulang, Angkutan Becak dan Dagang Kakilima. Jakarta: Center for Policy and Implementation Studies, 1994.

Jellinek, Lea. Seperti Roda Berputar: Perubahan Sosial Sebuah Kampung di Jakarta. Jakarta: LP3ES, 1995.

Keesing, Roger M. Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1999.

Murray, Alison J. Pedagang Jalanan dan Pelacur Jakarta: Sebuah Kajian Antropologi Sosial. Jakarta: LP3ES, 1994.

Pelly, Usman. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: LP3ES, 1994.

Rachbini, Didik J. Ekonomi Informal Perkotaan. Jakarta: LP3ES, 1994.

Saifuddin, Achmad Fedyani. Catatan Reflektif Antropologi Sosial Budaya. Institut Antropologi Indonesia, 2011.

Zacot, Francois-Robert. Orang Bajo Suku Pengembara Laut: Pengalaman Seorang Antropolog. Jakarta: Kepusatakaan Populer Gramedia (KPG), 2008.

Hans-Dieter Evers. The End of Urban Involution and the Cultural Construction of Urbanism in Indonesia. Paper read at a conference: Asian Horizons: Cities, States and Societies. Singapore 1-3 August 2005 Panel “Globalization and City Autonomies”. Chairman: Ho Kong Chong, Dept. of Socioloy, National University of Singapore.

Nancy B. Graves and Theodore D. Graves. Adaptive Strategies in Urban Migration. Annual Review of Anthropology, Vol. 3 (1974), pp. 117 – 151.

Ramona Marotz Baden and Peggy Lester Colvin. Coping Strategies: A Rural Urban Comparison. Family Relation, Vol. 35, No. 2 (Apr 1986), pp. 281 – 288.

Surat Kabar dan Sumber lainnya:

Kompas.com, Minggu, 5 September 2010 “Foke: Urbanisasi ke Jakarta Menurun”.

Okezone, Kamis, 21 Juli 2011 “Urbanisasi Jakarta Menurun tiap Tahun”.

Koran Jakarta, Rabu, 31 Agustus 2011 “Wawancara Syarif Hidayat: Pendatang Baru Menjadi Dilema Ibu Kota”

Simpelbisnis.wordpress.com, 17 September 2011 “Arus Urbanisasi ke Jakarta Pasca Lebaran 2011”.

Inilah.com, Rabu, 16 Mei 2012 “Manisnya Jakarta”.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota

http://peluangusaha.kontan.co.id, Selasa, 6 Maret 2012 “Dulu pengamen, kini Nellys juragan beras (1)”

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: