Kenapa saya memilih NU?

Nama saya Erwin, ya Erwin to’til. sebut saja begitu. Saya bukan Solechan, bukan Ulil, bukan Nusron, bukan Said, bukan As’ad, bukan Hasyim, bukan Durahman. Saya Erwin To’til. Nama yang sama sekali tak berbau islam, bukan nama santri, bukan nama kaum sarungan. Saya terlahir di suatu kampung di Surabaya, dimana orang-orang NU dan kaum abangan tinggal berdampingan. Meskipun yang abangan lebih dominan, mereka leluasa untuk mabuk miras lalu tertidur di serambi musholla. Musholla kampung itu, adalah musholla tua yang didirikan antara lain oleh buyut saya. Orang menyebutnya kiai Arti Munah. Tapi sepeninggal beliau, tak ada lagi yang mengisi musholla untuk berjama’ah. Pengikut jama’ah sholat sekaligus imamnya datang dari kampung lain. Itulah canggihnya kampung saya kala itu, mengimpor imam dan jama’ah musholla dari kampung tetangga!

Tapi untunglah, saya mulai tumbuh dewasa dalam kondisi yang telah lebih baik, ayah saya sudah bertaubat jadi abangan. Lalu nenek (emak) saya, Siti Kapsah, adalah murid madrasah H. Tohir Bakri, salah seorang tokoh NU dan Ansor di Surabaya. Mungkin, satu-satunya genealogi NU saya yang paling nyambung, tak terputus, datang dari nenek saya ini. Dia adalah cucu dari kiai Arti Munah, pendiri musholla kampung. Emak-lah yang menggerakkan ayah saya untuk memaksa saya mengaji pada usia dini, emak pula yang melatih saya dengan puasa bedug, yaitu puasa yang boleh berbuka di saat kita mendengarkan bedug adzan dhuhur, lalu meneruskan kembali puasa hingga adzan magrib. Emak-lah yang menjaga ke NU-an saya tanpa saya sadari, sehingga dia teramat gusar ketika saya harus belajar mengaji dari tetangga sebelah yang beraliran Muhammadiyah, seorang pendatang dari Lamongan. Emak mulai lega ketika saya berpindah ngaji hingga khatam al qur’an di bawah bimbingan, Agus Muqorrobin, seorang santri perantau dari Tuban. Saya banyak belajar dari mas Agus, sebelum duduk kelas 5 SD saya diajaknya untuk mengkhatamkan kitab safinatun najah dan sullam taufiq. Ia diam-diam memproyeksikan saya untuk meneruskan pelajaran ke pesantren.

Tapi entah kenapa mas Agus yang NU itu meng-iya kan ketika ayah saya mengusulkan agar saya belajar ke pesantren Gontor, pesantren yang bagi kebanyakan orang Surabaya adalah pesantren Muhammadiyah! Meski tidak seratus persen benar, karena Gontor mempunyai slogan “Di Atas dan Untuk Semua Golongan” tapi miliu Gontor yang mengadopsi sistem mu’allimin Muhammadiyah adalah seratus persen bukan bermiliu NU! ke NUan saya tergerus selama enam tahun saya belajar di sana. Ayah saya sama sekali tak peduli urusan NU atau Muhammadiyah, karena mungkin belum terlalu mengerti. Ia hanya terpana pada pandangan pertama oleh Gontor tatkala bertemu dengan salah seorang alumninya yang fasih berbahasa arab memandu suatu rombongan dari Timur Tengah. Sementara bagi Agus Muqrrobin, ia pun tak tau persis Gontor itu apa? beberapa kali ia menemui saya di pesantren dan hanya memastikan, “kamu belajar nahwu shorof?”, “kamu belajar manteq?” itu saja. Hingga kemudian, mas Agus-lah yang mengembalikan saya kepada kultur NU. Dengan bantuannya, selepas dari Gontor, saya dikenalkan kepada kerabatnya untuk mulai belajar al qur’an di Kudus, Jawa Tengah.

Memang tak sesuai dengan harapan sebelumnya, saya akan menghafal al qur’an 30 juz bolak-balik. Tapi Kudus telah mempertemukan kembali saya dengan kultur NU. Saya memulai segalamya dari nol di Kudus. Dari mulai belajar kembali melafalkan surah al fatihah yang benar hingga mendaras beberapa kitab kuning bersama para kyai di sekitar Menara Kudus. Di sana saya menempel erat dengan tradisionalisme Islam, sufinya, mistiknya dan berbagai hikmahnya. Saya bertemu dengan pemikiran Mbah Wahab Chasbullah, pemikiran Ulil, dan pemikiran kyai-kyai Kudus yang mengajari al qur’an dan kitab kuning.

Di Kudus, di serambi menara, saya kerap tercenung. Di samping saya, beberapa kawan santri saya mendaras hafalan qur’an. Sementara saya menerawang, bagaimanakah dunia santri dan kyai tradisional itu? apakah saya bagian dari mereka? apakah saya bagian dari NU? apakah bagian dari kultur yang sedemikian rupa telah membentuk saya, dan gathuk dengan saya? apakah saya ini tak lebih dari seorang abangan yang bisa mengaji? apakah saya santri? semuanya memusingkan kepala saya. Hingga saya sampai pada tabulasi apa nilai lebih dari kultur santri dan kyai ini dan apa kekurangannya? apakah yang lebih dari NU dan apa kekurangannya. Hingga saat saya berpamitan dengan salah seorang guru kitab saya, beliau berpesan”mas, sampean akan bertemu dengan orang banyak, bergaul dengan orang banyak, banyaklah meminta dan memberi pangapura (permaafan) kepada mereka”. Itu pesan yang berusaha saya tepati hingga saat ini.

Melesat dari Kudus, saya menuju Jakarta. IAIN Syahid Ciputat, beasiswa ke Mesir, dan atau kuliah di UI Depok adalah beberapa alternatif tujuan saya. Dan ternyata saya ditakdirkan untuk menjadi mahasiswa UI. Segera saya mencari yang gathuk dalam lingkungan UI. Saya waktu itu masih tergila-gila dengan pemikiran Nurcholis Madjid, hingga membuntutinya sebisa saya dimanapun beliau berceramah di depan public, termasuk public HMI Ciputat. Saya waktu itu tergila-gila dengan Cak Nun, dan juga Gus Dur. Dua orang ini yang banyak berpengaruh dalam dunia perasaan dan pemikiran saya. Cak Nun yang mengajari saya melalui figure Markesot mengenalkan saya kepada perasaan jatuh cinta, simpati pada nasib jelata. Gus Dur yang jenaka, bersahaja, menyengat saya melalui kemunculan beliau dalam suatu pengajian di Kudus memperingati haul Mbah Asnawi. Gagasan pribumisasi Islam-nya mulai saya serap dan saya banding-bandingkan dengan Cak Nur, dengan tokoh yang lainnya, termasuk Amin Rais misalnya.

Tokoh-tokoh itulah yang menggathuk kan saya dengan PMII, organisasi Islam mahasiswa-mahasiswa NU. Meski Cak Nun bukan PMII bukan NU dan Gus Dur yang bukan PMII, tapi pemikiran dan keberpihakan mereka rasanya dapat saya temukan juga dalam wadah PMII. Itulah pilihan saya, bukan lantaran adanya harapan PMII atau NU akan menjadikan saya apa nantinya? saya tidak pernah berpikir apa keuntungan untuk masa depan saya bila saya nyemplung dalam PMII yang mendekatkan saya pada kultur NU itu. Tidak sama sekali. Saya hanya mencari yang gathuk, yang cocok dengan selera saya. Seperti mencari pacar, pertimbangan saya adalah apakah PMII bisa ngobrol nyambung dengan saya? apakah dengkuran dan impian saya seirama dengan dengkuran dan impian pacar saya itu? apakah nasib sarapan pagi saya sama dengan sarapan pagi PMII? itu yang lebih serius. Dan lebih serius lagi, adalah pertimbangan apakah kemarahan saya dan kegelisahan saya juga sama dengan kegelisahan dan kemarahan PMII?

Sepeninggal Gus Dur, NU menjadi semakin tak menentu. NU seperti pasar bebas. siapa pun bisa keluar masuk seenaknya. Kalau pada decade 1950 an NU punya banyak mobil tapi kekurangan sopir, sehingga harus membajak beberapa sopir dari luar NU, maka pada saat ini NU sudah punya banyak sopir hingga kehabisan mobil, bahkan kehabisan bahan bakar untuk menggerakkan mobil. Sehingga tak heran, saat ini siapapun dapat segera menjadi sopir NU jika saja bisa membawa bensin buat mobil mobil NU! Sepeninggal Gus Dur, sopir sopir NU semakin ugal-ugalan, banyak yang tanpa SIM sudah berani membawa mobil NU. Atau banyak juga calo SIM untuk sopir NU, sehingga saat ini banyak sopir NU yang bermodalkan SIM bodong!

Dalam keadaan demikian, mana mungkin saya, anda, dan kita semua meninggalkan NU? Memang saya pernah beberapa saat abai dengan NU, saya sibuk dengan diri saya sendiri, tapi tidak untuk saat ini. Saya pernah memilih NU, merasa gathuk dengan PMII yang NU, maka saya harus ikut beribadah dalam NU. Tidak hanya menjadi sopir mobil-mobil NU, tapi ayo kita buatkan mobil-mobil baru untuk NU, kita upayakan NU agar dapat menghasilkan bahan bakarnya sendiri, sehingga tak perlu kesulitan mencari bahan bakar kesana kemari. Kemudian ayo kita tertibkan sopir-sopir NU. Sopir bodong kita sadarkan supaya mau mengurus SIM dengan baik dan benar dan mengikuti aturan main NU. Sementara yang sudah punya SIM sebagai sopir NU ayo kita tingkatkan kualitasnya agar mampu membawa mobil NU melintas jalanan yang terjal berliku dan ngebut di tikungan tajam sekalipun! agar mau membawa mobil NU kepada tujuan yang benar! Sopir sopir itu harus mau mengantarkan warga NU kepada kesejahteraan di dunia dan akhirat!

2 Tanggapan

  1. Bang, kalau sampeyan menyatakan “memilih NU”, sepertiya saya lebih tepat kalau “Terpilih oleh NU” Hehehehe. Saya ini abangan murni, tapi tradisi di kampung n keluarga adalah NU (meskipun sampe saya maen ke markas PMII untuk pertama kalinya, saat itu saya belum mengerti juga apa itu NU). Tapi seperti kata sampeyan, ke-gahuk-an itu terasa ketika saya ada di kerumunan orang-orang NU.
    Bagi saya, NU adalah orang2 di kampung saya, yang miskin, yang liar, yang hidup dengan semua kultur NU tapi tidak mengerti apa itu NU. Kalau di tulisan sampeyan menyebut ada mobil2an, kupikir orang2 di kampung saya ini adalah penumpang2 mobilnya NU yang tidak pernah diberitahu oleh sopirnya, kemana akan pergi dan lewat jalur mana. Bahkan orang2 ini mungkin juga tidak tahu kalau mobil yang ditumpangi tidak ada sopirnya. Hehehe.
    Terakhir hanya berharap, semoga semua mobilnya NU itu ada sopirnya, dan sopirnya memang bener bisa jadi sopir. Eh, atas kata-kata saya yang terakhir ini…saya sepertinya perlu bertobat, karena juga pernah menjadi sopir (yang belum punya SIM) dari salah satu mobilnya NU, meskipun rutenya tingkat kelurahan. Mudah2an tidak menyesatkan banyak orang:-p

    salam kangen dari sebrang pulau,
    didik s…

  2. mantep Dik.
    Selamat berkarya, buat diri sendiri, buat keluarga, buat bangsa, dan buat nahdliyin….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: