Saya (tidak) Cinta Rasul?

Tuduhan semacam itu pernah menimpa saya. Untungnya saya tidak senaas saudara-saudara kita jama’ah Ahmadiyah, yang belakangan ini kehidupan mereka terancam disana sini. Di Nusa Tenggara Barat mereka dikejar-kejar, di Jawa Barat dan Banten mereka dilempar dan dibakar! Saya tidak sena’as itu. Hanya dituding-tuding saja, sambil sang penuding itu menangis sesenggukan menghayati kecintaannya kepada Rasul (Muhammad saw) dan membayangkan saya sebagai Abu Jahal atau Abu Lahab yang benci setengah hidup kepada Rasul. apa sebab saya dituduh seperti itu? semua bermula dari presentasi makalah saya pada mata kuliah Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. waktu itu saya masih semester dua. dan mata kuliah itu adalah mata kuliah pilihan yang kami, anak-anak sejarah, iseng ikutan ngambil bareng mahasiswa Sastra Arab dan beberapa jurusan lainnya, berharap jumlah kuota SKS kami tidak terbuang sia-sia.

Siang itu dengan semangat dan diselingi guyon disana-sini saya mengemukakan pendapat saya tentang asal muasal para wali sanga di tanah Jawa. Saya baru saja membaca buku karya de Graff, bukan SNI III karya Nugroho Notosusanto dan tim. lalu kalimat demi kalimat saya sampaikan berdasarkan argumen buku Slamet Mulyana yang konon bersumber dari babad Klenteng itu. saya mengatakan bahwa para wali sanga itu kebanyakan berasal atau keturunan dari para ulama Cina yang masuk ke Indonesia pada akhir abad ke 14 hingga 15 Masehi. mereka bukan dari arab. kalulah ada darah arab, pasti telah tercampur pula dengan darah Cina. lalu saya katakan, bahwa pendapat itu masuk akal. karena pertama, boleh jadi sebelum Islam masuk ke Nusantara, Islam nyangkut dulu di Cina. bukankah dalam suatu hadits yang terkenal Rasul Muhammad bersabda “Carilah Ilmu hingga ke negeri Cina”. itu artinya, Cina telah lebih dahulu diketahui oleh Rasul daripada Nusantara. sehingga kepak sayap Islam lebih dahulu hinggap di Cina sebelum datang ke Nusantara.

Kedua, saya juga berpendapat bahwa jika antum-antum semua datang ke beberapa site makam para wali itu berada, niscaya mereka berada di tengah komunitas yang berwarna Cina. pada makam sunan Gunung Jati di Cirebon misalnya, umat muslim juga harus berbagi dengan umat Cina Indonesia yang juga datang bersembahyang ke makam itu, karena dalam kepercayaan mereka ada salah satu makam putri Cina yang berada disana, konon putri itu adalah salah satu istri sang wali. lalu saya pernah tinggal di Kudus, saya mendapati banya kisah persinggungan sang Wali dengan para tokoh tokoh kramat yang dikabarkan berasal dari Cina. jadi saya pungkasi cerita bahwa boleh jadi, atau ada kemungkinan bahwa wali-wali itu adalah keturunan Cina, atau datang langsung dari daratan Cina! Pendapat inilah yang menuai tuduhan bahwa saya tidak cinta Rasul…..

Kata mahasiswa yang menuding saya itu, bahwa saya terlampau memuji-muji Cina dan menafikan arab, bangsa dimana rasul lahir dan tumbuh menjadi seorang pemimpin, bangsa yang dengan bahasa mereka ayat-ayat Tuhan difirmankan. maka tak seharusnya saya bersikap atau berpendapat seolah-olah Arab tidak mempunyai kontribusi bagi perkembangan Islam di Indonesia. “anda tidak cinta Rasul!” “anda telah mengatakan sesuatu yang anda tidak ketahui tentang umat Muhammad!” begitulah pekik si mahasiswa itu sambil sesenggukan menahan emosi. kelas menjadi ramai. dosen berusaha melerai. dan saya sambil guyon menambahkan….argumen ketiga, bahwa lihatlah warisan budaya Cina di beberapa kantung umat Islam di Indonesia. dan saya menghimbau jangan terlalu mengagung-agungkan arab lah….”apa sih yang diwariskan arab untuk Indonesia? paling martabak sama minyak wangi doang!” begitu seloroh saya sambil bercanda, cengar-cengir menambah suasana semakin ger bercampur haru!

Mendengar itu sang mahasiswa semakin sesenggukan dan berulang kali memaki “anda benar-benar tidak cinta Rasul….” kali ini sambil berdiri dan kelas mulai tak terkendali. saya duduk lemes memikirkan “masak iya sih gua nggak cinta Rasul?, gara-gara Prof. Slamet Mulyana ni jadi berabe gua!” tapi masih untunglah, saat itu saya tidak sena’as jama’ah Ahmadiyah saat ini. Semoga semua segera membaik, kita dapat hidup berdampingan saling mencintai satu sama lain. mencintai Tuhan, mencintai Rasul, dan lebih lagi mencintai seluruh umat manusia!

(ditulis pada 8 Februari 2011)

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: