Kisah tentang Bemo (2):”jadi tentara atau sopir Bemo?”

Sore itu saya tiba di Benhil sekitar jam empat. Tidak seperti sebelumnya, kali ini saya menuju Benhil melalui Blok M dengan menggunakan Kopaja P 19. Sebenarnya ada alternatif lain untuk menuju Benhil, yaitu menggunakan busway. Tapi sore itu saya malas untuk turun ke Terminal Blok M bagian bawah untuk mendapatkan tiket busway. Ya,sudah yang praktis saja, saya menggunakan Kopaja 19 yang biasanya tidak masuk ke dalam terminal, tapi ngetem di sekitar pintu keluar Terminal Blok M.

Sesampai di Benhil saya langsung menuju ke pangkalan bemo. Dari semula saya berniat untuk duduk di bagian depan bersama sopir, agar saya bisa membuka komunikasi dengannya selama dalam perjalanan menuju ke Pejompongan atau entah kemana. Sesampai di pangkalan, timer bemo berteriak-teriak mencari penumpang. Di bagian antrian depan, terdapat satu bemo yang sudah tampak penuh, hanya menyisakan bagian belakang saja untuk memuat penumpang, sedangkan bangku depan tampaknya telah terisi. Saya membatalkan niat saya untuk menaiki bemo di antrian itu. Sementara kalau saya tidak segera menaiki bemo dan menunggu antrian berikutnya, tentu akan menimbulkan sedikit gerutuan dari si timer, karena dianggap rewel pilih-pilih tempat duduk.

Saya terus berjalan ke depan, dan mulai teringat akan pengamatan saya pada hari rabu pekan sebelumnya. Di depan Rumah Makan Sunda Ampera, biasanya ada satu dua bemo dengan mesin menyala terus mencari penumpang dan langsung berangkat begitu ada satu atau dua penumpang yang menaikinya. Bergegas saya menuju kesana, dan memang dari kejauhan saya melihat ada dua bemo yang sedang mencari penumpang. Saya menghampiri bemo yang paling depan, dan ternyata bangku bagian depan masih kosong. Saya langsung menyapa sopir bemo, “Pejompongan, pak?”. Ia menjawab, “ ya, ayo buruan naik naik, langsung langsung….”. Beberapa menit kemudian bemo segera berangkat begitu ada dua orang pelajar SMA dan seorang ibu naik di bagian belakang bemo. “Trungtung tung tung tung tung…….”  begitu bunyi bemo itu.

Saya belum membuka pembicaraan dengan sopir bemo, masih segan rasanya. Untuk beberapa saat, saya masih mengamati keadaan ruang kabin awak bemo itu. Saya melihat pintu depan bemo hanya dikaitkan secara manual dengan menggunakan pengkait tali karet. Pintunya pun sudah mulai grepes (aus) pada bagian pinggirnya sehingga tak tertutup rapat. Lima atau tujuh menit kemudian, sampailah bemo di depan Rumah Sakit AL, seorang ibu yang duduk di belakang memekik sopir untuk turun, “Pir kiri, kiri Pir…..”. Begitulah bemo yang saya tumpangi itu, tidak ada tombol lampu atau bel yang bisa digunakan oleh penumpang untuk memberi tanda kepada sopir jika mereka hendak turun. Beberapa puluh meter kemudian, dua remaja SMA itu juga turun di depan sebuah warung internet (warnet). Tinggal lah saya sendirian dengan sopir, mengatasi kondisi itu si sopir mulai bertanya kepada saya, “turun dimana Pak?”. Saya langsung menanggapi pertanyaan itu dan segera menangkap peluang untuk membuka suatu percakapan dengan si sopir. “Saya mau muter-muter aja Pak, ini bemo mau sampai mana? kalau boleh saya ikut lagi kembali ke pangkalan pasar Benhil” begitu jawab saya.”Boleh, saya mau muter di polsek di pejompongan situ trus balik lagi ke Benhil, sewa (penumpang) lagi sepi nih!”, sopir bemo itu pun menjawab.

******

Setelah itu, saya mulai mencoba melempar beberapa pertanyaan basa-basi tentang cuaca, tentang hari itu yang seperti biasa, cuaca berubah-ubah terus, sebentar panas, sebentar mendung, lalu panas lagi, dan tiba-tiba hujan. Saya menyimpulkan bahwa sopir yang lumayan berumur ini cukup terbuka untuk diajak bicara, sembari memburu penumpang di sepanjang Pejompongan hingga ke Benhil saya berhasil memperoleh beberapa informasi penting tentang bemo di Benhil. “Ayah saya dulu sopir bemo Pak, tapi di Surabaya. Nah, ini saya ingin bernostalgia dengan bemo ini…..” begitu celetuk saya di sela-sela pembicaraan, semacam memberi landasan kenapa saya banyak bertanya sepanjang jalan. Sopir itu pun menjawab, “oh gitu, kangen ya sama bemo…”.

Perjalanan satu rit (satu putaran pulang-pergi) itu saya tempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Pada perjalanan pulang bemo kami sedikit melambat untuk memburu penumpang yang  berada di sepanjang jalan, agak susah ternyata. Bemo itu benar-benar kosong, padahal menurut sopir, saat itu –pukul empat sore sampai pukul tujuh malam– adalah waktu padat yang seharusnya banyak karyawan yang pulang dari kantor.

Sopir itu adalah Pak Bejo (bukan nama sebenarnya), seorang bapak berusia sekitar 65 tahun, perawakannya sedang-sedang saja, berkulit gelap, tampak begitu liat dengan pandangan mata yang masih cukup awas untuk seorang laki-laki yang telah melampaui waktu lebih dari setengah abad. “Saya nyopir begini sejak tahun 70an, Mas. Sampai sekarang nggak putus-putus….”, begitu tukasnya sambil kemudian tergelak. Menurutnya pada periode 1980an adalah periode emas bagi bemo dan sopirnya. Saat itu route bemo masih cukup panjang, dari Bendungan Hilir hingga ke wilayah Roxy saat ini. Bahkan kadang-kadang tidak hanya berhenti di Benhil, tapi sampai wilayah Karet, Kuningan. Ia menambahkan, “Dulu, bemo belum banyak saingan, asal kaki kita kuat ngebawa bemo dari pagi sampai malam ngak ada habisnya penumpang, kaleng tempat uang ongkos ini Mas, sampai penuh!”.

Terkait dengan masa kejayaan bemo itu, Pak Bejo mengisahkan bahwa dulu di Benhil ini ada seorang tentaram, anggota ABRI, yang memilih untuk menjadi sopir bemo dan desersi dari kesatuannya. Kisah itu menjadi pergunjingan yang luas di kalangan pengemudi bemo dan masyarakat Benhil. Tapi untungnya Si tentara  itu terhitung berhasil sebagai sopir bemo karena kemudian bemonya berkembang dari satu menjadi enam atau tujuh bemo. Tapi saat ini kondisi bemo sangat jauh berbeda dari masa kejayaannya. Dari jam 5 pagi hingga 11 malam, sopir bemo hanya cukup untuk memberi setoran kepada pemilik bemo sejumlah 50 ribu rupiah, dan membeli bensin 8 liter sehari, lalu sisa bersih yang mereka bawa pulang sekitar 20 hingga 30 ribu, begitu menurut pengakuan Pak Bejo.

Menurut informasi Pak Bejo, jumlah bemo di kawasan Benhil sekitar 113 bemo, meski tiap hari yang beroperasi hanya 70 sampai 80 bemo, sisanya tidak beroperasi karena rusak atau tidak ada pengemudi yang membawanya.Tidak semua sopir bemo yang beroperasi di Benhil memiliki bemonya sendiri, banyak diantara mereka yang hanya membawa bemo milik juragan bemo. Ia tidak tau siapa di kawasan itu yang merajai dalam kepemilikan bemo, tapi biasanya juragan bemo mempunyai lima sampai sepuluh bemo. Pak Bejo sendiri, adalah seorang sopir yang saat ini tidak lagi mengemudikan bemonya sendiri. “Bemo saya sudah terjual semua Mas, tapi Alhamdulillah anak saya bisa kuliah, kuliah di BSI dia….pintar tuh anak saya, bisa kuliah”, begitu terangnya kepada saya di sore itu. Saya sengaja tidak banyak bertanya, saya biarkan Pak Bejo nyerocos bercerita bebas, sesekali saya hanya memancing dengan pertanyaan kecil yang kadang ia jawab dengan tepat sebagaimana yang saya masksudkan, atau terkadang ia menjawab dengan hal yang nggak nyambung. Saya menangkap, Pak Bejo ini type orang yang gampang berbicara dan lebih ingin didengarkan.

******

Setelah agak lama kami berbincang dalam bemo, pak Bejo kemudian bertanya kepada saya apakah berniat untuk membeli bemo. “Kan dulu bapaknya punya bemo, apa nggak pingin beli bemo?”, begitu kira-kira tanyanya. Saya menjawab saya hanya sebatas kangen dengan bemo dan kebetulan saya ada tugas kuliah untuk membuat karya tulis tentang bemo. Dengan jawaban saya itu Pak Bejo hanya menjawab, “oh, kirain mau beli bemo kok kayaknya demen amat ama bemo…”. Kemudian saya menimpali soal harga bemo ini, kira-kira berapa harga bemo saat ini di pasaran. Pak Bejo mengatakan –sambil menunjuk kepada sebuah bemo yang lumayan mulus yang sedang melintas– harga bemo yang masih lumayan bagus sekitar 10 juta rupiah, sedangkan bemo dalam kondisi biasa aja atau rada usang harganya sekitar 8 jutaan. Terkait harga ini Pak Bejo mengisahkan bahwa pernah satu atau dua tahun yang lalu ada seorang pengusaha –entah siapa–  membeli bemo dengan harga 13 juta rupiah untuk dikoleksi dalam museum pribadinya. “Gila tuh orang, beli bemo semahal itu buat iseng….tapi yang enak tuh waktu itu temen saya yang jadi montirnya, disuruh ngerapihin bemo, pokoknya sebelum dikoleksi harus rapih dulu… ”, begitu komentar Pak Bejo menyambung kisahnya.

Mendengar kata montir, kemudian saya bertanya kepada pak Bejo sejauh mana ketergantungan sopir bemo kepada montir, saya mencoba untuk mengkonfirmasi apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya bahwa setiap sopir bemo dapat menangani bemonya sendiri. Pak Bejo mengatakan bahwa merawat bemo memang cukup mudah, sehingga sopir dapat dengan mudah melakukannya sendiri dan belajar menangani kerusakan kecil yang terjadi pada bemonya. Tapi kalau turun mesin, sopir atau pemilik bemo tetap membawa bemo ke montir. Kemudian saya bertanya dimana letak bengkel bemo di kawasan Benhil ini? Pak Bejo menjawab bahwa bengkel ada di Tanah Abang, tapi biasanya montir mengerjakan perbaikan bemo di pinggir jalan atau di rumah masing- masing pemilik atau sopir bemo. Pak Bejo menambahkan bahwa kalau komponen mesin bemo masih orisinil maka paling tidak setahun sekali harus dilakukan turun mesin. Tapi jika komponen mesin bemo banyak yang sudah dikanibal, diganti dengan komponen onderdil buatan Surabaya atau Malang, biasanya lima bulan sekali sudah harus dilakukan turun mesin.

******

Pada akhir pembicaraan saya dengan Pak Bejo saya mencoba bertanya soal trayek bemo dan status perizinan bemo. Agak berat rupanya membicarakan soal stuatus trayek itu. Ketika saya bertanya soal itu, tersirat di wajahnya seakan mulai tidak percaya kepada saya, bahwa saya hanya seseorang yang kangen dan akan menulis bemo untuk tugas kuliah. Tapi kemudian dia menjawab bahwa tidak ada lagi izin trayek yang dimiliki oleh bemo-bemo ini, makanya routenya terkesan suka-suka sopir bemo saj dan secara konvensi tidak lagi melebihi wilayah perputaran (U Turn) depan polsek Pejompongan. “Tapi saya bayar mahal lho untuk bemo ini, setiap hari saya bayar retribusi 3 rebu rupiah, kalikan aja tiap hari selama sebulan berapa, lalu selama setahun berapa? lebih mahal bayar retribusi daripada bayar izin trayek resmi” begitu kata pak Bejo dengan nada agak tinggi.

Lalu saya bertanya kepadanya, kepada siapa retribusi bemo ini dibayarkan setiap hari? Pak Bejo tidak menjawab secara spesifik, siapa dan atau instansi apa yang menarik retribusi itu, pokoknya ada petugas khusus yang menarik retribusi itu tiap pagi atau siang hari. Ketika saya menimpali apakah petugas (****)  yang menarik retribusi itu, Pak Bejo menjawab “ya, mungkin….”. Terakhir sekali sebagai bentuk penegasan terkait tentang status trayek bemo itu, saya bertanya kepada pak Bejo,”maaf, Pak. jadi status bemo selama ini illegal? nggak ada surat-suratnya?”. Pak Bejo menjawab” ya, pokoknya nggak ada surat-suratnya, tapi ya gantinya ya retribusi itu….”

Pertanyaan saya yang paling akhir itu, untungnya sempat terlontar waktu bemo pak Bejo telah sampai depan salon Laris. Saya segera menyiapkan uang empat ribu rupiah untuk ongkos bemo itu, karena saya menaiki bemo sepanjang satu rit penuh, pulang dan pergi. Depan pasar Benhil pak Bejo beputar dan memulai masuk antrian, rupanya ia ingin beristirahat dengan memasuki antrian bemo di depan Pasar Benhil, tidak seperti sebelumnya, ia langsung tancap gas tanpa harus ngetem. Dan hari masih sore, belum masuk jam lima saya pikir, maka saya juga mulai berjalan lagi ke depan Rumah Makan Sunda Ampera, barangkali ada bangku depan bemo yang kosong buat saya dan sekali lagi saya akan mencari informan. Saya mencari Bejo Bejo yang lain…..

******

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: