Suatu Jum’at di Lebak

Baru-baru ini, saya dengan beberapa kawan melakukan perjalanan menuju Lebak, Banten. Dari Jakarta kami melewati Serang, menuju ke arah Rangkasbitung lalu terus melaju menuju arah selatan melewati beberapa perkebunan sawit, karet, dan jalan-jalan yang menyiksa pantat sepanjang puluhan kilo meter, karena pecah-pecah, berlobang atau ambles.

Saya teringat kisah kawan-kawan saya yang berasal dari daerah ini, mungkin lebih pelosok lagi. meski hanya beberapa puluh kilometer sahaja dari ibu kota negara, Lebak memang susah dijejak. transportasi sangat jarang, atau bisa dibilang tidak ada. mungkin ojeg motor adalah salah satu alat transportasi yang paling masuk akal untuk menjejak wilayah ini. saya ingin sekali menuju Bayah. tempat dimana Tan Malaka singgah untuk berbaur dengan para pekerja rodi dan kuli perkebunan, sementara Soekarno kabarnya juga sampai ke sana, bermalam dan menikmati kehangatan di dalamnya. tapi mungkin belum waktu lalu. mungkin yang akan datang saya akan menjejak Bayah. sementara ini, Lebak telah cukup menjadi tombo kangen saya kepada tanah Banten.

Setelah beberapa puluh kilo meter mobil melaju, sampailah kami di suatu desa, berhenti di suatu masjid dan bersama masyarakat menunaikan ibadah sholat jum’at. sudah lama saya tak berjama’ah sholat jum’at. saya kerap menjadi pengembara atau musafir meski hanya putar-putar di dalam ibu kota saja. saya memang rada jemu dengan jum’atan. meski hanya dua raka’at tapi ritual khotbah sebelum sholat kerap membuat saya malas dan enggan untuk berjama’ah menunaikan jum’atan. saya lebih memilih sholat dhuhur, empat raka’at super ekspress meski itu adalah hari jum’at. di Lebak, saya mendapatkan pengalaman menarik. meski bukan barang baru buat saya, karena saya juga mengalami jum’atan yang kurang lebih sama (seperti di Lebak) di daerah-daerah lain di tataran Pasundan dan Banten ini. khotbah berlangsung singkat. khatib dalam bahasa arab menyampaikan dua khotbah dalam waktu 5 – 10 menit dengan nada datar dan menyinggung hal-hal yang wajib saja dalam khotbah, seperti memuji asma’ Allah, bersyukur, sholawat kepada nabi, menyerukan ke takwaan dan menyitir penggalan ayat al qur’an lalu berdo’a bersama. demikian simpel, sederhana dan bersahaja.

Lain halnya khotbah jum’atan di kota. yang kita bisa memilih menunya. sebut saja jika kita sholat di wilayah tanah abang, di salah satu masjid pusat da’wah Muhammadiyah, kita akan mendengar khotbah yang masih mengangkat tema perbedaan (khilafiyah) dalam melakukan syari’at sehari-hari. lalu bergeser ke arah Kwitang, ada suatu masjid yang tema khatib kerap menyerang kebijakan pemerintah, terlebih bila si menteri yang mereka serang bukan dari golongan mereka. saya pernah mencoba masuk ke gang-gang di wilayah Kebon Sirih, basis golongan nahdliyin mendirikan Jum’atan mereka. tema khotbahnya lumayan biasa, membahas masalah sekitar atau mencoba menganalisa isu-isu politik yang sedang santer dibicarakan tapi dalam uraian logika yang jaka sembung bawa botol, ora nyambung tolol! atau sang khatib, yang mungkin lulusan pesantren dan mengenakan title sarjana sekenanya, memberikan khotbah jum’a t dengan bahasa Indonesia ilmiah yang blepotan. panjang lebar, tak kita tangkap maksudnya, kecuali ajakan sang khatib untuk kita bertakwa.

Sementara di kantoran atau kampus universitas, Jum’atan lebih seru lagi. sholat jum’at hanya menyita waktu 5 menit sementara khotbah jum’at bisa mencapai 30 hingga 45 menit. sang khotib berkhotbah seperti monolog. panjang teks khotbah jum’at yang mereka ketengahkan bisa lembaran jumlahnya, mirip makalah seminar. dahulu waktu di kampus atau di kantor, sembari menanti khotbah usai. saya kerap menyempatkan diri untuk makan siang di sekitar masjid, lalu menyemir sepatu, baru loncat ikut sholat jum’at! efisien bukan?

Di Lebak, efisiensi serupa tapi tak sama juga saya tangkap dari ibadah jum’atan bersama masyakarat sekitar masjid. Jum’atan hanya membutuhkan waktu 15 – 20 menit. berlangsung khusyu’ tidak ada monolog panjang yang membosankan. begitu khatib usai membacakan khotbah singkatnya, kita berjama’ah dua raka’at. bacaan imam jelas dengan pilihan surah yang tak terlalu panjang, suaranya datar dan enak didengar, tanpa suara mendayu-dayu bacaan al qur’an yang kadang mengusik rasa khusu’. seusai sholat itu sang imam memberikan pilihan, apakah jama’ah masih mau melakukan ibadah sholat dhuhur bersama atau menyudahi jum’atan dan mencukupkan dengan sholat dua raka’at mereka? sangat demokratis. tidak ada paksaan dalam beribadah. tidak ada pilihan yang itu kurang afdhol yang ini lebih afdhol. seragam tapi tak sama. kompak tapi tak merampas! khusyu’ yang benar-benar tak menusuk! masing-masing jama’ah boleh menggunakan pilihan paket ibadahnya sendiri-sendiri. dua plus empat? atau dua raka’at saja cukup!

(pertamakali diterbitkan 6 Maret 2011)

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: