Tradisi Kuburan….

Saya menganggap bahwa kuburan (makam) leluhur mempunyai arti penting dalam kehidupan saya. Gambaran soal kuburan ini dengan baik saya simak dari Grave of Tarim karya Engseng Ho yang menuliskan bahwa bagi masyarakat Hadrami yang ia teliti, makam adalah penting untuk dipelihara, bukan hanya karena makam itu dianggap suci dan dikeramatkan, namun juga karena pada makam lah titik simpul kehidupan mulai saling terkait satu sama lain. Menurut saya, Engseng Ho dalam bukunya itu cukup memperhatikan dengan sangat baik fungsikuburan.

Saya setuju dengan Engseng Ho, bahwa dalam masyarakat diasporik, pertanyaan “di mana kamu dilahirkan?” tidak menjadi penting, tapi pertanyaan “di mana kamu meninggal dan dikuburkan kelak?” menjadi sangat penting. Makam adalah penanda kehadiran seseorang, yang boleh jadi membawa garis keturunan di berbagai wilayah. Hubungan antara anak dengan bapak atau dengan ibunya, anggaplah jika si ayah atau si ibu itu tidak berada dalam satu wilayah yang sama dengan si anak, akan dibangun pada keberadaan makam si ayah atau makam si ibu. Makam itu  menjadi sangat penting bagi si anak untuk menjaga sekaligus menegaskan identitas diri si anak.

Demikianlah saya, saya boleh dikatakan adalah bagian dari masyarakat yang berdiaspora itu. Sebagai keluarga baru, entitas baru dalam kosmologi kekerabatan Jawa, saya sudah tidak memikirkan lagi dimana saya lahir. Saya sesekali kembali ke Surabaya, terkadang bukanlah untuk menyapa yang masih hidup, atau mengenang dimana saya dilahirkan. Setau saya rumah sakit dimana saya dilahirkan, yaitu RS Mardi Santoso di Bubutan, Surabaya, sudah berubah menjadi sebuah restauran! lalu rumah masa kecil saya, dimana ibu saya akan mbrojolin saya disitu sekarang sudah menjadi bengkel dinamo! Tapi dengan kepulangan saya ke Surabaya, saya ingin memastikan bahwa makam leluhur saya, makam emak saya, makam kakek buyut saya masih dalam keadaan baik-baik saja. Lalu saya berdo’a di atasnya, melakukan dialog imajiner dengan yang sudah mati itu. ngobrol ini itu, menyampaikan harapan, menciptakan katarsis baru dan sebagainya.

Setelah ziarah kuburan leluhur itu, saya seperti kembali me-recharge ulang energi kehidupan saya. Dunia Jawa saya telah mengajarkan bahwa yang mati masih bisa menyaksikan tingkah laku kita di dunia, sementara kita tidak. Dan lagi, yang mati tak lagi mempunyai kepentingan atas diri kita, sehingga yang mati serasa lebih objektif dalam menyikapi kita daripada mereka yang masih hidup. Itulah imajinasi budaya Jawa yang saya yakini.


There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: