Kisah tentang Bemo (1): “antara saya dan Bemo…”

Siang itu, setelah sekian lama, saya kembali pergi menuju Bendungan Hilir (Benhil) dengan menggunakan Metromini 604, moda transportasi –yang pernah beberapa lama– menjadi kendaraan favorit saya untuk pergi bekerja, apel malam minggu ke rumah pacar, atau sekedar iseng jalan-jalan sore menuju kawasan Sudirman-Thamrin dari Pasar Minggu atau Pancoran. Siang itu, tujuan saya menuju Benhil untuk melakukan pengamatan pertama atas Bemo Benhil, moda transportasi yang saya ajukan sebagai subjek penelitian saya pada suatu mata kuliah.

Sebenarnya, terkait dengan bemo, pada pekan sebelumnya saya sempat bertanya kepada ayah saya tentang bemo, beliau pernah menjadi sopir bemo di Surabaya pada periode 1980an. Saat itu saya masik kanak-kanak, tak banyak memori tentang bemo yang membekas dalam ingatan saya, selain bahwa ayah saya mempunyai seorang partner sopir, yaitu Pak Tik, begitu kami memanggilnya, seorang Cina tua, berbadan kurus, berwajah kalem, tak banyak bicara. Kalau saya ingat, pak Tik lebih cocok sebagai seorang akuntan, daripada seorang sopir bemo paruh waktu.

Pada kesempatan yang lalu saya bertanya kepada ayah saya, apa yang paling khas dari bemo bagi seorang sopir dibandingkan dengan kendaraan angkutan kota (angkot) lainnya? Beliau menjawab bahwa bemo adalah kendaraan yang simple, mesinnya nggak ribet, hampir setiap sopir yang mengemudikan bemo pasti bisa mengutak-atik mesin bemo-nya untuk melakukan perbaikan-perbaikan kecil. “Kecuali kalau pas turun mesin, baru sopir meminta bantuan montir”, begitu tukasnya. Beliau menuturkan bahwa bemo di Surabaya hanya bertahan hingga akhir 1980 an. Pada rentang 1986 – 1987 bemo-bemo di Surabaya mulai diremajakan dan dikirim ke wilayah barat Jawa, seperti Bandung, Bogor, dan Jakarta.

Pada hari itu akhirnya saya tiba di Benhil  pada siang hari menjelang sore, tepatnya pada pukul 15.30 WIB. Orang-orang sudah tampak lalu lalang di jalanan setelah mengakhiri aktivitasnya di sore itu; beberapa mulai tampak pulang kerja, beberapa tampaknya pulang dari sekolah atau kuliah, dan ada juga yang baru saja selesai berbelanja dari pasar Benhil, tempat bemo-bemo Benhil antri menunggu giliran mengangkut penumpang. Memulai proses penelitian lapangan seperti ini selalu saja masih ada yang berdesir di hati saya, rasa khawatir, cemas, gusar, bertanya-tanya dalam hati, beberapa bayangan asumsi mulai berkecamuk di pikiran, perasaan ingin segera bergegas menuntaskan penelitian, semuanya bertumbuk menjadi satu. Saya mulai menarik napas, sabar, tenang, rileks saja mulai saya sugestikan ke diri sendiri, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menaiki bemo di ujung depan antrian yang telah siap tancap gas itu.

******

Bemo, bunyinya khas, trungtung tung tung tung tung….. asapnya putih tipis dan ngepul, penampilannya dekil dan reot. Ketika saya menaikinya, bodinya sedikit tertekan oleh berat badan saya, maklum  berat badan saya hampir satu kuintal! saya belom sempat mengukur berapa kali berapa ukuran bemo ini, yang jelas bemo bisa membawa 7 penumpang plus satu supir tentunya. Tujuh penumpang itu terdiri dari enam penumpang duduk berhadapan tiga-tiga di bangku bagian belakang, dan satu penumpang duduk di depan mendampingi sopir. Saya duduk di sudut bagian dalam bemo, persis di belakang penumpang yang duduk nyaman di bagian depan. Agaknya bangku penumpang bagian depan itu cukup pas untuk satu orang, tapi entah dengan tubuh saya ini, apakah pas juga? nanti saya akan mendapatkan jawabannya.

Sementara pada bagian belakang, penumpang bemo meski saling berbagi dan berhimpitan. Kami berenam duduk saling berhadap-hadapan. Karena sempitnya bagian belakang bemo itu, dengkul-dengkul kami saling bertatapan, sementara tubuh kami harus berdisiplin menghadap ke muka, tidak ada ruang gerak ke kanan atau ke kiri sama sekali. Di tambah lagi, bangku bemo itu pas sekali untuk ukuran sepasang bokong. Saat itu, persis duduk di hadapan saya –di sudut bagian belakang sopir–seorang gadis belia berparas India. Menurut dugaan saya ia, seorang mahasiswi atau seorang remaja yang baru saja pulang kursus. Ia duduk dengan tenang, tidak canggung mesti berhimpitan, agaknya ia adalah pengguna setia bemo, saya segan untuk bertanya.

Duduk di sebelah kanan saya seorang ibu, menggunakan baju rumahan menenteng beberapa potong lemper atau lontong dalam bungkusan plastik transparan. Persis di hadapan ibu tersebut seorang laki-laki muda membawa tas ransel, bajunya rapih serapih cukuran rambutnya.Lalu disampimg ibu tersebut, pas di mulut bagian belakang bemo duduk seorang ibu yang mungkin berprofesi sebagai guru sekolah, saya mengetahui dari seragamnya seperti seragam ibu guru, dan lagi di Benhil cukup banyak sekolahan di sekitarnya. Di hadapan ibu itu seorang ibu lagi, berdandan lumayan rapih, masih segar dandanannya, agaknya ia bukan berangkat pulang ke rumah, tapi justru baru saja berangkat kerja atau keperluan lainnya. Ibu yang terakhir ini kemudian saya ketahui turun di RS AL Mintohardjo. Nah kan, benar dugaan saya….

Bemo melaju, tidak ada kejadian yang perlu diperhatikan. Selama perjalanan yang hanya berdurasi kurang lebih 10 – 15 menit itu saya gunakan untuk mengamati kondisi bemo, sesekali mengintip bagian depan bemo, yang sama rongsoknya dengan bagian belakang. Saya perhatkikan bagaimana sopir mengemudikan bemonya, lalu pandangan saya menyapu gambar angka berwarna putih yang mulai memudar “ 2500” di bagian dalam terpal penutup bemo. Saya bergumam dalam hati “oh, ongkosnya 2500 rupiah”.  Tadinya saya berpikir ongkos bemo hanya 2000 rupiah sahaja. Lalu menjelang perempatan antara Benhil, jalan Danau Tondano, jalan Penjernihan, dan jalan H. Abdul Latif, saya mulai menebak nebak apakah bemo lurus menuju ke Penjernihan atau belok kanan menuju Tondano lalu masuk ke jalan Pejompongan? saya belum tau persis bagaimana rute trayek bemo itu sebenarnya. Hingga kemudian, bemo belok ke kanan memasuki jalan Danau Tondano kemudian masuk ke jalan Pejompongan.”Oh,ternyata lewat sini, bukan lurus ke Penjernihan”, gumam saya dalam hati.

Memasuki jalan Danau Tondano, enam penumpang –termasuk saya– masih tersisa dalam bemo. Satu penumpang kemudian turun di mulut jalan Danau Toba. Ketika itu saya melongok pingin tau berapa ongkos yang dibayar oleh ibu guru itu. Ternyata, hanya dua ribu rupiah, bukan dua ribu lima ratus sebagaimana tulisan angka yang tertera di bagian dalam terpal penutup bemo. Setelah memasuki jalan Pejompongan, saya banyak melihat beberapa bemo berjajar di pinggir jalan, tanpa sopir, hanya diparkir begitu saja. Saya kemudian memutuskan untuk turun di depan warung nasi goreng anglo “Bumen Jaya II” langganan saya. Ternyata pada saat saya mengisyaratkan akan turun, ada dua orang sekaligus yang ikut turun, yaitu remaja perempuan di depan saya dan seorang ibu yang persis ada di sebelah kanan saya itu. Jadi cukup praktis, isyarat suara saya kepada pak sopir “Pak, kiri ya Pak…” bermanfaat juga untuk dua orang perempuan itu. Mengetahui keduanya akan turun, saya menahan diri, saya turun paling belakangan,sambil ingin tau berapa ongkos yang mereka bayarkan kepada sopir, ternyata sama dua ribu rupiah!

******

Turun dari bemo, sesaat saya serasa mati gaya. Mau kemana ini saya lanjutkan pengamatan. Saya terus berjalan menyusuri jalan Pejompongan hingga ke pertigaan Pejompongan Raya. Ada dua atau tiga bemo yang terparkir di pertigaan Pejompongan itu. Lalu saya melihat beberapa sopir bemo yang mungkin juga bercampur dengan tukang ojeg berbincang-bincang santai di seberangnya. Bemo itu tak terlihat seperti bemo ngetem, yang antri menunggu calon penumpang sebagaimana di pasar Benhil. Saya mulanya ingin menghampiri kumpulan sopir bemo dan tukang ojeg itu, tapi kemudian saya batalkan. Pikir saya dengan pendekatan itu, kentara sekali saya seperti seseorang yang sedang sengaja mengamati bemo. Hal ini belum ingin saya lakukan, sebagaimana saya agendakan sebelumnya, pada penelitian lapangan pertama kali ini, saya akan mengamati dahulu, ngobrol santai, menyelami suasana dengan perlahan dan menikmati hari yang mulai semakin sore. Saya lihat jam pada hand phone saya, jam 04.00 WIB rupanya.

Pandangan saya tertuju pada suatu warung semi permanen yang nempel di taman jalan, warung mie rebus dengan sajian meja berbagai macam gorengan, seperti pisang goreng, uli goreng, lontong oncom dan beberapa makanan ringan lainnya. Layaknya orang yang mampir –entah dari mana dan mau kemana– saya langsung duduk di warung dan memesan mie rebus plus teh botol. Persis di depan warung itu, terparkir dua bemo yang sopirnya entah dimana. Sesaat kemudian saya mulai menyantap mie rebus saya dan sesekali menabrakkan pandangan saya kepada dua orang pemuda, satu seperti pegawai kantoran dan yang satu tampaknya anak atau kerabat pemilik warung. Berbasa-basi saya tawarkan kepada mereka “mari, makan mas….”. Mereka menjawab, “oh, ya silahkan silahkan…”. Tidak lama kemudian, salah seorang diantara mereka beranjak dari tempatnya dan mulai memasukkan beberapa ember kosong ke dalam bemo yang terparkir di depan warung.”oh, sopir bemo, tuh orang…”, gumam saya dalam hati.

Tidak lama kemudian –kebetulan saya sudah selesai makan, tapi sengaja bertahan di warung sambil perlahan menghabiskan minuman saya– bemo tadi datang kembali. Anak muda tadi turun dan mulai mengeluarkan ember yang kini telah penuh berisi air. Terdapat empat atau lima ember yang ia turunkan dari bemo, ia membawanya ke dalam warung. Sesudahnya dengan terengah-engah ia mulai mengambil rokok dan mencari koreknya di atas meja di hadapan saya. “Aduh… pegel…” gumamnya sambil menyulut rokok di hadapan saya. Saya menyaut itu dengan bertanya, sebagai tanda keakraban,“ngambil air dari mana mas?”. Ia menjawab, “disitu…biasa deket sini.” Saya terus menyambung, “bemonya milik mas juga nih….?”. Ia menjawab “nggak, mas. pinjem aja dari sopir yang mangkal disini….itu tuh orangnya yang pada ngumpul…”. Dengan jawaban itu saya berpikir bahwa, sudah terdapat hubungan yang akrab sekali antara si pemilik warung ini dengan para sopir bemo itu.

Saya tidak melewatkan kesempatan berbicara itu dengan begitu saja. Di sela-sela pembicaraan ngalor-ngidul, kemudian saya mengetahui bahwa pemuda itu adalah salah seorang putra dari pemilik warung itu. Ia dengan ibunya dan beberapa orang saudara perempuannya membuka warung disitu, entah sejak kapan saya tidak sempat tanyakan. Yang penting, setelah saya mengetahui bahwa mereka berasal dari Tasikmalaya. Logat bicara mereka pun, setelah saya perhatikan benar-benar, memang berlogat sunda. Saya kemudian mengganti sapaan “mas…” dengan “aa’…”.

Setelah berbasa-basi agak lama, saya sengaja memesan minuman lagi. Saya sengaja ingin nongkrong agak lama di warung itu. Saya pikir, jika cocok, nantinya warung itu akan berguna untuk tempat saya mangkal pada penelitian kali ini. Saya kembali membuka pertanyaan kepada pemuda yang tadi membawa ember-ember air dengan bemo, “A’….bisa juga ya nyopir bemo? sudah lama belajarnya? atau jangan-jangan emang sopir ya?” begitulah tanya saya kepadanya dengan nada bergurau. Si pemuda yang duduk tak jauh dari saya sambil menikmati rokoknya dengan tersenyum menjawab, ”iya sudah lama saya bisa nyopir, disini banyak bergaul sama sopir-sopir bemo jadi diajarin bawa bemo, susah juga lho bawa bemo, saya aja yang sudah bisa bawa mobil sebelumnya, harus belajar lagi, tapi bawa bemo tuh enak, enteng…..”.

Selanjutnya dengan semangat ia mulai menjelaskan apa bedanya antara bemo dan mobil, terutama soal gigi dan pedal perseneleng. Saya tak begitu paham  untuk pembicaraan itu. Saya menyauti sekenanya aja. Hingga kemudian saya selipkan pertanyaan “bemo-bemo ini beroperasi dari jam berapa sampai jam berapa ya A’?” . Ia menjawab bahwa bemo mulai beroperasi dari mulai habis subuh, jam lima pagi hingga larut malam jam 11.00 WIB pun terkadang masih ada satu atau dua bemo yang beroperasi. Lalu tanpa pertanyaan pembuka dari saya si pemuda itu bilang. “ di Jakarta mah, pangkalan bemo yang paling ramai ya disini, di Benhil. bemo-bemo sini banyak yang datang dari Surabaya, Malang, Bogor, Bandung juga ada. Itu yang keliatan baru-baru tuh dari Malang kebanyakan…”. Entah benar atau tidak pernyataan itu, saya tidak begitu hirau.

******

Tidak terasa sudah hampir satu jam lebih saya nongkrong di warung itu, ngobrol ringan dengan si pemuda tadi, dan sesekali berdiam sambil mengamati keadaan sekitar. Saya tidak menanyakan siapa namanya, begitu pun ia juga tak bertanya tentang siapa dan apa saya sebenarnya. Dia cuman sempat bertanya, tinggal di mana Pak? saya jawab Bintaro. Meski tak saling kenal, sebagaimana orang Indonesia kebanyakan, hal itu tidak menghalangi obrolan kami ngalor ngidul, berbicara soal pengalaman dia berkendara motor menuju ke Tasikmalaya, lalu saya membalasnya dengan kisah saya yang pernah terdampar seorang diri di pelosok Tasikmalaya di malam buta. Mungkin itu strategi dia sebagai seorang pedagang, menahan berlama-lama orang yang mampir di warungnya selama si fulan banyak menyantap apa yang mereka tawarkan.

Hari mulai beranjak petang, jam di handphone saya menunjukkan pukul lima lewat 20 menit. Saya mulai berdiri mendekati pemilik warung dan melakukan semacam “pengakuan dosa” atas apa saja yang telah saya santap. Semuanya 20 ribu rupiah. Cukup mahal untuk semangkok mie rebus, beberapa gorengan dan kerupuk. Mungkin, mereka pikir saya orang yang sedang lewat, jadi sesekali musti dihadiahi harga yang mahal!.

Dari pangakalan bemo di Pejompongan itu, saya hendak kembali ke pangalan bemo di pasar Bendungan Hilir. Tak lama, saya beranjak dari warung, lewat bemo yang baru saja berputar dari Pejompongan Raya. Bemo itu dalam keadaan kosong, meski saya tak sempat meminta duduk di bagian depan bersama sopir.

Sesampai di pangkalan bemo di Bendungan Hilir, saya mencoba kembali berjalan menyisir dari arah Jl. Sudirman menuju ke arah pasar Benhil. Saya ingin merasakan moda transportasi apa yang pertama kali didapati oleh calon pengguna jasa ketika pertama kali memasuki kawasan ini. Moda transportasi yang pertama-tama akan kita temui adalah ojeg yang, menurut sepengetahuan saya terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok tukang ojeg yang mangkal di halte Benhil Jl Sudirman (depan Wisma BRI) hingga ke pinggiran jalan Benhil (sebelum Pasar Benhil) dan kelompok tukang ojeg yang mangkal di depan Pasar Benhil hingga pangkalan mikrolet di depan Rumah Makan Sunda Ampera. Kelompok ojeg yang pertama ini tidak terkoordinir dan boleh datang dari mana saja di luar warga Benhil, sehingga jumlahnya tidak menentu, kadang banyak kadang sedikit. Sedangkan kelompok yang kedua terkoordinir dan beranggotakan warga Benhil.

Selanjutnya setelah ojeg, kita akan mendapatkan bajaj dalam jumlah hanya sedikit saja dan berbaur bersama ojeg yang mangkal persis depan Pasar Benhil. Setelah mendapatkan dua moda transportasi itu, barulah kita menemui antrian bemo yang berada di depan Pasar Benhil sepanjang 15 sampai 30 meter berbanjar dua baris  menghadap ke arah barat. Setelah itu, beberapa puluh langkah di depan antrian Bemo, barulah kita temui antrian mikrolet yang biasa disebut APB oleh para penggunanya, terutama warga Benhil. APB adalah singkatan dari Angkutan Pengganti Bemo. Mikrolet ini mempunyai trayek perjalanan Bendungan Hilir-Tanah Abang-Roxi.

Sambil memperhatikan deretan moda transportasi itu, tanpa terasa saya telah tiba di depan Rumah Makan Sunda Ampera, beberapa meter di depannya persis di samping pangkalan APB, terdapat Bakso Muaro Padang, yang cukup terkenal kenikmatan bakso dan rujak buah yang segar. Persis di depan Bakso Muaro terdapat salon Laris, yang setau saya cukup dipadati banyak pengunjung, terutama di siang hari. Sehingga dapat saya katakan tepat di sinilah pusat kemacetan terjadi di Benhil, sebab antrian moda transportasi dan hilir mudik mobil yang lewat atau akan mencari parkir, baik di warung makan, masjid, salon, pertokoan, bank, dan usaha foto copy percetakan bertemu menjadi satu.

Saya duduk beristirahat di depan Rumah Makan Sunda Ampera, sambil menikmati dinginnya teh botol. Maklum, gerah sekali cuaca hari itu. Meski sudah hampir jam enam sore, matahari masih belum bergiliran jaga dengan sang bulan. Petang masih cukup terang, cukup jelas bagi saya untuk melakukan pengamatan di hari pertama itu.

******

Kawasan Bendungan Hilir menurut saya adalah kawasan yang cukup padat penduduknya. Di Benhil terdapat berbagai macam tempat yang menyebabkan orang-orang hilir mudik datang dan pergi, dari mulai sekolah SD-SMP-SMA, kantor, pasar, tempat kuliner, rumah sakit, apartemen, rumah susun, juga terdapat pemukiman yang padat penduduk. Pemukiman itu terdiri dari dua jenis, yaitu pemukiman kampung dan pemukiman komplek. Pemukiman kampung adalah pemukiman yang terdapat pada gang gang atau lorong lorong sempit yang tak dapat dilalui mobil dan letak rumahnya saling berhimpitan satu sama lain. Sedangkan pemukiman komplek terletak pada jalanan yang lebih besar, mobil dapat melintas dan letak rumah tidak saling berdesak-desakan satu sama lain.

Di wilayah pemukiman itu, baik yang kampung atau yang komplek beberapa warga menyediakan jasa indekost bagi para pekerja di sekitar Sudirman-Thamrin. Para pekerja itu memilih kawasan seperti Benhil yang relatif dekat dengan tempat kerja mereka, sehingga tidak memakan banyak waktu dan biaya untuk mencapainya setiap hari. Saya memang belum memastikan berapa besar volume orang-orang yang lalu lalang di Benhil itu setiap hari. Tapi tentu  besar volumenya, baik orang yang datang dan pergi seperti para karyawan kantor, anak sekolah, yang hendak ke rumah sakit atau datang untuk berwisata kuliner, yang datang ke tempat fotocopy atau percetakan, atau pergi ke pasar Benhil; maupun orang yang bermukim di Benhil secara permanen, tentunya mereka juga setiap hari melalui kawasan Benhil-Pejompongan dan menggunakan berbagai moda transportasi yang ada itu.

Kurang lebih seperempat jam saya duduk di depan rumah makan itu, mengamati keadaan sekitar, beberapa tukang ojeg bersiap di atas motornya, timer APB terus berteriak memanggil calon penunpang angkotnya, dan saya melihat ada satu dua bemo yang juga berhenti di depan rumah makan Ampera itu dengan mesin tetap menyala dan seperti hendak segera berangkat. Sopir bemo juga memanggil orang-orang yang lalu lalang itu, lalu satu dua orang naik ke bemonya, bemo itu pun langsung melesat meninggalkan tempat itu. Seperti bemo itu, saya juga melesat pulang ke rumah, saat itu azan Magrib mulai berkumandang.

******

%d blogger menyukai ini: