Suroboyoan, Ngoko atau Kromo Inggil?

Apa yang istimewa dari Surabaya? tentunya banyak sekali dan mungkin nanti akan saya kisahkan dalam tulisan saya satu persatu. salah satunya adalah soal bahasa ngoko Suroboyoan yang kerap digunakan oleh kaum Kromo Suroboyo. Bahasa mereka ini terdengar kasar, kadang saru, vulgar tanpa tedeng aling-aling, tapi paling tidak itu menandakan keterbukaan dan budaya lugas Wong Suroboyo yang sudah d saikenal seantero Indonesia itu. Kala pulang ke kampung halaman di Surabaya, adalah saat yang menyenangkan bagi saya untuk kembali mendengarkan bahasa-bahasa kromo Surabaya itu. Tanpa sengaja, saat membeli makanan atau nongkrong di warung bahasa kromo, celotehan atau guyonan Suroboyoan itu akan terlontar dari orang-orang sekitar, dan dengan itu saya langsung mengenali apakah si fulan wong Suroboyo asli atau bukan?

Sapaan seperti “yo opo kabare rek? sik urip tah? tak pikir wis matek awakmu?”(gimana kabarnya? masih hidup?saya pikir sudah mati kamu…) terdengarnya berkonotasi kasar dan kurang sopan, tapi itulah keakraban pergaulan kromo khas Suroboyo. beberapa waktu lalu saya mendengar dengan geli, seorang bakul rujak yang bertutur kepada pelanggannya, “ini anak ku, gak percoyo yo? gak podo ancene soale nemu nang larak’an” (ini anak ku, gak percaya ya? memang kita tidak mirip, karena anak itu aku temukan di tempat sampah). Sangat kasar bukan? bercanda dengan mengatakan bahwa anaknya adalah hasil temuan dari tempat sampah! hahaha saya geli sekali mendengarkannya dan kangen saya terobati, inilah masyarakat ku yang terbuka, lugas tanpa menutupi perasannya, bebas saja melontarkan canda, modal yang baik untuk membangun suatu kejujuran! dan saya lahir dan menjadi bagian dari mereka!

********

Memang tidak semua wong Suroboyo akrab dengan situasi pergaulan kromo macam ini, setidaknya Williem H. Frederick dalam bukunya tentang sejarah revolusi di Surabaya telah menggambarkan dengan baik, bagaimana susunan “kasta” dalam masyarakat Surabaya. Ada golongan priyayi, bagian kelas menengah kota yang terpelajar, terdidik dan terbiasa dengan pergaulan kelas atas yang sarat dengan aturan dan etika yang mengikat secara ketat. Dari golongan ini guyonan kromo seperti yang saya tuliskan di atas, tentu tidak akan kita dapati. Juga pada golongan santri, tentunya guyonan suroboyoan itu akan berirama sama dengan nuansa agama yang berbeda. beberapa kata yang mereka anggap tidak senonoh atau vulgar tentu tidak mereka tuturkan. Ada juga golongan jelata yang hidup di kampong-kampong Surabaya, tidak terdidik,  tidak agamis, cenderung abangan mesti menaruh hormat pada kyai dan ulama.

Golongan pertama dan kedua, dalam pergaulan mereka menggunakan bahasa kromo inggil yang cukup ketat. sedangkan golongan yang akhir tidak mengenal kromo inggil, tapi menggunakan bahasa ngoko yang lebih kasar dan bernuansa egaliter, jujur apa adanya dalam mengungkapkan perasaan khas Jawa Timur-an. Dari golongan inilah lahir wong-wong seniman macam Cak Durasim, Markeso, Kartolo cs, dan mungkin Gombloh! Dalam tutur kata golongan jelata ini, kata-kata semacam Jancuk (fuck you!), Jangkrik!, Asu (Anjing) terkadang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari yang dianggap wajar dalam skala keakraban yang teramat sangat. Meski saat ini menggunakan bahasa semacam itu akan dianggap kurang berpendidikan, kampungan, urakan dan kurang bermoral karena menabrak etika kesopanan, tapi sesungguhnya ada suatu kejujuran dan ketulusan yang memang diekspresikan secara nyleneh…..Fenomena semacam ini pun tidak hanya terjadi pada masyarakat Surabaya. Setau saya dalam masyarakat Betawi, Batak, atau Padang sekalipun, juga terdapat ungkapan pergaulan yang serupa, seperti Ngentot atau Pantek misalnya.

Tentu saya tidak ingin membahas sikap saya terhadap bahasa-bahasa kromo semacam itu. Saya hanya ingin berusaha menyadarkan diri saya, bahwa betapa banyak bahasa Suroboyoan lainnya yang sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat Suroboyo. Pengaruh perkembangan zaman, antara lain pengaruh bahasa para penyiar Radio dan berbagai tayangan televisi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jakarta (bukan Betawi), sudah mulai ikut ditiru oleh beberapa segmen masyarakat tertentu di Surabaya. Mendengarnya rada janggal. Lalu saya teringat dahulu di sekolah SD, betapa beberapa kawan dan ortunya bangga dengan bahasa Indonesia yang mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari, sekedar untuk menunjukkan kelas atau golongan keluarga mereka. Bagi beberapa keluarga, berbahasa Indonesia kala itu dianggap mempunyai prestige tersendiri, sehingga mereka rela meninggalkan bahasa ngoko Suroboyoan….

********

Di keluarga saya, ada dua darah yang mengalir di dalamnya. keluarga Bapak saya adalah keluarga santri Jawa yang menganggap bahwa bahasa kromo inggil itu masih perlu digunakan dalam pergaulan sehari-hari, khususnya kepada para orang tua. Sementara keluarga Ibu saya adalah keluarga asli Suroboyo yang menjadikan bahasa ngoko sebagai bahasa Ibu! maka saya waktu kecil sudah terbiasa menggunakan kromo inggil ala Mataraman bila berbicara dengan para orang tua, meski dalam bergaul dengan sesama saya fasih menggunakan bahasa ngoko! sampai sekarang pun, lidah dan liur saya masih kental dengan nuansa Suroboyoan! terkadang jancuk, jangkrik dan asu pun masih terlontar dengan tidak sengaja dari mulut saya kala bertemu kawan akrab atau dalam keadaan kesal!

Hal itu juga terjadi dengan keponakan-keponakan saya. rata-rata mereka fasih menggunakan bahasa Suroboyoan atau bahasa khas Malang, sesuai dengam domisili masing-masing. ada satu keponakan yang akrab dengan bahasa Jakarta-an dengan logat Jawa yang medok, sebabnya si anak banyak bergaul dengan orang Cina dan ayahnya juga mempunyai kerabat di wilayah Jakarta. Yang saya sayangkan dari mereka, adalah hilangnya kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa kromo inggil, yang menurut saya juga perlu untuk digunakan dalam tingkat pergaulan tertentu, khususnya kepada para orang tua.

Akhir akhir ini saya  juga tersadar ada beberapa kata ngoko usang yang mulai hilang dari peredaran.  Saya jarang sekali mendengar orang mengucapkan kata trachoom (sejenis penyakit mata, disebut untuk orang yang menggunakan kaca mata), gak patek en (tidak kurapan, idiom yang berarti tidak rugi sama sekali), ndesit (dari kata ndeso: kampungan)  medit (kikir) dan banyak lagi. Saya juga khawatir dengan ditinggalkannya bahasa-bahasa proletar Suroboyoan dan menggantinya dengan bahasa yg lebih santun, lebih berpendidikan, lebih mriyayeni, masyarakat kita akan kehilangan kejujurannya, ketulusannya, spontanitasnya, keterbukaannya, dan lain lain yang bagus bagus….

********

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: