Dua Jawa yang Membentuk Diri Saya

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Clifford Geertz (1973) bahwa menjadi manusia berarti menjadi individual, menjadi sesuatu diri yang partikular. Kita menjadi seorang individu dibawah pedoman pola budaya yang secara historis menciptakan sistem pemaknaan yang memberi bentuk, perintah, petunjuk atas tujuan hidup kita.

Dalam hal ini saya terbentuk di bawah konstruksi dua budaya Jawa yang berbeda, Jawa kromo (halus) dan Jawa ngoko (kasar). Dua Jawa itu mengalir dalam diri saya, yang halus saya dapatkan dari leluhur ayah saya, keluarga penghulu agama keraton Solo yang hijrah ke Surabaya pada akhir abad ke-19 Masehi; sedangkan yang kasar saya dapatkan dari leluhur ibu saya yang dapat dianggap sebagai warga asli kampung Surabaya.

Sejak kecil saya tumbuh dalam lingkungan Surabaya yang menurut klasifikasi Geertz (1981) adalah abangan dengan bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa ngoko, meskipun ajaran santri dan tutur bahasa Jawa Kromo Inggil juga sempat saya dapatkan dari ajaran yang disampaikan oleh nenek dari ayah saya. Ketika saya lahir, saya tak sempat lagi menyaksikan kakek-nenek dari Ibu saya, meskipun demikian kedekatan saya dengan Ibu telah menularkan dengan baik budaya ngoko ala Jawa Timuran dalam diri saya. Pada saat yang sama saya juga berhubungan dekat dengan nenek dari pihak ayah, beliau yang mengajari saya mengaji, membiasakan saya untuk berbicara dengan bahasa Jawa Kromo Inggil ala Mataraman, dan menemani saya belajar baca-tulis sewaktu Sekolah Dasar.

Dua budaya Jawa itulah, yang saya rasa hingga saat ini masih mengalir dalam diri saya. Saya mempunyai kemampuan untuk berperilaku ganda, halus dan kasar, ngoko dan kromo. Ada dua elan dalam diri saya, elan Jawa Timuran yang lugas dan berapi-api pada satu sisi, dan elan Mataraman yang tenang dan teratur pada sisi yang lain. Mulanya saya tak memahami betul, budaya apa yang mengalir dalam diri saya itu, baru akhir-akhir ini saya mulai mereka-reka siapakah saya, manusia dengan budaya apakah saya ini? Dengan pertanyaan itu, saya mencoba kembali kepada Geertz (1973) yang berpendapat bahwa untuk memahami bagaimana “menjadi manusia” diperlukan penghayatan yang penuh atas nilai-nilai budayanya sendiri. Melalui penghayatan semacam itu seorang Jawa akan mengatakan bahwa “menjadi manusia adalah menjadi Jawa”. Sehingga pada fase-fase tertentu kehidupan seorang manusia, belum dikatakan sempurna sebagai Jawa (durung Jowo) ketika ia belum sepenuhnya dapat melakukan atau memahami apa-apa yang terdapat dalam khazanah budaya Jawa.

*******

Lalu apakah saya telah memahami Jawa sepenuhnya? entahlah. Kiranya pemahaman atas ke Jawaan saya itu akan terus berproses, seiring dengan proses unsur Jawa mana yang nantinya kana tergerus dalam diri saya, yang halus atau yang kasar? atau dua-duanya akan tetap bersemayam hingga saat saya mati nanti.

Merujuk dari apa yang saya rasakan itu, adalah masuk akal jika suatu sistem budaya bisa diturunkan dalam suatu bagian-bagian yang lebih kecil lagi dari suatu bentuk dan isi dari kebudayaan yang lebih besar. Hal itu Durham (2002) sebutkan sebagai unit budaya, varian budaya atau item budaya. Meskipun saya tidak merasa bahwa budaya yang saya anut saat ini dapat merepresentasikan suatu populasi tertentu dari masyarakat Jawa, atau bahkan dari keluarga saya sekalipun. Budaya bagi saya dapat menjadi representasi dan makna dari suatu populasi hanya suatu frekuensi yang akan berubah-ubah setiap saat sesuai dengan perkembangannya dalam suatu kelompok masyarakat tertentu.

Terkait dengan variasi ini saya lebih suka merujuk kepada Barth (2002) yang berpendapat bahwa suatu variasi terjadi ketika si pelaku membentuk perilaku kelompok yang berbeda dengan kategori kelompok yang ada, sehingga akhirnya ia membuat kategori yang sesuai dengan sasaran hidupnya. Barth juga mengatakan bahwa orang dikelompokan sesuai dengan perbuatannya, dan sangat dipengaruhi oleh interaksi, bukan pemikiran. Untuk memperlihatkan hubungan antara ciri etnik dan keragaman budaya, ia terutama akan memperlihatkan bagaimana berbagai pengelompokan dan orientasi nilai dalam berbagai kondisi ini membentuk karakternya sendiri, dan bagaimana pengelompokan lain berubah akibat pengalaman, dan yang lainnya tidak mampu membentuk interaksi. Jadi sebenarnya variasi itu tercipta dalam proses interaksi itu sendiri.

*******

Itulah saya, saya berusaha untuk membuat kategori baru dalam kehidupan ini. Secara berlebihan mungkin ingin saya katakana bahwa saya akan menciptakan Jawa yang ala aku, Islam yang ala aku, sistem kekerabatan, sistem politik dan seterusnya yang ala aku. Dan kategori baru itu akan terlahir dari proses interaksi saya dengan berbagai kebudayaan di luar diri saya. Saya akan terus mendialektika-kan dua Jawa yang terkandung dalam diri saya dengan berbagai kebudayaan yang muncul di hadapan saya. Sehingga akan muncul suatu sintesa, berupa kategori baru atas diri saya.

Menyadari bahwa diri saya adalah diri yang partikular, diri yang berbeda dari diri yang lainnya, maka saya pun selalu berusaha menyadari bahwa manusia yang lainnya juga sama dengan diri saya, mempunyai kepartikularan-nya sendiri-sendiri. Saya berusaha sebisa mungkin untuk menghargai kepartikularan orang lain, meskipun orang itu adalah istri saya, atau orang tua saya sekalipun. Saya sebisa mungkin menghindari penyeragaman, bahkan dalam hal beribadah sekalipun saya tak pernah mengatur istri saya atau menyarankan kedua orang tua saya untuk memilih varian Islam yang saya yakini. Juga dengan teman-teman atau kerabat saya, urusan perbedaan agama, keyakinan,ras dan suku bangsa, atau pandangan hidup lainnya, sangat-sangat tidak berpengaruh dalam bagaimana cara saya memperlakukan mereka.

Dalam hal ini saya rasa pandangan Lila Abu Lughod (1991) bahwa sesuatu yang partikular mendorong kita untuk memahami kehidupan orang lain sebagaimana kehidupan kita sendiri, adalah tepat. Menurut Abu Lughod, manusia bukanlah robot yang terprogram dengan sesuatu yang bernama aturan budaya. Tetapi manusia adalah makhluk yang mempunyai banyak pilihan, membuat berbagai kesalahan, mencoba untuk menjadi baik, mengalami berbagai macam tragedi dan kehilangan, saling menikmati satu sama lain dan mencari momen kebahagiannya masing-masing. Aduh, alangkah indahnya dunia yang ia gambarkan. Saya melihat dalam hal ini, suatu harmoni justru dibentuk dari pertemuan antara sesuatu yang partikular yang berbeda-beda itu.

Saya menikmati sekali, kepartikularan Jawa ibu saya yang ngoko, saya sangat merasa benar-benar menjadi Arek Suroboyo yang lugas dan pemberani. Pada sisi lain, saya juga sangat beruntung dengan kepartikularan Jawa ayah saya yang menjadikan saya mampu bergaul dengan kelompok aristokrat dan teknokrat Jawa yang masih dominan dalam birokrasi kelembagaan negeri ini. Dengan dua Jawa itu saya berusaha berinteraksi dengan dunia di luar kebudayaan saya dan mencoba bertahan dalam pola pergaulan ibu kota yang cukup menantang ini. Selama 15 tahun lebih saya mengembara di Jakarta seorang diri, tanpa ada sanak-saudara di sekitar saya. Memulai hidup dengan menjadi guru SD di daerah Gunung Sindur, Bogor, lalu mulai kuliah sambil bekerja serabutan, hingga sekarang saya memiliki keluarga kecil saya di pinggiran Jakarta.

*******

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: