Islam saya, Islam Jawa…

Islam apakah atau yang bagaimanakah yang saya anut. Islam normatif kah atau kebatinan kah? Islam modern kah atau Islam tradisionalis kah?  Semuanya itu tidak lepas dari pengaruh kehidupan saya dalam tiga fase yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Islam Jawa sebagai Islam yang normatif atau sebagai suatu sistem kebatinan adalah  dua kategori yang diperkenalkan Mark Woodward. Kedua kategori tersebut bukan dimaksudkan sebagai kategori-kategori sosiologis tertentu sebagaimana kategorisasi yang pernah dilakukan oleh Geertz. Kecuali itu, Islam Jawa dan Islam normatif lebih baik dipahami sebagai orientasi keagamaan atau bentuk-bentuk kesalehan. Woodward membatasi kesalehan normative sebagai seperangkat tingkah laku yang telah digambarkan Allah melalui utusannya Muhammad saw, bagi umat Islam. Kesalehan normatif dengan demikian merupakan bentuk tingkah laku di mana ketaatan dan ketundukan menjadi hal yang sangat penting. Dengan kalimat sederhana kesalehan normative adalah bentuk-bentuk tata laku sebagaimana dijalankan kaum santri yang lebih menekankan berpikir secara syariat. Adapun istilah kebatinan (mysticism) menyaran pada aspek dalam (esoteris) dalam Islam.

Terdapat dua kubu yang telah lama berselih paham dalam persoalan kebatinan Islam. Kubu pertama mereka yang menjalankan praktek tasawuf tetapi harus melalui tahapan syariat. Kelompok ini merupakan hasil pendamaian Al-Ghazali antara syariat dan tasawuf. Kubu yang kedua mereka yang berpandangan bahwa untuk mencapai kesatuan seseorang tidak mesti melakukan syariat. Islam Jawa sebagaimana digambarkan Woodward, dalam banyak kesempatan berupaya mengkombinasikan kedua kubu yang saling berseberangan tersebut (Woodward, 1999).

Sementara itu Nies Mulder berpendapat bahwa kebatinan yang ia sebut sebagai mistisisme itu lahir sebagai reaksi atas kehidupan yang penuh tekanan dan terdapat keresahan sosial, sehingga orang-orang mencari landasan baru terhadap kehidupan duniawi. Kondisi tersebut membuat perasaan menjadi terus-menerus terganggu dan tersisih secara kultural, dan keinginan untuk menghadapi perubahan zaman. Kejawen merujuk pada kebudayaan Jawa yang berpusat di Surakarta dan Yogyakarta yang dianggap sebagai pusat kebudayaan Jawa. Kejawen mendapatkan pengaruh dari pandangan keagamaan Hindu-Budha, terutama pada epos-epos yang berasal dari India, seperti Ramayana dan Mahabarata.

Dalam kebatinan Jawa, kehidupan dipandang sebagai peperangan antara kuasa kekacauan dan kuasa keteraturan. Kurawa, dalam epos Mahabarata, dinilai sebagai perwujudan dari kuasa kekacauan yang menggambarkan keangkuhan, egoisme, amarah, dan keserakahan. Kurawa dilawan oleh para Pandawa yang menegakkan kesalehan, keadilan sikap tanpa pamrih, dan kepercayaan pada tujuan kosmos dan kehidupan dunia yang ditandai suasana tenteram, harmonis, adil, dan makmur.

Manusia sebagai jagat cilik (mikrokosmos) hidup di dalam jagat gedhe (makrokosmos). Kuasa kekacauan dilambangkan pada segi badani yang bersifat keduniawian, sedangkan kebatinan berupaya menghubungkannya dengan makna terdalam dari kosmos dan moralitas. Raja dianggap sebagai perwujudan dari manfaat mistik atas dunia yang memiliki kekuasaan dan kekuatan kosmis yang mampu memberikan keberkatan dan jaminan kesejahteraan warganya. Sementara kraton merupakan gambaran kosmos dengan raja sebagai pusat semesta.

Dalam dunia kebatian Jawa, manusia perlu melepaskan segala yang keduniawian agar bersatu dengan asal muasalnya, Sang Pencipta, manunggaling kawula-gusti. Praktik kebatinan merupakan upaya untuk berkomunikasi dengan realitas asali, sehingga kehidupan menjadi pengalaman religius. Bagi penganut kebatinan, antara yang kudus dan profan tidak dipisahkan. Semua diatur harmoni supaya terjadi keseimbangan, seperti yang ditunjukkan melalui tingkah laku, adat istiadat, tata bahasa, serta upacara keagamaan.  Ada empat tahap dalam perjalanan kebatinan orang Jawa:

  1. Sarengat, menjalani kehidupan sesuai kewajiban atau hukum-hukum agama. Seorang muslim berarti menjalankan salat lima waktu; seorang priyayi menghargai dan menghormati orang tua, guru, atau raja. Dengan melaksanakan kewajiban tersebut menyadari bahwa dia sekaligus juga menghormati Tuhan; sementara bagi kaum abangan, pada tahap ini menekankan hormat pada para leluhur, roh-roh, dewa, serta tokoh-tokoh pewayangan.
  2. Tarekat, kesadaran tentang hakikat tingkah laku tahap pertama yang diinsyafi secara lebih mendalam. Doa dan ritual tidak hanya pada gerak-gerik, tetapi sebagai usaha luhur dan suci sebagai persiapan dasar untuk menjumpai Tuhan dalam batin manusia.
  3. Hakikat, tahap menghadap kebenaran dan pemaknaan mendalam. Ritual yang teratur mulai kehilangan nilai pentingnya, karena praktik kehidupan dan tindakan manusia juga merupakan wujud dari doa terus menerus kepada Tuhan.
  4. Makrifat, yakni ketika manusia sudah terpadu dengan makrokosmos, jiwa semesta. Manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi. (Mulder, 1978)

Keempat tahap perjalanan kebatinan yang disampaikan oleh Mulder itu sama persis dengan suluk (jalan) yang ke Islaman yang diajarkan dalam dunia sufisme Islam. Agaknya tahapan perjalanan ala Jawa itu memang mengadaptasi dari ajaran Islam. Sebagaimana saya ketahui, Sunan Kalijaga adalah seorang wali (satu-satunya wali ) yang dianut oleh orang-orang Jawa abangan. Keberhasilan Kalijaga dalam menyelaraskan antara Islam dan Jawa menjadinya diakui oleh orang Jawa sebagaiwaline Jowo. Terus terang karena saya terobsesi dengan Wali ini atau Sunan ini, saya dua kali memimpikannya. Dalam mimpi saya yang pertama, saya sembahyang berjam’ah bersama beliau di Masjid Demak, lalu mimpi kedua kami duduk dalam satu majlis dimana di dalamnya terdapat beberapa tokoh Islam tradisional yang saya ketahui atau saya kenal. Saya mereka-reka mimpi itu….

Pengembaraan saya di kota Kudus-Demak, Jawa Tengah (1997-1998) beberapa saat setelah saya lulus dari pesantren Gontor, telah meneguhkan saya bahwa betapa ajaran Jawa sangat adiluhung sehingga  rela untuk mengadaptasi beberapa ajaran Islam tanpa harus kehilangan jati dirinya. Sejak saat itu saya meneguhkan diri bahwa saya adalah penganut Islam yang Jawa. Bukan sebaliknya Jawa yang Islam. artinya secara sadar saya akan membatasi ke Islaman saya dengan kepatutan yang telah ditanamkan oleh nilai-nilai ke-Jawa-an saya, bukan sebaliknya. Maka pada titik ini saya berpendapat sama dengan Pak Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang mempunyai gagasan untuk melakukan pribumisasi Islam di Indonesia, bukan Islamisasi Indonesia seperti yang digagas oleh para tokoh Islam modernis di Indonesia. Di Kudus, saya tinggal mengaji di suatu pesantren di jalan Kyai Telingsing, suatu jalan dekat dengan wilayah Masjid Kudus, dimana terdapat makan seorang pemuka Islam-Cina di Kudus, Tai Ling Sing yang dikenal dengan Kyai Telingsing. Hingga saat ini makam sunan ini, tidak hanya diziarahi oleh umat Islam, tapi warga Cina di sekitar Kudus pun turut menziarahi. Bersama tokoh ini, Sunan Kudus membuat semacam perjanjian budaya yang diikuti oleh masyarakat Kudus saat ini, bahwa ajaran Islam yang mereka dakwahkan akan  tetap menghargai ajaran Hindu Budha yang telah terlebih dahulu ada di Kudus. Maka lihat saja, sampai hari ini di kota Kudus tidak ada orang yang  menyembelih sapi, meskipun pada hari Qurban. Untuk menghormati masyarakat Kudus yang mengagungkan sapi, Sunan Kudus tidak menyembelih sapi, tapi menggantinya dengan kerbau. Lalu masih di Kudus, saya menemui suatu klenteng di dekat terminal Masjid menara yang pada hari-hari perayaan tertentu menyelenggarakan pagelaran wayang bersama warga sekitar yang muslim.

Dan pengalaman yang paling membekas dalam hati saya, di Kudus saya sempat menyaksikan bagaimana Gus Dur memberi ceramah dengan harmoni di hadapan ribuan jama’ah haul Mbah Asnawi Kudus. Sejak saat itu saya penasaran dengan model Islamnya Gus Dur. Lalu saya banyak membaca tulisan beliau, lha kok nyambung dengan roso ke jawaan saya. Yang terakhir tak kalah membekasnya adalah ajaran guru saya, Gus Aniq di Langgar Dalem, Kudus. Melalui pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al Ghozali beliau berpesan kepada saya sewaktu pamit pulang ke Surabaya, “kang beragama itu yang terpenting adalah bagaimana menghidupkan hati, seperti al Ghozali beliau juga mengajarkan bahwa ilmu agama itu adalah ilmu hati, menghidupkan agama berarti menghidupkan hati….’ lha ini juga selaras dengan kejawaan saya. Maka sejak saat itu saya menamai Islam saya adalah Islam Jawa…

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: