Ceragem dan dokter dokter kita…

Sebenarnya hal ini lama mengusik saya. tapi saya diam saja. atau terkadang ngomel2 dan ngumpat2 bersama kawan-kawan jika kebetulan sedang menyaksikannya bareng2 di jalanan. Ceragem. atau terapi batu giok. yang selama 3 atau 4 tahun belakangan ini menjadi primadona masyarakat kelas bawah. ia seolah datang menggantikan para dukun pijat atau mantri dan bidan suntik puskesmas  juga dokter2 Indonesia yang mungkin sedang sibuk menyembuhkan orang sakit di rumah-rumah sakit besar dengan harga mahal, atau memilih membuka praktek di klinik mewah dan yang muda2 mungkin sedang sibuk terpencar dalam program PTT di pelosok wilayah Indonesia nun jauh disana. akhirnya ceragem menggantikan mereka semua. sebab datang dengan layanan bersahabat, gratis tanpa dipungut biaya, meski harus rela sejak subuh buta atau berdiri-jongkok-berdiri di tengah terik matahari. mereka berjejal mengantri dengan raut muka yang mungkin sedang menahan berbagai sakit, hanya menderita encok, pegal pegal, asam urat hingga mungkin mereka sedang bermasalah dengan ginjal dan  jantung mereka, sehingga sebagian dokter modern akan mengatakan “sebaiknya pengobatan ini juga dibarengi dengan terapi ceragem ya pak….”

Ada juga memang layanan ceragem yang komersial. biasanya memungut biaya 15 sampai 30 ribu untuk sekali terapi di atas batu giok itu selama 30 menit atau lebih. tapi yang ini sepi pengunjung. karena mungkin lembaran 15 ribu hingga 30 rupiah itu lebih baik digunakan untuk makan dan biaya hidup sehari-hari para nyai-nyai dan engkong-engkong yang ngantri ceragem itu. dengan begitu mereka akan rela menebusnya dengan antrian ceragem gratis yang memilukan itu. lalu kemana para mantri bidan dan dokter-dokter kita? atau paling tidak jika memang batu giok itu benar bermanfaat untuk pemulihan kesehatan masyarakat umum, setidaknya pemerintah turun tangan untuk mengadakannya secara massal agar antrian panjang ceragem yang memilukan itu tidak terjadi di mana-mana. jika tidak demikian, maka bergeraklah wahai dokter-dokter Indonesia? tirulah beberapa tokoh dokter lulusan STOVIA yang rela berkeliling untuk memberikan pengobatan gratis bagi rakyat negeri Hindia Belanda, pun hanya panu dan kurap atau sekedar diare yang mereka atasi, tapi sungguh itu teladan mulia. maka belakangan ini ketika saya mendengar ibu Menteri Kesehatan kita menderita sakit yang rada gawat, maka dengan nakal benak saya berguman. “jangan kau pergi ke luar negeri wahai ibu menteri, cukuplah berobat di Indonesia, sambil sesekali ikutlah antri ceragem, barangkali sengatan terik matahari dan rasa pegal di sekujur kaki, dapat menjadi obat mujarab bagi ibu menteri….”.Sehatlah bangsa Indonesia!amin.

(tulisan pertama kali dipublikasikan 8 Februari 2011)

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: