Kisah tentang Bemo (3): Ada Tuyul dalam Bemo

Image

Setelah beristirahat sejenak, seperti biasa saya menyegarkan kerongkongan dengan teh botol, saya mulai melihat ke arah pasar Benhil, adakah bemo yang langsung kembali melaju ke arah Pejompongan. Ternyata saya melihat ada dua bemo yang mulai melaju perlahan menuju ke arah saya. Saya segera bergegas menuju bemo yang paling depan. Seperti pilihan saya, bangku kosong bemo itu masih kosong melompong.

Saya menyetop dan berkata kepada sopir “Pejompongan pak?”

Ia menjawab dengan cepat “ iya, Pejompongan, langsung langsung….”

Saya membuka pintu bemo dan duduk dengan perasaan lega lalu disambut dengan pertanyaan sopir bemo, “mau kemana bang?”.

“saya mau ikut muter aja Pak, dari Pejompongan mau kesini lagi, boleh kan?” jawab saya.

“ Oh ya boleh lah….” sopir itu menjawab sembari tersenyum.

******

Sopir bemo ini tampak ramah, dan terlihat rada selenge’an, ia beberapa kali menyapa beberapa orang yang melintas dengan sendau gurau gaya betawi sambil merayapkan bemonya menuju Pejompongan. Saya dengan mudah memperoleh banyak kesempatan untuk ikut nimbrung dalam gurauannya itu dan dalam beberapa kejap saya mengetahui bahwa sopir itu bernama “Manaf”, begitu ia menjawab dengan mantaf. Menurut pengakuannya usianya sudah 60 tahun. Saya hampir tak percaya, karena dari parasnya yang dekil itu, ia kelihatan lebih muda dan mungkin berusia sekitar 50 an tahun. Bapak ini banyak tersenyum dan bergurau, sambil menyopir bemonya ia menyeletuk khas Betawi. “Saya bukan orang betawi bang, tapi saya kelahiran asli Tanah Abang. Dari orok sampai punyak banyak anak saya tinggal di wilayah ini, tapi saya bukan betawi, bapak ibu saya dari Jawa, entah darimana lah….”, begitu akunya kepada saya.

Tak banyak orang yang menumpang bemo Pak Manaf pada sore itu. Dalam rayapannya, hanya dua atau tiga orang saja yang menumpang untuk jarak pendek. Tapi sopir itu tampak santai dan menawarkan kepada saya untuk berputar di jalan Pejompongan raya dan berputar di U Turn persis depan kantor polsek Pejompongan, sebelum kuburan Karet. Saya tentu saja menerima tawaran itu, karena berarti saya dapat berbicara lumayan lama dengan sopir bemo itu. “Saya mau muter nyari sewa bang, lumayan kan ini jamnya sewa….”, begitu sopir itu memberi alasan. Saya melirik penanda waktu di Hp saya, memang jam sudah menunjukkan jam lima sore lebih, sudah hampir setengah enam sore, memang saat itu adalah saat orang pulang kantor, dan jalan Pejompongan hingga Penjernihan memang terlihat cukup padat, banyak kendaraan yang mulai melintas menuju ke arah Permata Hijau atau Kebayoran, arah ke selatan Jakarta.

******

Sama halnya dengan sopir sebelumnya, pak Manaf telah menjadi sopir bemo sejak akhir tahun 1970 an dan tak pernah berhenti sama sekali. Katanya ia menyopir sejak masih bujangan hingga sekarang kelima anaknya sudah besar-besar, jumlah bemonya yang semula sempat berjumlah enam buah hingga saat ini hanya tersisa satu bemo, yaitu bemo yang ia kemudikan saat ini. “Saya nggak tau tuh bang pada kemana bemo saya, tau tau dah habis aja kejual, ya tinggak eni ni yang saya sopirin”, begitu tukasnya sambil tergelak. Lalu sembari bermaksud menghibur saya katakana mungkin lima bemonya yang terjual telah terpakai untuk bertahan hidup dan bisa membesarkan anak-anaknya hingga mandiri. Ia menjawab “iya juga kali ya……….” lalu pak Manaf tertawa lepas. Saya menangkap aura kelegaan dan keceriaan pada romannya, mungkin itu adalah rasa syukurnya karena tak terasa sudah berjalan sejauh ini, menempuh pahit getir seorang sopir bemo yang saya tak pernah rasakan persis rasanya.

Ayah saya memang juga sopir bemo yang kemudian pada pertengahan tahun 1980 an ia konversikan bemonya menjadi angkutan kota. Sejauh ingatan saya, sejak saat itu angkutan kota ayah saya terus bertambah menjadi empat buah, dan dengan itulah ia membesarkan kami keempat anaknya hingga dapat bersekolah, bahkan saya terus terbiayai untuk menuntut ilmu kemana pun saya mau. Hingga kemudian krisis ekonomi 1998 menerpa, onderdil mobil mulai melambung, harga bensin dan berbagai minyak pelumas juga turut melambung, mulai banyak sopir bemo yang mulai terhimpit oleh krisis itu, termasuk ayah saya. Sejak saat itu di Surabaya, mengurus angkutan kota tak semanis masa-masa sebelumnya. Mungkin hal itu juga yang pernah dirasakan oleh pak Manaf. Saya hanya mencoba untuk menerka-nerka, saya masih segan untuk bertanya lebih jauh.

Setelah bemo melewati kemacetan jl Penjernihan dan mulai masuk lagi ke kawasan Benhil saya mulai banyak bertanya kepada pak Manaf. Beberapa pertanyaan yang saya sampaikan, masih sama dengan pertanyaan yang saya sampaikan kepada sopir bemo sebelumnya. Menurut keterangan pak Manaf mesin bemo adalah mesin dua tak yang mudah untuk dirawat secara mandiri oleh sopir bemo. Karena menggunakan mesin dua tak, bahan bakar bensin untuk bemo harus dicampur dengan oli mesin dengan takaran satu dibanding empat, artinya satu liter oli digunakan untuk mencampur empat liter bensin. Begitulah agar bemo tetap terawat dengan baik. Untuk soal hitungan rit, menurut pak Manaf tidak ada aturan rit yang diberlakukan untuk sopir Bemo, yang penting buat mereka tetap saling menggunakan tenggang rasa antar sesama pengemudi bemo atau sesama angkutan lainnya. Pak Manaf menggambarkan batas tenggang rasa itu dengan mengatakan “Kalau mau muter nih bang, mau motong tengah jalan, yang penting depan belakang sudah nggak kelihatan bemo lain, nah udah tuh muter aja…..biar nggak berantem ama yang lain. Jadi kita bebas menentukan rute mau lewat mana duluan, mau lewat Pejompongan dulu atau langsung ke Penjernihan terus balik, ya boleh aja, semuanya kita atur sendiri…”

Lalu saya bertanya bagaimana hubungan antara para pengemudi bemo dengan jasa angkutan lainnya, seperti ojeg atau mikrolet yang akrab disebut sebagai APB (Angkutan Pengganti Bemo) oleh para penumpang. Pak Manaf menjelaskan, bahwa toleransi dan kesepahaman telah terbangun diantara mereka, bahkan di beberapa titik kita dapat melihat para sopir bemo berkumpul bersama dengan tukang ojeg. “Kita serahkan semuanya kepada penumpang, mau naek yang mana sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Memang ada sih penumpang yang fanatik maunya naek bemo, nggak mau naek yang lain, biasanya tuh ibu-ibu yang mau ke pasar atau nganter anak-anak sekolah, kebanyakan perempuanlah yang mau naek bemo. Tapi ada juga bang, yang nggak suka naek bemo, karena mikirnya dekil, kotor, pokoknya nggak mau aja gitu. Ada juga yang gitu….”

Namun pada saat ini, menurut pak Manaf, penumpang bemo mulai berkurang, banyak perempuan atau anak-anak sekolah yang sudah menggunakan sepeda motor. Banyaknya peredaran sepeda motor di jalanan, pada saat ini terasa signifikan untuk mengurangi penghasilan sopir bemo. Sama dengan sopir sebelumnya, pak Manaf mengatakan bahwa masa kejayaan bemo telah berakhir, jauh berbeda dengan periode 1980an yang sangat ramai penumpang. Rute trayek bemo pada saat itu juga lumayan panjang, dari pasar Tanah Abang hingga ke Benhil atau Karet. Tapi dengan munculnya APB dan berbagai moda transportasi lainnya, dengan alasan mengurangi kemacetan, trayek bemo diperpendek tidak lagi sampai ke pasar Tanah Abang. Bahkan dibagi menjadi dua bagian, yaitu rute Tanah Abang – Karet, dan Benhil – Pejompongan.” Dulu bang, bemo kita bagi jadi tiga sift, itu aja masih sampe pegel kita nyopirnya, ngider terus nonstop. Nah, sekarang buat sendiri aja sudah lemas (tidak banyak keuntungan yang didapatkan) apa lagi dibagi dua, bisa mati kita!”, begitu tutur pak Manaf sambil menghentikan bemonya untuk ngetem sejenak di mulut jalan H. Abdul Latif yang belakangan saya baru tau kalau jalan itu oleh warga Benhil dikenal dengan Kalimati.

******

Saya mulai menghitung waktu, tampaknya memang benar-benar tak ada penumpang yang naek dari Kalimati. Pak Manaf mulai menggerutu “duh, bener-bener dah, nggak ada sewa (penumpang)!”. Saya mulai melihat kegusaran di wajahnya, barangkali ia belum banyak mendapat uang hari itu, sementara hari mulai gelap. Saya terus melanjutkan pertanyaan, sambil sesekali ikut berkomentar yang menunjukkan simpati saya kepada sopir bemo yang tak banyak mendapat penumpang itu.Pertanyaan saya ini mungkin adalah pertanyaan terakhir, yaitu perihal organisasi untuk para sopir bemo, retribusi atau iuran yang harus mereka bayarkan untuk  organisasi itu dan soal status bemo yang menurut pengetahuan saya berstatus ilegal.

Untungnya pak Manaf masih bersemangat untuk menjawab pertanyaa-pertanyaan saya.Ia mengatakan bahwa di Benhil, para sopir bemo mempunyai paguyuban yang mengayomi para sopir bemo. Meski bukan organisasi resmi, tapi paguyuban itulah yang mewakili para sopir bemo jika menghadapi suatu masalah. Termasuk soal rencana pemerintah yang akan menghapus bemo dalam satu atau dua tahun mendatang dari wilayah ibu kota Jakarta. Menurut pak Manaf  dua tahun yang lalu ada tawaran serius dari pemerintah yang akan menggantikan bemo dengan kendaraan angkutan kota seperti APB yang telah digunakan untuk menggantikan bemo sejak awal 1990 an. Waktu itu para pemilik bemo boleh mengganti bemonya dengan angkutan kota asal mampu membayar uang muka yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Tawaran itu cukup membuat para sopir bemo menjadi gusar, mengingat tidak semua sopir bemo adalah pemilik bemo. Menurut pak Manaf, banyak sopir bemo yang tidak memiliki bemonya sendiri, melainkan menjalankan bemo milik orang lain. Maka dengan tawaran itu, tentu saja banyak sopir bemo yang tidak bisa mengikuti program kepemilikan angkutan kota yang akan menggantikan bemo-bemo mereka. Ditambah lagi soal rute trayek yang akan bersinggungan dengan rute APB saat ini. Tentu hal itu tidak memungkinkan untuk dapat dilaksanakan. Akhirnya menurut informasi pak Manaf, tawaran itu tidak ada kelanjutannya dan belum terdengar lagi apa rencana selanjutnya yang akan dilakukan pemerintah terhadap bemo-bemo di Benhil.

Terkait dengan retribusi atau iuran, pak Manaf mengatakan bahwa para sopir bemo yang beroperasi dari pagi hingga malam hari (05.00 – 23.00 WIB) terkena retribusi dua kali dalam sehari, yaitu tiga ribu rupiah di pagi hari dan empat ribu rupiah di petang atau malam hari. “Iya bang, iuran itu tuyulan namanya…”, begitu jelas pak Manaf kepada saya. Mendengar kata tuyulan saya cukup tergelitik hingga saya kemudian bertanya, apakah kata tuyulan itu berasal dari kata tuyul? lalu mengapa disebut demikian ? Pak Manaf sambil tertawa hanya mengatakan “nggak taulah, tapi tuyulan itu sudah dari dulu disebut begitu ama orang-orang dulu….boleh jadi memang dari kata tuyul, karena ngambilin atau ngurangin uang kita tiap hari pagi dan sore, kayak tuyul kan begitu…”. Kemudian saya bertanya kepada pak Manaf kepada siapa uang tuyulan itu diberikan? dan untuk keperluan apa?

Menurut keterangan pak Manaf tuyulan itu diberikan kepada Elung di pagi hari dan pak Yono di  malam hari. Selanjutnya ia mengatakan kepada saya “Nanti saya tunjukkan bang, yang namanya pak Yono yang mana, kalu jam segini pasti ada dia, tapi jangan bilang kalau tau dari saya ya….nggak enak saya, ntar dikira ngomong macam-macam”. Sesampai bemo di Benhil dan berputar di depan Pasar Benhil, pak Manaf menunjukkan kepada saya sosok Pak Yono. Seorang pria lanjut usia, prediksi saya umurnya di atas 60 an tahun atau mungkin 70 an tahun. Meski tubuhnya masih terlihat kuat, kita pantas untuk memanggilnya kakek.

Saya pun turun dari bemo, saya berusaha menncari informasi lebih lanjut tentang siapa Elung atau pak Yono ini, tapi pak Manaf terlihat enggan menjawab, dia hanya mengatakan bahwa keduanya adalah orang yang ngurusin bemo di Benhil. Saya kemudian berjalan perlahan di depan pak Yono dan kemudian berdiri di suatu lapak warung rokok dekat dengan posisi dimana pak Yono duduk mengamati bemo. Sayangnya, azan maghrib sudah berkumandang. Pria itu mulai tampak beranjak dari tempatnya, ia menitipkan kursi yang ia duduki kepada tukang ojeg yang berada di sekitarnya. Seperti seorang detektif saya terus mengikuti kemana pak Yono pergi. Ia masuk ke lorong di samping pasar Benhil, menuju ke arah suara dimana azan magrib itu berkumandang. Semakin kencang, suara azan itu, semakin dekat pula rupanya asal suara itu, yaitu sebuah masjid kecil atau saya menyebutnya langgar atau surau dalam lorong pasar Benhil. Saat sholat maghrib saya menyudahi pengintaian saya, kebetulan juga cukup lama saya tak mendirikan sholat magrib berjama’ah, selain itu barangkali solat itu bisa menghalau tuyul yang ada di bemo bemo Benhil….

******

%d blogger menyukai ini: