Tembok Sayuran, Kampong-ku

Namanya unik, dari dahulu hingga sekarang, jika saya berkenalan dan menyebutkan nama kampong halaman itu, orang lantas menukas “oh, sayuran? banyak sayurannya ya?” dan saya bingung jawabnya, jadi nyengir saja untuk mengambangkan antara iya dan tidak. Tidak tahu nama itu bermaksud apa? Menandakan apa? Menunjukkan kepada masa lalu yang bagaimana? Yang jelas pas saya kecil hingga saat ini tak ada banyak sayuran di kampong saya itu. Maka untuk amannya terkadang, saya mengatakan bahwa saya berasal dari “kampong tembok”, karena memang ada dua nama “tembok” yang lebih terkenal di wilayah Surabaya, yaitu Tembok Dukuh, kampung sebelah Tembok Sayuran, merupakan kampung halaman Bung Tomo yang melegenda itu. Kemudian ada Pasar Tembok plus Kuburan Tembok yang memang sudah sangat tua itu. Dapat dikatakan, kedua nama itu lebih terkenal dibandingkan dengan Tembok Sayuran!

 Lalu bagaimana dengan Tembok Sayuran? sejak dahulu keluarga (tiga generasi ke atas, bapak-mbah-buyut-mbahbuyut-) saya tinggal di wilayah ini. Menurut almarhumah nenek (emak) Bakul,  keluarga kami berasal dari Solo, sehingga tak heran di keluarga kami, bahasa jawa kromo inggil masih menyisa, tak tergerus dengan bahasa jawa ngoko khas suroboyoan! Tapi rasanya tradisi Jawa yang ke solo-solo-an (abangan) ini kemudian bercampur dengan tradisi santri Jawa Timuran. Lagi-lagi menurut emak (embah putri) saya, dahulu kakeknya adalah kyai kampong yang pertama kali datang menetap di Tembok Sayuran, sebutlah Kyai Arti, namanya, punya anak mantu bernama Kasan yang menikah dengan Arti Muna (ibu emak saya). Nah, mbah kyai Arti itulah yang membuka langgar (surau) pertama di Tembok Sayuran, yang saat ini telah berubah menjadi musholla Nurul Ahdlor, tempat saya biasa berjama’ah di kampung halaman. Langgar ini didirikan oleh buyut saya itu karena pada waktu petang, saat sholat Magrib, banyak orang yang singgah di kampung Tembok Sayuran sepulang dari pacuan kuda yang letaknya tak jauh dari kampung.

********

Sejauh saya mulai mengingat tak ada tanda-tanda sayuran sama sekali di kampong saya itu, yang ada hanya beberapa keluarga induk yang telah menetap puluhan tahun, yang bisa dikatakan sebagai warga asli Sayuran, termasuk keluarga orang tua saya, yang keduanya adalah keluarga besar yang dapat dibilang aseli tembok Sayuran (hanya saja keluarga dari pihak ayah saya lebih tua dan lebih aseli sayuran daripada keluarga ibu). Banyak diantara anak-anak keluarga ini melakukan kawin kamawin satu sama lain, sehingga pertalian keluarga semangkin rumit,  dari pintu ke pintu adalah keluarga. Kanan keluarga, kiri keluarga, depan-belakang adalah keluarga. Jadi pacaran dan berantem pun juga masih dengan keluarga. Hingga saat ini hampir seluruh isi kampung Tembok Sayuran gg. II adalah keluarga besar Bakul, baik dari pihak bapak maupun ibu…..  

Selain itu beberapa warga aseli Tembok Sayuran diantaranya adalah etnis Cina, atau peranakan dari gundik Cina. Pada waktu itu terasa aneh bagi mata saya, ketika melihat di dinding tetangga, terdapat potret sosok pria Cina setengah baya bersanding dengan wanita muda, yang saya kenal sebagai pemilik rumah di waktu muda. Lantas saya berpikir, “oh, Bude ini suaminya dulu orang Cina……” Tersebutlah nama-nama peranakan ini seperti Bude Ah, Bude Wara, Om Juan, Ameh lalu anak-anaknya bernama Gioklan, Konggi, Singgih, Aiyu, Liong, Jingok, dll. Nama-nama itu hingga kini masih ada dan beredar. Jadi unik juga keluarga-keluarga peranakan di Tembok Sayuran ini, rata-rata wajah mereka meski satu keluarga relatif beragam, misal adiknya yang perempuan berwajah jawa, tapi kakaknya yang laki itu dah Cuinaaa banget, ato sebaliknya. Agamanya pun juga beragam, ada yang ikut agama bapaknya jadi Konghucu atau Kristen. Ada juga yang ikut agama ibunya, menjadi Islam. Dan hingga sekarang warga peranakan ini tatkala lebaran tiba, mereka juga ikutan bersedekah ke Musholla sebagaimana layaknya warga muslim membayar zakat fitrah, lalu esko paginya mereka ikutan juga unjung-unjung, berma’af-ma’afan berbaur dengan warga yang lainnya.

Tembok Sayuran gg. II, kampong saya boleh jadi adalah kampong yang paling komunal, dan hubungan warganya paling kompleks dibanding dengan kampong Sayuran gg. I atau Sayuran Barat misalnya. Tembok Sayuran I adalah jalan yang lebih luas dan menghubungkan jalan Tidar ke arah jalan Demak, Pasar Turi kemudian ke pelabuhan. Gang (lorong) ini tentu saja banyak dilalui kendaraan bermotor, walhasil hubungan warganya agak renggang…..sedang Sayuran Barat terpisah oleh pabrik-pabrik, jauh sekali dahulu antara Sayuran Barat dan sayuran II terdapat pabrik paku, pabrik kaos dan pabrik pasta gigi Prodent. Maka, kampung ini nyaris terisolasi dengan kampung Sayuran lainnya. Ada satu kampung lagi, yaitu Tembok Sayuran gang Mei, mungkin didirkkan pada bulan Mei, disini banyak warga pendatang, banyak rumah kontrakan, karena sebenarnya kampung ini didirikan di atas selokan besar yang ditutup dengan cor-coran yang kemudian menjadi jalan kampung itu…..saya kurang paham dengan kampung yang satu ini.

********

Yang paling unik dari kampung saya adalah, adanya tikungan dalam kampung, sehingga Tembok Sayuran II tampak seperti gang  buntu baik dari arah jalan Tidar (mulut gang di Selatan/kidul) maupun dari arah jalan Kalibutuh (mulut gang di Utara/lor). Dan tikungan ini pula dengan sendirinya seakan menjadi batasan tabiat dari warga kampung Tembok Sayuran II, warga penduduk aseli yang kebanyakan berada di bagian utara/lor, terkenal lebih komunal, lebih egaliter, senang cangkruk, gemar bergunjing, usil dan beberapa tabiat khas warga kampung kebanyakan. Sedangkan bagian selatan/kidul kampung kebanyakan dihuni oleh warga pendatang, meskipun ada juga keluarag aseli, termasuk keluarga emak saya yang kebetulan mempunyai rumah di bagian Kidul ini, setelah sebelumnya tinggal bersama di rumah induk keluarga yang terletak persis di mulut gang bagian Lor, dekat dengan langgar (musholla)….  Nah, saya pernah tinggal di kedua bagian kampung ini. Sejak lahir hingga kelas 2 SD, saya tinggal di bagian lorkampung, rumah saya persis di mulut gang, ayah saya saat itu telah menjadi RT semenjak tahun 1967! Kemudian setelah itu, hingga hari ini saya tinggal di bagian kidulkampung Tembok Sayuran!

Hari ini banyak yang berubah. Masuk tahun 90-an dan kemudian 2000-an banyak perubahan yang terjadi. Orang aseli Tembok Sayuran banyak yang pindah, mengikuti anaknya yang telah eksodus ke wilayah lain, atau lanjut usia dan kemudian mati. Sekarang banyak warga pendatang, yang dahulu mulanya tinggal di rumah kontrakan, kini muncul sebagai warga aseli baru yang mempunyai kehidupan ekonomi yang lebih baik. Rata-rata mereka lebih bekerja keras, lebih hemat, dan tidak hidup dengan gengsi dibanding dengan penduduk aseli. Sama dengan kebanyakan kampung di Jakarta, urbanisasi secara perlahan telah menggusur dominasi warga aseli dari kampung-kampungnya sendiri. Dan rasanya Tembok Sayuran ku, kampung ku juga secara perlahan akan menjadi seperti itu……..kini lebaran tak seramai dulu lagi, biasanya dahulu kala kampung Tembok Sayuran adalah kampung yang sebenar-benarnya, tak ada warga yang mudik, tak ada yang pulang ke desa, karena kami tak punya desa lain, desa kami adalah Tembok Sayuran! Tapi tidak hari ini, semua berubah….

Tapi, bagaimanapun saya, akan tetap kangen dengan kampung ini, merindukan kampung ini, rindu masa lalu, sendau guraunya, banjirnya, permainan anaknya, pate leledum bungkembak sodor. Kangen dengan bakso Mak Mun yang khas di TK Tribina, kangen dengan pecel bali endog Wak Inem yang mantap yang menyembuhkan saya waktu kecil dari sakit malas dan meriang! Kangen orang-orang tua yang mendongeng tentang Kuntil Anak di mulut gang kidul, pocong di rumah Mbah Sagina, Jerangkong yang merangkak di tikungan hingga menghilang di tengah gang! Itu semua yang saya rindukan……

*******

(dipublikasikan pertama kali 6 Oktober 2008)

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: