Belajar dari Cina Perantauan

Image

Dalam buku Where China Meets Southeast Asia  Grant Evans dan beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa perkembangan ekonomi pada dewasa ini telah menunjukkan bahwa kapitalisme di Asia Tenggara tidak lagi bersifat monolitik, dimana dominasi Barat di Asia Tenggara berlangsung sejak dimulainya era Perang Dingin. Tapi, sejak usainya era Perang Dingin, kekuatan ekonomi Barat  hanya menjadi salah satu variable dalam perekonomian Asia Tenggara, diantara banyaknya variable yang lain yang mulai bermunculan di kawasan itu, terutama jaringan Cina perantauan. (Grant Evans, Christopher Hutton and Eng Kuah Kuhn, 2000)

Jaringan Cina perantauan  pada dewasa ini telah menguasai perdagangan lintas perbatasan di beberapa wilayah di Asia Tenggara yang jatuh dalam praktek perekonomian informal atau bahkan perdagangan gelap dengan melibatkan beribu-ribu pedagang kecil di Laos, Vietnam bagian utara dan Cina bagian selatan. Untuk menunjukkan kuatnya jaringan internasional atau transnasional ini, John Naisbitt, pengarang buku Asian Megatrends yang mengatakan:

Jaringan (perdagangan) telah menggantikan posisi negara bangsa. Batas-batas wilayah seakan terhapus, jaringan menjadi semakin meluas dan semakin penting. Jaringan pertama yang menjadi permulaan bagi jaringan perdagangan itu adalah jaringan Cina perantauan. Kegiatan ekonomi jaringan Cina perantauan di wilayah perbatasan adalah jaringan perdagangan ketiga terbesar di dunia. Jaringan Cina perantauan ini lebih banyak menyerupai jaringan internet. Jika kita mengetahui bagaimana cara jaringan internet beroperasi, maka kita akan mengetahui pula bagaimana jaringan perdagangan Cina perantauan beroperasi.” (Naisbitt, 1996)

Berawal dari salah satu pemikiran dalam buku Where China Meets Southeast Asia (2000) yang menggambarkan bagaimana peranan kegiatan ekonomi Cina perantauan di wilayah zomia Asia Tenggara itu, makalah ini akan memberikan ulasan tentang beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan Cina perantauan dalam mengembangkan perekonomiannya di Asia Tenggara.

Sebagaimana telah banyak dituliskan oleh para sejarawan, sekaliber Anthony Read atau Denys Lombard bahwa jejak dan warisan Cina di Asia Tenggara tidak hanya sebatas pada artefak dan berbagai material sejarah lainnya, melainkan komunitas Cina itu masih abadi hingga saat ini berbaur dengan masyarakat Asia Tenggara lainnya.

*******

Di Indonesia pada periode setelah tahun 1965, pemerintah memberangus semua komunitas atau organisasi Cina yang dianggap pro Peking dan menutup semua sekolah Cina dalam rangka mempercepat proses asimilasi kaum peranakan. Setelah itu segera terjadi gelombang pemelukan berbagai agama oleh orang-orang cina, sebagaimana terjadi pada tahun 1740 pasca pembantaian Cina di Batavia. Pada beberapa bagian terdapat orang Cina yang mulai memeluk Kristen sebagai lambang pembaratan dan beberapa (dengan jumlah yang semakin besar) mulai masuk Islam dengan harapan segera terjadi asimiliasi total.

Gerakan asimilasi itu boleh jadi adalah suatu perkosaan hak bagi Cina perantauan Indonesia generasi pertama, tapi mungkin tidak bagi generasi selanjutnya yang sudah mulai terputus dari kebudayaan China. Mereka memandang bahwa sudah saatnya mulai menanggalkan beban warisan budaya yang mereka sandang dan melihat bahwa membaur di tengah masyarakat Indonesia adalah jalan terbaik bagi mereka. Pada titik ini menurut Lombard sebenarnya masyarakat Cina perantauan di Indonesia, Jawa khususnya, telah tidak lagi bersifat homogen yang terikat oleh suatu tradisi atau budaya tunggal yang monolitik, tapi telah menjadi majemuk dan terpecah belah. Selain itu, mereka telah menunjukkan suatu keterbukaan yang konsisten terhadap lingkungan sosialnya, sampai berkali-kali terdapat banyak kelompok Cina yang menghilang dan membaur dengan masyarakat luas. (Denys Lombard, 2000)

******

Sebagaimana di Indonesia, di negara-negara lain di Asia Tenggara, terutama Singapura, Thailand dan Filipina, Cina perantauan mendapatkan ruang dan kesempatan yang baik untuk berkembang, baik dalam politik maupun ekonomi. Hal itu tidak terjadi di Malaysia, dimana dapat dikatakan bahwa permasalahan Cina paling serius di Asia Tenggara terjadi di negeri yang mengaku multikultur itu. Kebijaksanaan Ekonomi Baru (KEB) di Malaysia  telah memberlakukan adanya diskriminasi terhadap orang Cina dan mengenakan biaya besar untuk kegiatan ekonomi yang mereka lakukan. Selain sistem pemerintahannya, faktor kebangkitan fundamentalisme Islam di Malaysia juga memberikan tekanan untuk memisahkan Cina dari pribumi. Di Indonesia hal serupa juga terjadi tapi tidak segawat sebagaimana yang terjadi di Malaysia. (Yoshihara Kunio, 1990)

Sebagaimana terlihat dalam kondisi Cina perantauan di Jawa, Cina perantauan di Asia Tenggara juga sama sekali tidak homogen. Kita tidak dapat membayangkan bahwa diaspora orang-orang Cina adalah suatu persebaran yang kemudian menciptakan semacam suatu persemakmuran di seluruh dunia tanpa melibatkan adanya pengaruh budaya lokal. Beberapa perbedaan antara Sino-Thai, Cina warga Singapura, dan Cina Indonesia terjadi karena masing-masing telah menyerap karakteristik budaya dan kesetiaan lokal pada tingkat-tingkat tertentu.

Orang Cina di Asia Tenggara sering memiliki identitas ganda, sebagaimana yang dialami oleh para penyinggah kosmopolitan di seluruh dunia dewasa ini. Hanya sedikit saja orang Cina Asia Tenggara yang masih mempertahankan hubungan keluarga atau kesetiaan politik yang akrab pada China. Lebih dari mereka, Cina perantauan itu lahir di Asia Tenggara, dan sebagian besar tak berkeinginan untuk kembali ke China untuk hidup di sana, berbeda dengan para generasi tua yang berkembang beberapa puluh tahun silam. (Jamie Mackie dalam Robert W. Hefner, 1999)

Diaspora orang-orang Cina dapat dikatakan telah berhasil melahirkan suatu budaya kapitalisme-nya sendiri. Daripada mengaitkannya dengan pengaruh ekonomi politik global, pada saat ini banyak pendapat yang mengatakan bahwa keberhasilan mereka itu disebabkan oleh modernitas China yang berbeda yang mempunyai budaya ekonominya sendiri yang unik. Diaspora orang-orang Cina telah dimulai sejak adanya persebaran Cina perantauan yang telah memiliki identitasnya sendiri sejak lebih dari 150 tahun yang lalu. Jaringan Cina perantauan ini dapat dikatakan sebagai suatu imperium yang tak terlihat yang diketahui tanpa mempunyai perbatasan, meskipun dalam kasus Sino-Thai dapat terlihat bahwa mereka juga turut menentukan definisi dari batasan-batasan itu secara profinsial, nasional, dan transnasional.

Diaspora orang-orang Cina selalu dilihat sebagai suatu konsep yang rumit, para Cina perantauan selalu terbentur dalam persoalan yang terkait apakah dirinya seorang nasionalis atau kosmopolit yang diukur dari suatu budaya yang tunggal dan masuk akal. Dalam hal ini bagaimanapun juga diaspora akan selalu berelasi dengan bangsa dalam kaitannya dengan pembentukan identitas bangsa. Pengamatan terhadap diapora dapat digunakan untuk memahami kaitan antara global dan lokal dan menyimpulkan bahwa kosmopolitanisme dan nasionalisme saling menghasilkan satu sama lain dalam hubungannya dengan norma dan perbedaan. Oleh sebab itu, diaspora tidak hanya kehilangan beberapa hubungan penting antara negara dan bangsa tapi juga memperjelas suatu informal politik dari hubungan antara global dan lokal.

Konsep nasionalisme dan Cina perantauan baru saja muncul pada akhir abad ke-19. Dinamika antara nasionalisme dan kosmopolitanisme dari diaspora tersebut telah mengasilkan suatu identitas ke-Cinaan yang tersendiri. Mulanya, China enggan untuk mengundang  para Cina perantauan itu sebagai para investor yang patriotik, pembahasan tentang mereka hanya sebatas pada bagaimana mempelajari kembali diaspora yang mereka lakukan dalam sejarah nasional mereka. Tapi kemudian pada akhir periode 1980 an telah lahir kembali suatu identitas Cina perantauan yang disebabkan oleh dua faktor yang membarengi reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Deng Xiaoping.

Kebijakan pintu terbuka (the open-door policy) telah memperbolehkan suatu rombongan besar dari para imigran baru untuk meninggalkan China dan sekaligus mengudang generasi lama Cina perantauan yang telah menjadi makmur untuk kembali ke China dan menanamkan investasinya di tanah kelahiran mereka yang menjadi bagian dari jaringan ekonomi terbesar dari The Greater China.

Meskipun demikian banyak pengamat yang mengatakan bahwa suksesnya ekonomi The Greater China dan Cina perantauan itu harus dilihat sebagai suatu yang terpisah dari pengawasan politik  yang tersentral di Beijing. Naisbitt berpendapat bahwa perkembangan itu bukanlah China, tapi  jaringan kerja orang-orang Cina untuk menggambarkan adanya pergeseran yang luar biasa dalam aktivitas ekonomi, yaitu dari negara-bangsa kepada jaringan kerja. Pada titik ini kita dapat melihat bagimana China mulai mengaitkan identitas diaspora para Cina perantauan dengan entitas negara. Diaspora Cina itu dapat dikatakan sebagai bentuk yang khas dari proses globalisasi yang mengikis batas-batas negara di Asia Tenggara, meski dalam kasus Thailand para Cina perantauan (Sino-Thai) juga dilibatkan dalam melakukan pendefinisian batas batas itu. Thailand secara unik menggunakan diaspora Cina untuk merekonstruksi definisi seorang nasionalis dan seorang asing sekaligus. (Callahan, 2003)

******

Dukungan China terhadap Cina perantauan sebagai suatu kebijakan luar negeri China telah dimulai sejak terjadinya Revolusi Kebudayaan di China. Hal itu terlihat dengan dimulainya beberapa kunjungan para pemimpin China di beberapa negara di Asia Tenggara yang bermaksud untuk membangun suatu kesepahaman dan persahabatan internasional antar negara dengan negara. Kaitan langkah itu dengan keberadaan Cina perantauan dapat kita lihat dalam suatu editorial People’s Daily, 4 Januari 1978, yang menuliskan:

”Terdapat banyak Cina perantauan yang kebanyakan diantara mereka tinggal di negara-negara dunia ketiga. Mereka adalah bangsa Cina yang nasionalis yang menjadi penting sebagai sabuk pengikat yang erat bagi persahabatan China dengan dengan bangsa-bangsa di negara yang mereka tinggali”.

Dengan pernyataan itu menunjukkan kebijakan politik luar negeri China yang memahami bahwa setiap negara berhak mendapatkan dukungan warganya, termasuk cina perantauan, dalam hal perjuangan negara dunia ketiga dalam melawan hegemoni, imperealisme, dan kolonialisme. Mereka tidak lagi sinis terhadap Cina perantauan yang berada di luar China, malahan mereka mulai melihat potensi Cina perantauan untuk mendukung politik keterbukaan mereka.

Sejak saat itu di beberapa negara di Asia Tenggara (contohnya di Filipina) beberapa komunitas Cina perantauan mulai mengadakan kesepahaman dengan pemerintah di negara mereka tinggal untuk memastikan dukungan cina perantauan dalam melaksanakan agenda nasional negaranya. Dengan kebijakan seperti itu China berharap bahwa secara alami persahabatan internasional mereka akan terbantu dengan sikap Cina perantauan yang bersahabat dengan masyarakat lokal negara-negara tersebut. Selain itu China dengan politik luar negerinya, ingin memastikan bahwa pemerintah dan bangsa –pada negara-negara dimana komunitas Cina perantauan berada–  memberikan kepercayaan kepada mereka. (Chang, 1980)

Tidak semua Cina perantauan mempunyai bakat kewirausahaan yang istimewa, meski sejumlah besar dari mereka memilikinya. Tapi sesungguhnya bakat-bakat mereka didorong oleh kondisi-kondisi yang mendukung yang berasal dari perkumpulan dan lembaga dagang mereka. Hampir setiap cina perantauan di Asia Tenggara memiliki motivasi yang kuat untuk mencetak keberhasilan sejak tahun-tahun lebih awal. ketika kemiskinan menjadi pendorong pertama motivasi itu, selain berbagi diskriminasi dan  ketidakamanan yang mereka alami. Sikap hemat, menabung dalam jumlah yang besar, dan memutar omzet usaha mereka dengan keuntungan yang tipis menjadikan mereka pesaing berat dalam dunia bisnis. Selain itu dalam budaya mereka juga terdapat hubungan kekeluargaan (dari garis ayah) yang melakukan pewarisan budaya berupa kebiasaan tekun, pantang mundur, dan berbagai determinasi dalam perilaku kewirausahaan orang cina.

Keberhasilan bisnis orang cina perantauan banyak ditentukan oleh berbagai unsur sosial budaya dan kelembagaan struktural yang mereka miliki. Jaringan keluarga cina dan perusahaan keluarga adalah suatu jaringan legendaris yang menjelajahi Asia Tenggara yang saling menjalin berbagai perekonomiannya. Selain itu terdapat dua faktor penting yang terdapat dalam jarinagn keluarga itu, yaitu kepercayaan internasional kepada xinyong (kepercayaan) seperti perekat yang mengikat transaksi perdagangan dan guanxi (hubungan pribadi) sebagai alat untuk mereduksi biaya transaksi dalam bisnis yang dilakukan dalam berbagai situasi dan tanpa jaminan secara hukum. Meskipun demikian di dalam hubungan pribadi dan kesepakatan bisnis secara lisan itu terdapat dukungan sanksi-sanksi kelompok informal yang dikaitkan dengan reputasi seseorang dalam jaringan tempatnya bergabung. (Jamie Mackie dalam Robert W. Hefner, 1999)

Menurut Lucian W Pye ada satu faktor yang juga berpengaruh dalam memperkuat guanxi yaitu apa yang disebut sebagai ganqing. Tidak ada padanan yang pas dalam bahasa lain untuk menggantikan makna yang terkandung dalam ganqing, tapi dapat dijelaskan bahwa ia adalah suatu komponen yang berpengaruh dalam guanxi, yaitu semacam perasaan atau emosi yang ada di dalamnya. Jika dikatakan bahwa ganqing dalam keadaan baik, maka dapat dipastikan  guanxi akan terjalin dalam hubungan yang sangat dekat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ganqing adalah kualitas dalam suatu hubungan yang menjadi dasar atau landasan bagi suatu tahapan penting dalam suatu kepentingan bersama. Betapapun orang cina terkadang membenci guanxi itu dan terkadang dipenuhi dengan rasa curiga, tapi mereka akan berusaha mengeksploitasinya sebisa mungkin demi kesuksesan bisnis mereka. (Lucian W Pye, 1985)

Selain itu kesuksesan mereka dalam mengembangkan perekonomian tidak hanya ditentukan oleh sistem kepercayaan yang mereka anut dari leluhur mereka. Hal itu terlihat pada cina perantauan di Asia Tenggara dapat dikatakan tidak terlalu Konfusius dalam pandangan bisnis mereka. Untuk keberhasilan perdagangan mereka membiasakan diri untuk bergabung dengan bangsa lain  dan menyerap nilai-nilai dagang yang sama yang berlaku secara universal. Bahkan, dalam pengalaman mereka di Thailand atau Indonesia, cina perantauan harus banyak kehilangan ke Cina-annya dalam proses pengembangan ekonomi mereka. Pada titik ini konteks lokal selalu menjadi pengaruh penting dalam suksesnya cina perantauan. Di Filipina misalnya, elite cina peranakan adalah kelompok pertama yang berpribudaya Spanyol, kemudian pada masa selanjutnya beralih seperti orang Filipina, sampai pada titik mereka kehilangan warisan budaya mereka. (Jamie Mackie dalam Robert W. Hefner, 1999)

Dalam kasus cina perantauan di Jawa, cina peranakan telah sejak lama berbeda dengan cina perantau generasi pertama yang disebut dengan totok. Golongan cina peranakan lebih memilih pekerjaan yang bergaji dan mempunyai jenjang karir professional yang lebih nyaman dan tidak ruwet memikirkan berbagai resiko dalam kehidupan berdagang. Pada saat ini di Indonesia hampir seluruh pengusaha cina terkemuka berasal dari keluarga totok. Itu menandakan kaum cina perantauan yang totok lah yang dapat dikatakan suka bekerja keras, paling berani mengambil resiko, dan berhasil. Berbeda dengan Jepang yang memegang teguh martabat dan nilai-nilai luhur mereka, cina perantauan mempunyai perasaan atau naluri untuk memahami sesuatu yang kotor yang terjadi dalam suatu relasi kekuasaan. (Lucian W Pye, 1985)

Setelah mengamati beberapa perkembangan Cina perantauan di Asia Tenggara, agaknya tidak terlalu keliru bahwa sebenarnya spirit Cina perantauan dapat tergambar dalam cerita silat yang menjadi produk warisan mereka di Jawa. Dalam cerita silat (cersil) mereka menggambarkan dalam kisah dunia ini tidak ada kekuasaan pusat, tak ada negara, tak ada polisi, tak ada keadilan yang tertata. Rakyat terus diperas dan dijarah oleh bandit bandit daerah sekitar yang menguasai hutan dan gunung, hingga kemudian muncul pendekar penyelamat di tengah dunia yang pesimistis itu. Para pendekar itu adalah para pengembara yang hidup soliter dan karena pertapaannya mereka mempunyai kesaktian. (Denys Lombard, 2000)

Gambaran itulah yang masih muncul hingga saat ini dalam masyarakat Cina perantauan di Indonesia. Manusia digambarkan sebagai seorang pengembara yang terbebas dari beban ruang dan mendaki jaringan yang lebih tinggi yang memungkinkan untuk melakukan kebajikan, sampai akhirnya menemukan rahasianya. Pada filosofi demikian, maka mereka sudah tidak lagi mempermasalahkan di bagian bumi mana ia berpijak, di batas teritori mana ia berkiprah, atau di bawah kekuasaan macam apa ia harus tunduk. Mereka adalah para pengembara, bak pendekar dalam cersil itu, yang terus menebarkan kebajikan dengan kesaktian mereka. Dan kesaktian itu hari ini mewujud dalam kekuatan ekonomi perdagangan mereka yang menggurita di Asia Tenggara.

********

Sumber Pustaka

Callahan, Wiliam A. Beyond Cosmopolitanism and Nationalism: Diasporic Chinese and Neo-Nationalism in China and Tailand dalam International Organization, Vol. 57, No. 3 (Summer, 2003), p.p. 481 – 517.

Chang, C.Y. Overseas Chinese ini China’s Policy dalam The China Quartely, No. 82 (Jun, 1980), p.p. 281-303.

Grant Evans, Christopher Hutton and Eng Kuah Kuhn (ed.). Where China Meets Southeast Asia: Social and Cultural Change in the Borders Regions. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2000.

Hefner, Robert W (ed.). Budaya Pasar: Masyarakat dan Moralitas dalam Kapitalisme Asia Baru. Jakarta: LP3ES, 1999.

Kunio, Yoshihara. Kapitalisme Semu Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES, 1990.

Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya Bagian II: Jaringan Asia. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Pye, Lucian W. Asian Power and Politics: The Cultural Dimensions of Authority. Massachusetts and London: The Belknap Press Of Harvard University Press, 1985.

Suryadinata, Leo (ed.). Southeast Asia’s Chinese Businesses in an Era of Globalization: Coping with the Rise of China. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies Singapore, 2006.

Yang, Twang Peck. Elite Bisnis Cina di Indonesia dan Masa Transisi Kemerdekaan 1940-1950. Yogyakarta: Penerbit Niagara, 1994.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: