Kisah tentang Bemo (2):”jadi tentara atau sopir Bemo?”

Mei 2, 2012 - Komentar Dimatikan

Sore itu saya tiba di Benhil sekitar jam empat. Tidak seperti sebelumnya, kali ini saya menuju Benhil melalui Blok M dengan menggunakan Kopaja P 19. Sebenarnya ada alternatif lain untuk menuju Benhil, yaitu menggunakan busway. Tapi sore itu saya malas untuk turun ke Terminal Blok M bagian bawah untuk mendapatkan tiket busway. Ya,sudah yang praktis saja, saya menggunakan Kopaja 19 yang biasanya tidak masuk ke dalam terminal, tapi ngetem di sekitar pintu keluar Terminal Blok M.

Sesampai di Benhil saya langsung menuju ke pangkalan bemo. Dari semula saya berniat untuk duduk di bagian depan bersama sopir, agar saya bisa membuka komunikasi dengannya selama dalam perjalanan menuju ke Pejompongan atau entah kemana. Sesampai di pangkalan, timer bemo berteriak-teriak mencari penumpang. Di bagian antrian depan, terdapat satu bemo yang sudah tampak penuh, hanya menyisakan bagian belakang saja untuk memuat penumpang, sedangkan bangku depan tampaknya telah terisi. Saya membatalkan niat saya untuk menaiki bemo di antrian itu. Sementara kalau saya tidak segera menaiki bemo dan menunggu antrian berikutnya, tentu akan menimbulkan sedikit gerutuan dari si timer, karena dianggap rewel pilih-pilih tempat duduk.

Saya terus berjalan ke depan, dan mulai teringat akan pengamatan saya pada hari rabu pekan sebelumnya. Di depan Rumah Makan Sunda Ampera, biasanya ada satu dua bemo dengan mesin menyala terus mencari penumpang dan langsung berangkat begitu ada satu atau dua penumpang yang menaikinya. Bergegas saya menuju kesana, dan memang dari kejauhan saya melihat ada dua bemo yang sedang mencari penumpang. Saya menghampiri bemo yang paling depan, dan ternyata bangku bagian depan masih kosong. Saya langsung menyapa sopir bemo, “Pejompongan, pak?”. Ia menjawab, “ ya, ayo buruan naik naik, langsung langsung….”. Beberapa menit kemudian bemo segera berangkat begitu ada dua orang pelajar SMA dan seorang ibu naik di bagian belakang bemo. “Trungtung tung tung tung tung…….”  begitu bunyi bemo itu.

Saya belum membuka pembicaraan dengan sopir bemo, masih segan rasanya. Untuk beberapa saat, saya masih mengamati keadaan ruang kabin awak bemo itu. Saya melihat pintu depan bemo hanya dikaitkan secara manual dengan menggunakan pengkait tali karet. Pintunya pun sudah mulai grepes (aus) pada bagian pinggirnya sehingga tak tertutup rapat. Lima atau tujuh menit kemudian, sampailah bemo di depan Rumah Sakit AL, seorang ibu yang duduk di belakang memekik sopir untuk turun, “Pir kiri, kiri Pir…..”. Begitulah bemo yang saya tumpangi itu, tidak ada tombol lampu atau bel yang bisa digunakan oleh penumpang untuk memberi tanda kepada sopir jika mereka hendak turun. Beberapa puluh meter kemudian, dua remaja SMA itu juga turun di depan sebuah warung internet (warnet). Tinggal lah saya sendirian dengan sopir, mengatasi kondisi itu si sopir mulai bertanya kepada saya, “turun dimana Pak?”. Saya langsung menanggapi pertanyaan itu dan segera menangkap peluang untuk membuka suatu percakapan dengan si sopir. “Saya mau muter-muter aja Pak, ini bemo mau sampai mana? kalau boleh saya ikut lagi kembali ke pangkalan pasar Benhil” begitu jawab saya.”Boleh, saya mau muter di polsek di pejompongan situ trus balik lagi ke Benhil, sewa (penumpang) lagi sepi nih!”, sopir bemo itu pun menjawab.

Setelah itu, saya mulai mencoba melempar beberapa pertanyaan basa-basi tentang cuaca, tentang hari itu yang seperti biasa, cuaca berubah-ubah terus, sebentar panas, sebentar mendung, lalu panas lagi, dan tiba-tiba hujan. Saya menyimpulkan bahwa sopir yang lumayan berumur ini cukup terbuka untuk diajak bicara, sembari memburu penumpang di sepanjang Pejompongan hingga ke Benhil saya berhasil memperoleh beberapa informasi penting tentang bemo di Benhil. “Ayah saya dulu sopir bemo Pak, tapi di Surabaya. Nah, ini saya ingin bernostalgia dengan bemo ini…..” begitu celetuk saya di sela-sela pembicaraan, semacam memberi landasan kenapa saya banyak bertanya sepanjang jalan. Sopir itu pun menjawab, “oh gitu, kangen ya sama bemo…”.

Perjalanan satu rit (satu putaran pulang-pergi) itu saya tempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Pada perjalanan pulang bemo kami sedikit melambat untuk memburu penumpang yang  berada di sepanjang jalan, agak susah ternyata. Bemo itu benar-benar kosong, padahal menurut sopir, saat itu –pukul empat sore sampai pukul tujuh malam– adalah waktu padat yang seharusnya banyak karyawan yang pulang dari kantor.

Sopir itu adalah Pak Bejo (bukan nama sebenarnya), seorang bapak berusia sekitar 65 tahun, perawakannya sedang-sedang saja, berkulit gelap, tampak begitu liat dengan pandangan mata yang masih cukup awas untuk seorang laki-laki yang telah melampaui waktu lebih dari setengah abad. “Saya nyopir begini sejak tahun 70an, Mas. Sampai sekarang nggak putus-putus….”, begitu tukasnya sambil kemudian tergelak. Menurutnya pada periode 1980an adalah periode emas bagi bemo dan sopirnya. Saat itu route bemo masih cukup panjang, dari Bendungan Hilir hingga ke wilayah Roxy saat ini. Bahkan kadang-kadang tidak hanya berhenti di Benhil, tapi sampai wilayah Karet, Kuningan. Ia menambahkan, “Dulu, bemo belum banyak saingan, asal kaki kita kuat ngebawa bemo dari pagi sampai malam ngak ada habisnya penumpang, kaleng tempat uang ongkos ini Mas, sampai penuh!”.

Terkait dengan masa kejayaan bemo itu, Pak Bejo mengisahkan bahwa dulu di Benhil ini ada seorang tentaram, anggota ABRI, yang memilih untuk menjadi sopir bemo dan desersi dari kesatuannya. Kisah itu menjadi pergunjingan yang luas di kalangan pengemudi bemo dan masyarakat Benhil. Tapi untungnya Si tentara  itu terhitung berhasil sebagai sopir bemo karena kemudian bemonya berkembang dari satu menjadi enam atau tujuh bemo. Tapi saat ini kondisi bemo sangat jauh berbeda dari masa kejayaannya. Dari jam 5 pagi hingga 11 malam, sopir bemo hanya cukup untuk memberi setoran kepada pemilik bemo sejumlah 50 ribu rupiah, dan membeli bensin 8 liter sehari, lalu sisa bersih yang mereka bawa pulang sekitar 20 hingga 30 ribu, begitu menurut pengakuan Pak Bejo.

Menurut informasi Pak Bejo, jumlah bemo di kawasan Benhil sekitar 113 bemo, meski tiap hari yang beroperasi hanya 70 sampai 80 bemo, sisanya tidak beroperasi karena rusak atau tidak ada pengemudi yang membawanya.Tidak semua sopir bemo yang beroperasi di Benhil memiliki bemonya sendiri, banyak diantara mereka yang hanya membawa bemo milik juragan bemo. Ia tidak tau siapa di kawasan itu yang merajai dalam kepemilikan bemo, tapi biasanya juragan bemo mempunyai lima sampai sepuluh bemo. Pak Bejo sendiri, adalah seorang sopir yang saat ini tidak lagi mengemudikan bemonya sendiri. “Bemo saya sudah terjual semua Mas, tapi Alhamdulillah anak saya bisa kuliah, kuliah di BSI dia….pintar tuh anak saya, bisa kuliah”, begitu terangnya kepada saya di sore itu. Saya sengaja tidak banyak bertanya, saya biarkan Pak Bejo nyerocos bercerita bebas, sesekali saya hanya memancing dengan pertanyaan kecil yang kadang ia jawab dengan tepat sebagaimana yang saya masksudkan, atau terkadang ia menjawab dengan hal yang nggak nyambung. Saya menangkap, Pak Bejo ini type orang yang gampang berbicara dan lebih ingin didengarkan.

Setelah agak lama kami berbincang dalam bemo, pak Bejo kemudian bertanya kepada saya apakah berniat untuk membeli bemo. “Kan dulu bapaknya punya bemo, apa nggak pingin beli bemo?”, begitu kira-kira tanyanya. Saya menjawab saya hanya sebatas kangen dengan bemo dan kebetulan saya ada tugas kuliah untuk membuat karya tulis tentang bemo. Dengan jawaban saya itu Pak Bejo hanya menjawab, “oh, kirain mau beli bemo kok kayaknya demen amat ama bemo…”. Kemudian saya menimpali soal harga bemo ini, kira-kira berapa harga bemo saat ini di pasaran. Pak Bejo mengatakan –sambil menunjuk kepada sebuah bemo yang lumayan mulus yang sedang melintas– harga bemo yang masih lumayan bagus sekitar 10 juta rupiah, sedangkan bemo dalam kondisi biasa aja atau rada usang harganya sekitar 8 jutaan. Terkait harga ini Pak Bejo mengisahkan bahwa pernah satu atau dua tahun yang lalu ada seorang pengusaha –entah siapa–  membeli bemo dengan harga 13 juta rupiah untuk dikoleksi dalam museum pribadinya. “Gila tuh orang, beli bemo semahal itu buat iseng….tapi yang enak tuh waktu itu temen saya yang jadi montirnya, disuruh ngerapihin bemo, pokoknya sebelum dikoleksi harus rapih dulu… ”, begitu komentar Pak Bejo menyambung kisahnya.

Mendengar kata montir, kemudian saya bertanya kepada pak Bejo sejauh mana ketergantungan sopir bemo kepada montir, saya mencoba untuk mengkonfirmasi apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya bahwa setiap sopir bemo dapat menangani bemonya sendiri. Pak Bejo mengatakan bahwa merawat bemo memang cukup mudah, sehingga sopir dapat dengan mudah melakukannya sendiri dan belajar menangani kerusakan kecil yang terjadi pada bemonya. Tapi kalau turun mesin, sopir atau pemilik bemo tetap membawa bemo ke montir. Kemudian saya bertanya dimana letak bengkel bemo di kawasan Benhil ini? Pak Bejo menjawab bahwa bengkel ada di Tanah Abang, tapi biasanya montir mengerjakan perbaikan bemo di pinggir jalan atau di rumah masing- masing pemilik atau sopir bemo. Pak Bejo menambahkan bahwa kalau komponen mesin bemo masih orisinil maka paling tidak setahun sekali harus dilakukan turun mesin. Tapi jika komponen mesin bemo banyak yang sudah dikanibal, diganti dengan komponen onderdil buatan Surabaya atau Malang, biasanya lima bulan sekali sudah harus dilakukan turun mesin.

Pada akhir pembicaraan saya dengan Pak Bejo saya mencoba bertanya soal trayek bemo dan status perizinan bemo. Agak berat rupanya membicarakan soal stuatus trayek itu. Ketika saya bertanya soal itu, tersirat di wajahnya seakan mulai tidak percaya kepada saya, bahwa saya hanya seseorang yang kangen dan akan menulis bemo untuk tugas kuliah. Tapi kemudian dia menjawab bahwa tidak ada lagi izin trayek yang dimiliki oleh bemo-bemo ini, makanya routenya terkesan suka-suka sopir bemo saj dan secara konvensi tidak lagi melebihi wilayah perputaran (U Turn) depan polsek Pejompongan. “Tapi saya bayar mahal lho untuk bemo ini, setiap hari saya bayar retribusi 3 rebu rupiah, kalikan aja tiap hari selama sebulan berapa, lalu selama setahun berapa? lebih mahal bayar retribusi daripada bayar izin trayek resmi” begitu kata pak Bejo dengan nada agak tinggi.

Lalu saya bertanya kepadanya, kepada siapa retribusi bemo ini dibayarkan setiap hari? Pak Bejo tidak menjawab secara spesifik, siapa dan atau instansi apa yang menarik retribusi itu, pokoknya ada petugas khusus yang menarik retribusi itu tiap pagi atau siang hari. Ketika saya menimpali apakah petugas (****)  yang menarik retribusi itu, Pak Bejo menjawab “ya, mungkin….”. Terakhir sekali sebagai bentuk penegasan terkait tentang status trayek bemo itu, saya bertanya kepada pak Bejo,”maaf, Pak. jadi status bemo selama ini illegal? nggak ada surat-suratnya?”. Pak Bejo menjawab” ya, pokoknya nggak ada surat-suratnya, tapi ya gantinya ya retribusi itu….”

Pertanyaan saya yang paling akhir itu, untungnya sempat terlontar waktu bemo pak Bejo telah sampai depan salon Laris. Saya segera menyiapkan uang empat ribu rupiah untuk ongkos bemo itu, karena saya menaiki bemo sepanjang satu rit penuh, pulang dan pergi. Depan pasar Benhil pak Bejo beputar dan memulai masuk antrian, rupanya ia ingin beristirahat dengan memasuki antrian bemo di depan Pasar Benhil, tidak seperti sebelumnya, ia langsung tancap gas tanpa harus ngetem. Dan hari masih sore, belum masuk jam lima saya pikir, maka saya juga mulai berjalan lagi ke depan Rumah Makan Sunda Ampera, barangkali ada bangku depan bemo yang kosong buat saya dan sekali lagi saya akan mencari informan. Saya mencari Bejo Bejo yang lain…..

Kisah tentang Bemo (1): “antara saya dan Bemo…”

Mei 2, 2012 - Komentar Dimatikan

Siang itu, setelah sekian lama, saya kembali pergi menuju Bendungan Hilir (Benhil) dengan menggunakan Metromini 604, moda transportasi –yang pernah beberapa lama– menjadi kendaraan favorit saya untuk pergi bekerja, apel malam minggu ke rumah pacar, atau sekedar iseng jalan-jalan sore menuju kawasan Sudirman-Thamrin dari Pasar Minggu atau Pancoran. Siang itu, tujuan saya menuju Benhil untuk melakukan pengamatan pertama atas Bemo Benhil, moda transportasi yang saya ajukan sebagai subjek penelitian saya pada suatu mata kuliah.

Sebenarnya, terkait dengan bemo, pada pekan sebelumnya saya sempat bertanya kepada ayah saya tentang bemo, beliau pernah menjadi sopir bemo di Surabaya pada periode 1980an. Saat itu saya masik kanak-kanak, tak banyak memori tentang bemo yang membekas dalam ingatan saya, selain bahwa ayah saya mempunyai seorang partner sopir, yaitu Pak Tik, begitu kami memanggilnya, seorang Cina tua, berbadan kurus, berwajah kalem, tak banyak bicara. Kalau saya ingat, pak Tik lebih cocok sebagai seorang akuntan, daripada seorang sopir bemo paruh waktu.

Pada kesempatan yang lalu saya bertanya kepada ayah saya, apa yang paling khas dari bemo bagi seorang sopir dibandingkan dengan kendaraan angkutan kota (angkot) lainnya? Beliau menjawab bahwa bemo adalah kendaraan yang simple, mesinnya nggak ribet, hampir setiap sopir yang mengemudikan bemo pasti bisa mengutak-atik mesin bemo-nya untuk melakukan perbaikan-perbaikan kecil. “Kecuali kalau pas turun mesin, baru sopir meminta bantuan montir”, begitu tukasnya. Beliau menuturkan bahwa bemo di Surabaya hanya bertahan hingga akhir 1980 an. Pada rentang 1986 – 1987 bemo-bemo di Surabaya mulai diremajakan dan dikirim ke wilayah barat Jawa, seperti Bandung, Bogor, dan Jakarta.

Pada hari itu akhirnya saya tiba di Benhil  pada siang hari menjelang sore, tepatnya pada pukul 15.30 WIB. Orang-orang sudah tampak lalu lalang di jalanan setelah mengakhiri aktivitasnya di sore itu; beberapa mulai tampak pulang kerja, beberapa tampaknya pulang dari sekolah atau kuliah, dan ada juga yang baru saja selesai berbelanja dari pasar Benhil, tempat bemo-bemo Benhil antri menunggu giliran mengangkut penumpang. Memulai proses penelitian lapangan seperti ini selalu saja masih ada yang berdesir di hati saya, rasa khawatir, cemas, gusar, bertanya-tanya dalam hati, beberapa bayangan asumsi mulai berkecamuk di pikiran, perasaan ingin segera bergegas menuntaskan penelitian, semuanya bertumbuk menjadi satu. Saya mulai menarik napas, sabar, tenang, rileks saja mulai saya sugestikan ke diri sendiri, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menaiki bemo di ujung depan antrian yang telah siap tancap gas itu.

Bemo, bunyinya khas, trungtung tung tung tung tung….. asapnya putih tipis dan ngepul, penampilannya dekil dan reot. Ketika saya menaikinya, bodinya sedikit tertekan oleh berat badan saya, maklum  berat badan saya hampir satu kuintal! saya belom sempat mengukur berapa kali berapa ukuran bemo ini, yang jelas bemo bisa membawa 7 penumpang plus satu supir tentunya. Tujuh penumpang itu terdiri dari enam penumpang duduk berhadapan tiga-tiga di bangku bagian belakang, dan satu penumpang duduk di depan mendampingi sopir. Saya duduk di sudut bagian dalam bemo, persis di belakang penumpang yang duduk nyaman di bagian depan. Agaknya bangku penumpang bagian depan itu cukup pas untuk satu orang, tapi entah dengan tubuh saya ini, apakah pas juga? nanti saya akan mendapatkan jawabannya.

Sementara pada bagian belakang, penumpang bemo meski saling berbagi dan berhimpitan. Kami berenam duduk saling berhadap-hadapan. Karena sempitnya bagian belakang bemo itu, dengkul-dengkul kami saling bertatapan, sementara tubuh kami harus berdisiplin menghadap ke muka, tidak ada ruang gerak ke kanan atau ke kiri sama sekali. Di tambah lagi, bangku bemo itu pas sekali untuk ukuran sepasang bokong. Saat itu, persis duduk di hadapan saya –di sudut bagian belakang sopir–seorang gadis belia berparas India. Menurut dugaan saya ia, seorang mahasiswi atau seorang remaja yang baru saja pulang kursus. Ia duduk dengan tenang, tidak canggung mesti berhimpitan, agaknya ia adalah pengguna setia bemo, saya segan untuk bertanya.

Duduk di sebelah kanan saya seorang ibu, menggunakan baju rumahan menenteng beberapa potong lemper atau lontong dalam bungkusan plastik transparan. Persis di hadapan ibu tersebut seorang laki-laki muda membawa tas ransel, bajunya rapih serapih cukuran rambutnya.Lalu disampimg ibu tersebut, pas di mulut bagian belakang bemo duduk seorang ibu yang mungkin berprofesi sebagai guru sekolah, saya mengetahui dari seragamnya seperti seragam ibu guru, dan lagi di Benhil cukup banyak sekolahan di sekitarnya. Di hadapan ibu itu seorang ibu lagi, berdandan lumayan rapih, masih segar dandanannya, agaknya ia bukan berangkat pulang ke rumah, tapi justru baru saja berangkat kerja atau keperluan lainnya. Ibu yang terakhir ini kemudian saya ketahui turun di RS AL Mintohardjo. Nah kan, benar dugaan saya….

Bemo melaju, tidak ada kejadian yang perlu diperhatikan. Selama perjalanan yang hanya berdurasi kurang lebih 10 – 15 menit itu saya gunakan untuk mengamati kondisi bemo, sesekali mengintip bagian depan bemo, yang sama rongsoknya dengan bagian belakang. Saya perhatkikan bagaimana sopir mengemudikan bemonya, lalu pandangan saya menyapu gambar angka berwarna putih yang mulai memudar “ 2500” di bagian dalam terpal penutup bemo. Saya bergumam dalam hati “oh, ongkosnya 2500 rupiah”.  Tadinya saya berpikir ongkos bemo hanya 2000 rupiah sahaja. Lalu menjelang perempatan antara Benhil, jalan Danau Tondano, jalan Penjernihan, dan jalan H. Abdul Latif, saya mulai menebak nebak apakah bemo lurus menuju ke Penjernihan atau belok kanan menuju Tondano lalu masuk ke jalan Pejompongan? saya belum tau persis bagaimana rute trayek bemo itu sebenarnya. Hingga kemudian, bemo belok ke kanan memasuki jalan Danau Tondano kemudian masuk ke jalan Pejompongan.”Oh,ternyata lewat sini, bukan lurus ke Penjernihan”, gumam saya dalam hati.

Memasuki jalan Danau Tondano, enam penumpang –termasuk saya– masih tersisa dalam bemo. Satu penumpang kemudian turun di mulut jalan Danau Toba. Ketika itu saya melongok pingin tau berapa ongkos yang dibayar oleh ibu guru itu. Ternyata, hanya dua ribu rupiah, bukan dua ribu lima ratus sebagaimana tulisan angka yang tertera di bagian dalam terpal penutup bemo. Setelah memasuki jalan Pejompongan, saya banyak melihat beberapa bemo berjajar di pinggir jalan, tanpa sopir, hanya diparkir begitu saja. Saya kemudian memutuskan untuk turun di depan warung nasi goreng anglo “Bumen Jaya II” langganan saya. Ternyata pada saat saya mengisyaratkan akan turun, ada dua orang sekaligus yang ikut turun, yaitu remaja perempuan di depan saya dan seorang ibu yang persis ada di sebelah kanan saya itu. Jadi cukup praktis, isyarat suara saya kepada pak sopir “Pak, kiri ya Pak…” bermanfaat juga untuk dua orang perempuan itu. Mengetahui keduanya akan turun, saya menahan diri, saya turun paling belakangan,sambil ingin tau berapa ongkos yang mereka bayarkan kepada sopir, ternyata sama dua ribu rupiah!

Turun dari bemo, sesaat saya serasa mati gaya. Mau kemana ini saya lanjutkan pengamatan. Saya terus berjalan menyusuri jalan Pejompongan hingga ke pertigaan Pejompongan Raya. Ada dua atau tiga bemo yang terparkir di pertigaan Pejompongan itu. Lalu saya melihat beberapa sopir bemo yang mungkin juga bercampur dengan tukang ojeg berbincang-bincang santai di seberangnya. Bemo itu tak terlihat seperti bemo ngetem, yang antri menunggu calon penumpang sebagaimana di pasar Benhil. Saya mulanya ingin menghampiri kumpulan sopir bemo dan tukang ojeg itu, tapi kemudian saya batalkan. Pikir saya dengan pendekatan itu, kentara sekali saya seperti seseorang yang sedang sengaja mengamati bemo. Hal ini belum ingin saya lakukan, sebagaimana saya agendakan sebelumnya, pada penelitian lapangan pertama kali ini, saya akan mengamati dahulu, ngobrol santai, menyelami suasana dengan perlahan dan menikmati hari yang mulai semakin sore. Saya lihat jam pada hand phone saya, jam 04.00 WIB rupanya.

Pandangan saya tertuju pada suatu warung semi permanen yang nempel di taman jalan, warung mie rebus dengan sajian meja berbagai macam gorengan, seperti pisang goreng, uli goreng, lontong oncom dan beberapa makanan ringan lainnya. Layaknya orang yang mampir –entah dari mana dan mau kemana– saya langsung duduk di warung dan memesan mie rebus plus teh botol. Persis di depan warung itu, terparkir dua bemo yang sopirnya entah dimana. Sesaat kemudian saya mulai menyantap mie rebus saya dan sesekali menabrakkan pandangan saya kepada dua orang pemuda, satu seperti pegawai kantoran dan yang satu tampaknya anak atau kerabat pemilik warung. Berbasa-basi saya tawarkan kepada mereka “mari, makan mas….”. Mereka menjawab, “oh, ya silahkan silahkan…”. Tidak lama kemudian, salah seorang diantara mereka beranjak dari tempatnya dan mulai memasukkan beberapa ember kosong ke dalam bemo yang terparkir di depan warung.”oh, sopir bemo, tuh orang…”, gumam saya dalam hati.

Tidak lama kemudian –kebetulan saya sudah selesai makan, tapi sengaja bertahan di warung sambil perlahan menghabiskan minuman saya– bemo tadi datang kembali. Anak muda tadi turun dan mulai mengeluarkan ember yang kini telah penuh berisi air. Terdapat empat atau lima ember yang ia turunkan dari bemo, ia membawanya ke dalam warung. Sesudahnya dengan terengah-engah ia mulai mengambil rokok dan mencari koreknya di atas meja di hadapan saya. “Aduh… pegel…” gumamnya sambil menyulut rokok di hadapan saya. Saya menyaut itu dengan bertanya, sebagai tanda keakraban,“ngambil air dari mana mas?”. Ia menjawab, “disitu…biasa deket sini.” Saya terus menyambung, “bemonya milik mas juga nih….?”. Ia menjawab “nggak, mas. pinjem aja dari sopir yang mangkal disini….itu tuh orangnya yang pada ngumpul…”. Dengan jawaban itu saya berpikir bahwa, sudah terdapat hubungan yang akrab sekali antara si pemilik warung ini dengan para sopir bemo itu.

Saya tidak melewatkan kesempatan berbicara itu dengan begitu saja. Di sela-sela pembicaraan ngalor-ngidul, kemudian saya mengetahui bahwa pemuda itu adalah salah seorang putra dari pemilik warung itu. Ia dengan ibunya dan beberapa orang saudara perempuannya membuka warung disitu, entah sejak kapan saya tidak sempat tanyakan. Yang penting, setelah saya mengetahui bahwa mereka berasal dari Tasikmalaya. Logat bicara mereka pun, setelah saya perhatikan benar-benar, memang berlogat sunda. Saya kemudian mengganti sapaan “mas…” dengan “aa’…”.

Setelah berbasa-basi agak lama, saya sengaja memesan minuman lagi. Saya sengaja ingin nongkrong agak lama di warung itu. Saya pikir, jika cocok, nantinya warung itu akan berguna untuk tempat saya mangkal pada penelitian kali ini. Saya kembali membuka pertanyaan kepada pemuda yang tadi membawa ember-ember air dengan bemo, “A’….bisa juga ya nyopir bemo? sudah lama belajarnya? atau jangan-jangan emang sopir ya?” begitulah tanya saya kepadanya dengan nada bergurau. Si pemuda yang duduk tak jauh dari saya sambil menikmati rokoknya dengan tersenyum menjawab, ”iya sudah lama saya bisa nyopir, disini banyak bergaul sama sopir-sopir bemo jadi diajarin bawa bemo, susah juga lho bawa bemo, saya aja yang sudah bisa bawa mobil sebelumnya, harus belajar lagi, tapi bawa bemo tuh enak, enteng…..”.

Selanjutnya dengan semangat ia mulai menjelaskan apa bedanya antara bemo dan mobil, terutama soal gigi dan pedal perseneleng. Saya tak begitu paham  untuk pembicaraan itu. Saya menyauti sekenanya aja. Hingga kemudian saya selipkan pertanyaan “bemo-bemo ini beroperasi dari jam berapa sampai jam berapa ya A’?” . Ia menjawab bahwa bemo mulai beroperasi dari mulai habis subuh, jam lima pagi hingga larut malam jam 11.00 WIB pun terkadang masih ada satu atau dua bemo yang beroperasi. Lalu tanpa pertanyaan pembuka dari saya si pemuda itu bilang. “ di Jakarta mah, pangkalan bemo yang paling ramai ya disini, di Benhil. bemo-bemo sini banyak yang datang dari Surabaya, Malang, Bogor, Bandung juga ada. Itu yang keliatan baru-baru tuh dari Malang kebanyakan…”. Entah benar atau tidak pernyataan itu, saya tidak begitu hirau.

Tidak terasa sudah hampir satu jam lebih saya nongkrong di warung itu, ngobrol ringan dengan si pemuda tadi, dan sesekali berdiam sambil mengamati keadaan sekitar. Saya tidak menanyakan siapa namanya, begitu pun ia juga tak bertanya tentang siapa dan apa saya sebenarnya. Dia cuman sempat bertanya, tinggal di mana Pak? saya jawab Bintaro. Meski tak saling kenal, sebagaimana orang Indonesia kebanyakan, hal itu tidak menghalangi obrolan kami ngalor ngidul, berbicara soal pengalaman dia berkendara motor menuju ke Tasikmalaya, lalu saya membalasnya dengan kisah saya yang pernah terdampar seorang diri di pelosok Tasikmalaya di malam buta. Mungkin itu strategi dia sebagai seorang pedagang, menahan berlama-lama orang yang mampir di warungnya selama si fulan banyak menyantap apa yang mereka tawarkan.

Hari mulai beranjak petang, jam di handphone saya menunjukkan pukul lima lewat 20 menit. Saya mulai berdiri mendekati pemilik warung dan melakukan semacam “pengakuan dosa” atas apa saja yang telah saya santap. Semuanya 20 ribu rupiah. Cukup mahal untuk semangkok mie rebus, beberapa gorengan dan kerupuk. Mungkin, mereka pikir saya orang yang sedang lewat, jadi sesekali musti dihadiahi harga yang mahal!.

Dari pangakalan bemo di Pejompongan itu, saya hendak kembali ke pangalan bemo di pasar Bendungan Hilir. Tak lama, saya beranjak dari warung, lewat bemo yang baru saja berputar dari Pejompongan Raya. Bemo itu dalam keadaan kosong, meski saya tak sempat meminta duduk di bagian depan bersama sopir.

Sesampai di pangkalan bemo di Bendungan Hilir, saya mencoba kembali berjalan menyisir dari arah Jl. Sudirman menuju ke arah pasar Benhil. Saya ingin merasakan moda transportasi apa yang pertama kali didapati oleh calon pengguna jasa ketika pertama kali memasuki kawasan ini. Moda transportasi yang pertama-tama akan kita temui adalah ojeg yang, menurut sepengetahuan saya terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok tukang ojeg yang mangkal di halte Benhil Jl Sudirman (depan Wisma BRI) hingga ke pinggiran jalan Benhil (sebelum Pasar Benhil) dan kelompok tukang ojeg yang mangkal di depan Pasar Benhil hingga pangkalan mikrolet di depan Rumah Makan Sunda Ampera. Kelompok ojeg yang pertama ini tidak terkoordinir dan boleh datang dari mana saja di luar warga Benhil, sehingga jumlahnya tidak menentu, kadang banyak kadang sedikit. Sedangkan kelompok yang kedua terkoordinir dan beranggotakan warga Benhil.

Selanjutnya setelah ojeg, kita akan mendapatkan bajaj dalam jumlah hanya sedikit saja dan berbaur bersama ojeg yang mangkal persis depan Pasar Benhil. Setelah mendapatkan dua moda transportasi itu, barulah kita menemui antrian bemo yang berada di depan Pasar Benhil sepanjang 15 sampai 30 meter berbanjar dua baris  menghadap ke arah barat. Setelah itu, beberapa puluh langkah di depan antrian Bemo, barulah kita temui antrian mikrolet yang biasa disebut APB oleh para penggunanya, terutama warga Benhil. APB adalah singkatan dari Angkutan Pengganti Bemo. Mikrolet ini mempunyai trayek perjalanan Bendungan Hilir-Tanah Abang-Roxi.

Sambil memperhatikan deretan moda transportasi itu, tanpa terasa saya telah tiba di depan Rumah Makan Sunda Ampera, beberapa meter di depannya persis di samping pangkalan APB, terdapat Bakso Muaro Padang, yang cukup terkenal kenikmatan bakso dan rujak buah yang segar. Persis di depan Bakso Muaro terdapat salon Laris, yang setau saya cukup dipadati banyak pengunjung, terutama di siang hari. Sehingga dapat saya katakan tepat di sinilah pusat kemacetan terjadi di Benhil, sebab antrian moda transportasi dan hilir mudik mobil yang lewat atau akan mencari parkir, baik di warung makan, masjid, salon, pertokoan, bank, dan usaha foto copy percetakan bertemu menjadi satu.

Saya duduk beristirahat di depan Rumah Makan Sunda Ampera, sambil menikmati dinginnya teh botol. Maklum, gerah sekali cuaca hari itu. Meski sudah hampir jam enam sore, matahari masih belum bergiliran jaga dengan sang bulan. Petang masih cukup terang, cukup jelas bagi saya untuk melakukan pengamatan di hari pertama itu.

Kawasan Bendungan Hilir menurut saya adalah kawasan yang cukup padat penduduknya. Di Benhil terdapat berbagai macam tempat yang menyebabkan orang-orang hilir mudik datang dan pergi, dari mulai sekolah SD-SMP-SMA, kantor, pasar, tempat kuliner, rumah sakit, apartemen, rumah susun, juga terdapat pemukiman yang padat penduduk. Pemukiman itu terdiri dari dua jenis, yaitu pemukiman kampung dan pemukiman komplek. Pemukiman kampung adalah pemukiman yang terdapat pada gang gang atau lorong lorong sempit yang tak dapat dilalui mobil dan letak rumahnya saling berhimpitan satu sama lain. Sedangkan pemukiman komplek terletak pada jalanan yang lebih besar, mobil dapat melintas dan letak rumah tidak saling berdesak-desakan satu sama lain.

Di wilayah pemukiman itu, baik yang kampung atau yang komplek beberapa warga menyediakan jasa indekost bagi para pekerja di sekitar Sudirman-Thamrin. Para pekerja itu memilih kawasan seperti Benhil yang relatif dekat dengan tempat kerja mereka, sehingga tidak memakan banyak waktu dan biaya untuk mencapainya setiap hari. Saya memang belum memastikan berapa besar volume orang-orang yang lalu lalang di Benhil itu setiap hari. Tapi tentu  besar volumenya, baik orang yang datang dan pergi seperti para karyawan kantor, anak sekolah, yang hendak ke rumah sakit atau datang untuk berwisata kuliner, yang datang ke tempat fotocopy atau percetakan, atau pergi ke pasar Benhil; maupun orang yang bermukim di Benhil secara permanen, tentunya mereka juga setiap hari melalui kawasan Benhil-Pejompongan dan menggunakan berbagai moda transportasi yang ada itu.

Kurang lebih seperempat jam saya duduk di depan rumah makan itu, mengamati keadaan sekitar, beberapa tukang ojeg bersiap di atas motornya, timer APB terus berteriak memanggil calon penunpang angkotnya, dan saya melihat ada satu dua bemo yang juga berhenti di depan rumah makan Ampera itu dengan mesin tetap menyala dan seperti hendak segera berangkat. Sopir bemo juga memanggil orang-orang yang lalu lalang itu, lalu satu dua orang naik ke bemonya, bemo itu pun langsung melesat meninggalkan tempat itu. Seperti bemo itu, saya juga melesat pulang ke rumah, saat itu azan Magrib mulai berkumandang.

Kenapa saya memilih NU?

Februari 18, 2012 - 2 Tanggapan

Nama saya Erwin, ya Erwin to’til. sebut saja begitu. Saya bukan Solechan, bukan Ulil, bukan Nusron, bukan Said, bukan As’ad, bukan Hasyim, bukan Durahman. Saya Erwin To’til. Nama yang sama sekali tak berbau islam, bukan nama santri, bukan nama kaum sarungan. Saya terlahir di suatu kampung di Surabaya, dimana orang-orang NU dan kaum abangan tinggal berdampingan. Meskipun yang abangan lebih dominan, mereka leluasa untuk mabuk miras lalu tertidur di serambi musholla. Musholla kampung itu, adalah musholla tua yang didirikan antara lain oleh buyut saya. Orang menyebutnya kiai Arti Munah. Tapi sepeninggal beliau, tak ada lagi yang mengisi musholla untuk berjama’ah. Pengikut jama’ah sholat sekaligus imamnya datang dari kampung lain. Itulah canggihnya kampung saya kala itu, mengimpor imam dan jama’ah musholla dari kampung tetangga!

Tapi untunglah, saya mulai tumbuh dewasa dalam kondisi yang telah lebih baik, ayah saya sudah bertaubat jadi abangan. Lalu nenek (emak) saya, Siti Kapsah, adalah murid madrasah H. Tohir Bakri, salah seorang tokoh NU dan Ansor di Surabaya. Mungkin, satu-satunya genealogi NU saya yang paling nyambung, tak terputus, datang dari nenek saya ini. Dia adalah cucu dari kiai Arti Munah, pendiri musholla kampung. Emak-lah yang menggerakkan ayah saya untuk memaksa saya mengaji pada usia dini, emak pula yang melatih saya dengan puasa bedug, yaitu puasa yang boleh berbuka di saat kita mendengarkan bedug adzan dhuhur, lalu meneruskan kembali puasa hingga adzan magrib. Emak-lah yang menjaga ke NU-an saya tanpa saya sadari, sehingga dia teramat gusar ketika saya harus belajar mengaji dari tetangga sebelah yang beraliran Muhammadiyah, seorang pendatang dari Lamongan. Emak mulai lega ketika saya berpindah ngaji hingga khatam al qur’an di bawah bimbingan, Agus Muqorrobin, seorang santri perantau dari Tuban. Saya banyak belajar dari mas Agus, sebelum duduk kelas 5 SD saya diajaknya untuk mengkhatamkan kitab safinatun najah dan sullam taufiq. Ia diam-diam memproyeksikan saya untuk meneruskan pelajaran ke pesantren.

Tapi entah kenapa mas Agus yang NU itu meng-iya kan ketika ayah saya mengusulkan agar saya belajar ke pesantren Gontor, pesantren yang bagi kebanyakan orang Surabaya adalah pesantren Muhammadiyah! Meski tidak seratus persen benar, karena Gontor mempunyai slogan “Di Atas dan Untuk Semua Golongan” tapi miliu Gontor yang mengadopsi sistem mu’allimin Muhammadiyah adalah seratus persen bukan bermiliu NU! ke NUan saya tergerus selama enam tahun saya belajar di sana. Ayah saya sama sekali tak peduli urusan NU atau Muhammadiyah, karena mungkin belum terlalu mengerti. Ia hanya terpana pada pandangan pertama oleh Gontor tatkala bertemu dengan salah seorang alumninya yang fasih berbahasa arab memandu suatu rombongan dari Timur Tengah. Sementara bagi Agus Muqrrobin, ia pun tak tau persis Gontor itu apa? beberapa kali ia menemui saya di pesantren dan hanya memastikan, “kamu belajar nahwu shorof?”, “kamu belajar manteq?” itu saja. Hingga kemudian, mas Agus-lah yang mengembalikan saya kepada kultur NU. Dengan bantuannya, selepas dari Gontor, saya dikenalkan kepada kerabatnya untuk mulai belajar al qur’an di Kudus, Jawa Tengah.

Memang tak sesuai dengan harapan sebelumnya, saya akan menghafal al qur’an 30 juz bolak-balik. Tapi Kudus telah mempertemukan kembali saya dengan kultur NU. Saya memulai segalamya dari nol di Kudus. Dari mulai belajar kembali melafalkan surah al fatihah yang benar hingga mendaras beberapa kitab kuning bersama para kyai di sekitar Menara Kudus. Di sana saya menempel erat dengan tradisionalisme Islam, sufinya, mistiknya dan berbagai hikmahnya. Saya bertemu dengan pemikiran Mbah Wahab Chasbullah, pemikiran Ulil, dan pemikiran kyai-kyai Kudus yang mengajari al qur’an dan kitab kuning.

Di Kudus, di serambi menara, saya kerap tercenung. Di samping saya, beberapa kawan santri saya mendaras hafalan qur’an. Sementara saya menerawang, bagaimanakah dunia santri dan kyai tradisional itu? apakah saya bagian dari mereka? apakah saya bagian dari NU? apakah bagian dari kultur yang sedemikian rupa telah membentuk saya, dan gathuk dengan saya? apakah saya ini tak lebih dari seorang abangan yang bisa mengaji? apakah saya santri? semuanya memusingkan kepala saya. Hingga saya sampai pada tabulasi apa nilai lebih dari kultur santri dan kyai ini dan apa kekurangannya? apakah yang lebih dari NU dan apa kekurangannya. Hingga saat saya berpamitan dengan salah seorang guru kitab saya, beliau berpesan”mas, sampean akan bertemu dengan orang banyak, bergaul dengan orang banyak, banyaklah meminta dan memberi pangapura (permaafan) kepada mereka”. Itu pesan yang berusaha saya tepati hingga saat ini.

Melesat dari Kudus, saya menuju Jakarta. IAIN Syahid Ciputat, beasiswa ke Mesir, dan atau kuliah di UI Depok adalah beberapa alternatif tujuan saya. Dan ternyata saya ditakdirkan untuk menjadi mahasiswa UI. Segera saya mencari yang gathuk dalam lingkungan UI. Saya waktu itu masih tergila-gila dengan pemikiran Nurcholis Madjid, hingga membuntutinya sebisa saya dimanapun beliau berceramah di depan public, termasuk public HMI Ciputat. Saya waktu itu tergila-gila dengan Cak Nun, dan juga Gus Dur. Dua orang ini yang banyak berpengaruh dalam dunia perasaan dan pemikiran saya. Cak Nun yang mengajari saya melalui figure Markesot mengenalkan saya kepada perasaan jatuh cinta, simpati pada nasib jelata. Gus Dur yang jenaka, bersahaja, menyengat saya melalui kemunculan beliau dalam suatu pengajian di Kudus memperingati haul Mbah Asnawi. Gagasan pribumisasi Islam-nya mulai saya serap dan saya banding-bandingkan dengan Cak Nur, dengan tokoh yang lainnya, termasuk Amin Rais misalnya.

Tokoh-tokoh itulah yang menggathuk kan saya dengan PMII, organisasi Islam mahasiswa-mahasiswa NU. Meski Cak Nun bukan PMII bukan NU dan Gus Dur yang bukan PMII, tapi pemikiran dan keberpihakan mereka rasanya dapat saya temukan juga dalam wadah PMII. Itulah pilihan saya, bukan lantaran adanya harapan PMII atau NU akan menjadikan saya apa nantinya? saya tidak pernah berpikir apa keuntungan untuk masa depan saya bila saya nyemplung dalam PMII yang mendekatkan saya pada kultur NU itu. Tidak sama sekali. Saya hanya mencari yang gathuk, yang cocok dengan selera saya. Seperti mencari pacar, pertimbangan saya adalah apakah PMII bisa ngobrol nyambung dengan saya? apakah dengkuran dan impian saya seirama dengan dengkuran dan impian pacar saya itu? apakah nasib sarapan pagi saya sama dengan sarapan pagi PMII? itu yang lebih serius. Dan lebih serius lagi, adalah pertimbangan apakah kemarahan saya dan kegelisahan saya juga sama dengan kegelisahan dan kemarahan PMII?

Sepeninggal Gus Dur, NU menjadi semakin tak menentu. NU seperti pasar bebas. siapa pun bisa keluar masuk seenaknya. Kalau pada decade 1950 an NU punya banyak mobil tapi kekurangan sopir, sehingga harus membajak beberapa sopir dari luar NU, maka pada saat ini NU sudah punya banyak sopir hingga kehabisan mobil, bahkan kehabisan bahan bakar untuk menggerakkan mobil. Sehingga tak heran, saat ini siapapun dapat segera menjadi sopir NU jika saja bisa membawa bensin buat mobil mobil NU! Sepeninggal Gus Dur, sopir sopir NU semakin ugal-ugalan, banyak yang tanpa SIM sudah berani membawa mobil NU. Atau banyak juga calo SIM untuk sopir NU, sehingga saat ini banyak sopir NU yang bermodalkan SIM bodong!

Dalam keadaan demikian, mana mungkin saya, anda, dan kita semua meninggalkan NU? Memang saya pernah beberapa saat abai dengan NU, saya sibuk dengan diri saya sendiri, tapi tidak untuk saat ini. Saya pernah memilih NU, merasa gathuk dengan PMII yang NU, maka saya harus ikut beribadah dalam NU. Tidak hanya menjadi sopir mobil-mobil NU, tapi ayo kita buatkan mobil-mobil baru untuk NU, kita upayakan NU agar dapat menghasilkan bahan bakarnya sendiri, sehingga tak perlu kesulitan mencari bahan bakar kesana kemari. Kemudian ayo kita tertibkan sopir-sopir NU. Sopir bodong kita sadarkan supaya mau mengurus SIM dengan baik dan benar dan mengikuti aturan main NU. Sementara yang sudah punya SIM sebagai sopir NU ayo kita tingkatkan kualitasnya agar mampu membawa mobil NU melintas jalanan yang terjal berliku dan ngebut di tikungan tajam sekalipun! agar mau membawa mobil NU kepada tujuan yang benar! Sopir sopir itu harus mau mengantarkan warga NU kepada kesejahteraan di dunia dan akhirat!

Suatu Jum’at di Lebak

Februari 17, 2012 - Leave a Response

Baru-baru ini, saya dengan beberapa kawan melakukan perjalanan menuju Lebak, Banten. Dari Jakarta kami melewati Serang, menuju ke arah Rangkasbitung lalu terus melaju menuju arah selatan melewati beberapa perkebunan sawit, karet, dan jalan-jalan yang menyiksa pantat sepanjang puluhan kilo meter, karena pecah-pecah, berlobang atau ambles.

Saya teringat kisah kawan-kawan saya yang berasal dari daerah ini, mungkin lebih pelosok lagi. meski hanya beberapa puluh kilometer sahaja dari ibu kota negara, Lebak memang susah dijejak. transportasi sangat jarang, atau bisa dibilang tidak ada. mungkin ojeg motor adalah salah satu alat transportasi yang paling masuk akal untuk menjejak wilayah ini. saya ingin sekali menuju Bayah. tempat dimana Tan Malaka singgah untuk berbaur dengan para pekerja rodi dan kuli perkebunan, sementara Soekarno kabarnya juga sampai ke sana, bermalam dan menikmati kehangatan di dalamnya. tapi mungkin belum waktu lalu. mungkin yang akan datang saya akan menjejak Bayah. sementara ini, Lebak telah cukup menjadi tombo kangen saya kepada tanah Banten.

Setelah beberapa puluh kilo meter mobil melaju, sampailah kami di suatu desa, berhenti di suatu masjid dan bersama masyarakat menunaikan ibadah sholat jum’at. sudah lama saya tak berjama’ah sholat jum’at. saya kerap menjadi pengembara atau musafir meski hanya putar-putar di dalam ibu kota saja. saya memang rada jemu dengan jum’atan. meski hanya dua raka’at tapi ritual khotbah sebelum sholat kerap membuat saya malas dan enggan untuk berjama’ah menunaikan jum’atan. saya lebih memilih sholat dhuhur, empat raka’at super ekspress meski itu adalah hari jum’at. di Lebak, saya mendapatkan pengalaman menarik. meski bukan barang baru buat saya, karena saya juga mengalami jum’atan yang kurang lebih sama (seperti di Lebak) di daerah-daerah lain di tataran Pasundan dan Banten ini. khotbah berlangsung singkat. khatib dalam bahasa arab menyampaikan dua khotbah dalam waktu 5 – 10 menit dengan nada datar dan menyinggung hal-hal yang wajib saja dalam khotbah, seperti memuji asma’ Allah, bersyukur, sholawat kepada nabi, menyerukan ke takwaan dan menyitir penggalan ayat al qur’an lalu berdo’a bersama. demikian simpel, sederhana dan bersahaja.

Lain halnya khotbah jum’atan di kota. yang kita bisa memilih menunya. sebut saja jika kita sholat di wilayah tanah abang, di salah satu masjid pusat da’wah Muhammadiyah, kita akan mendengar khotbah yang masih mengangkat tema perbedaan (khilafiyah) dalam melakukan syari’at sehari-hari. lalu bergeser ke arah Kwitang, ada suatu masjid yang tema khatib kerap menyerang kebijakan pemerintah, terlebih bila si menteri yang mereka serang bukan dari golongan mereka. saya pernah mencoba masuk ke gang-gang di wilayah Kebon Sirih, basis golongan nahdliyin mendirikan Jum’atan mereka. tema khotbahnya lumayan biasa, membahas masalah sekitar atau mencoba menganalisa isu-isu politik yang sedang santer dibicarakan tapi dalam uraian logika yang jaka sembung bawa botol, ora nyambung tolol! atau sang khatib, yang mungkin lulusan pesantren dan mengenakan title sarjana sekenanya, memberikan khotbah jum’a t dengan bahasa Indonesia ilmiah yang blepotan. panjang lebar, tak kita tangkap maksudnya, kecuali ajakan sang khatib untuk kita bertakwa.

Sementara di kantoran atau kampus universitas, Jum’atan lebih seru lagi. sholat jum’at hanya menyita waktu 5 menit sementara khotbah jum’at bisa mencapai 30 hingga 45 menit. sang khotib berkhotbah seperti monolog. panjang teks khotbah jum’at yang mereka ketengahkan bisa lembaran jumlahnya, mirip makalah seminar. dahulu waktu di kampus atau di kantor, sembari menanti khotbah usai. saya kerap menyempatkan diri untuk makan siang di sekitar masjid, lalu menyemir sepatu, baru loncat ikut sholat jum’at! efisien bukan?

Di Lebak, efisiensi serupa tapi tak sama juga saya tangkap dari ibadah jum’atan bersama masyakarat sekitar masjid. Jum’atan hanya membutuhkan waktu 15 – 20 menit. berlangsung khusyu’ tidak ada monolog panjang yang membosankan. begitu khatib usai membacakan khotbah singkatnya, kita berjama’ah dua raka’at. bacaan imam jelas dengan pilihan surah yang tak terlalu panjang, suaranya datar dan enak didengar, tanpa suara mendayu-dayu bacaan al qur’an yang kadang mengusik rasa khusu’. seusai sholat itu sang imam memberikan pilihan, apakah jama’ah masih mau melakukan ibadah sholat dhuhur bersama atau menyudahi jum’atan dan mencukupkan dengan sholat dua raka’at mereka? sangat demokratis. tidak ada paksaan dalam beribadah. tidak ada pilihan yang itu kurang afdhol yang ini lebih afdhol. seragam tapi tak sama. kompak tapi tak merampas! khusyu’ yang benar-benar tak menusuk! masing-masing jama’ah boleh menggunakan pilihan paket ibadahnya sendiri-sendiri. dua plus empat? atau dua raka’at saja cukup!

(pertamakali diterbitkan 6 Maret 2011)

Ceragem dan dokter dokter kita…

Februari 17, 2012 - Leave a Response

Sebenarnya hal ini lama mengusik saya. tapi saya diam saja. atau terkadang ngomel2 dan ngumpat2 bersama kawan-kawan jika kebetulan sedang menyaksikannya bareng2 di jalanan. Ceragem. atau terapi batu giok. yang selama 3 atau 4 tahun belakangan ini menjadi primadona masyarakat kelas bawah. ia seolah datang menggantikan para dukun pijat atau mantri dan bidan suntik puskesmas  juga dokter2 Indonesia yang mungkin sedang sibuk menyembuhkan orang sakit di rumah-rumah sakit besar dengan harga mahal, atau memilih membuka praktek di klinik mewah dan yang muda2 mungkin sedang sibuk terpencar dalam program PTT di pelosok wilayah Indonesia nun jauh disana. akhirnya ceragem menggantikan mereka semua. sebab datang dengan layanan bersahabat, gratis tanpa dipungut biaya, meski harus rela sejak subuh buta atau berdiri-jongkok-berdiri di tengah terik matahari. mereka berjejal mengantri dengan raut muka yang mungkin sedang menahan berbagai sakit, hanya menderita encok, pegal pegal, asam urat hingga mungkin mereka sedang bermasalah dengan ginjal dan  jantung mereka, sehingga sebagian dokter modern akan mengatakan “sebaiknya pengobatan ini juga dibarengi dengan terapi ceragem ya pak….”

Ada juga memang layanan ceragem yang komersial. biasanya memungut biaya 15 sampai 30 ribu untuk sekali terapi di atas batu giok itu selama 30 menit atau lebih. tapi yang ini sepi pengunjung. karena mungkin lembaran 15 ribu hingga 30 rupiah itu lebih baik digunakan untuk makan dan biaya hidup sehari-hari para nyai-nyai dan engkong-engkong yang ngantri ceragem itu. dengan begitu mereka akan rela menebusnya dengan antrian ceragem gratis yang memilukan itu. lalu kemana para mantri bidan dan dokter-dokter kita? atau paling tidak jika memang batu giok itu benar bermanfaat untuk pemulihan kesehatan masyarakat umum, setidaknya pemerintah turun tangan untuk mengadakannya secara massal agar antrian panjang ceragem yang memilukan itu tidak terjadi di mana-mana. jika tidak demikian, maka bergeraklah wahai dokter-dokter Indonesia? tirulah beberapa tokoh dokter lulusan STOVIA yang rela berkeliling untuk memberikan pengobatan gratis bagi rakyat negeri Hindia Belanda, pun hanya panu dan kurap atau sekedar diare yang mereka atasi, tapi sungguh itu teladan mulia. maka belakangan ini ketika saya mendengar ibu Menteri Kesehatan kita menderita sakit yang rada gawat, maka dengan nakal benak saya berguman. “jangan kau pergi ke luar negeri wahai ibu menteri, cukuplah berobat di Indonesia, sambil sesekali ikutlah antri ceragem, barangkali sengatan terik matahari dan rasa pegal di sekujur kaki, dapat menjadi obat mujarab bagi ibu menteri….”.Sehatlah bangsa Indonesia!amin.

(tulisan pertama kali dipublikasikan 8 Februari 2011)

Suroboyoan, Ngoko atau Kromo Inggil?

Februari 16, 2012 - Leave a Response

Apa yang istimewa dari Surabaya? tentunya banyak sekali dan mungkin nanti akan saya kisahkan dalam tulisan saya satu persatu. salah satunya adalah soal bahasa ngoko Suroboyoan yang kerap digunakan oleh kaum Kromo Suroboyo. Bahasa mereka ini terdengar kasar, kadang saru, vulgar tanpa tedeng aling-aling, tapi paling tidak itu menandakan keterbukaan dan budaya lugas Wong Suroboyo yang sudah d saikenal seantero Indonesia itu. Kala pulang ke kampung halaman di Surabaya, adalah saat yang menyenangkan bagi saya untuk kembali mendengarkan bahasa-bahasa kromo Surabaya itu. Tanpa sengaja, saat membeli makanan atau nongkrong di warung bahasa kromo, celotehan atau guyonan Suroboyoan itu akan terlontar dari orang-orang sekitar, dan dengan itu saya langsung mengenali apakah si fulan wong Suroboyo asli atau bukan?

Sapaan seperti “yo opo kabare rek? sik urip tah? tak pikir wis matek awakmu?”(gimana kabarnya? masih hidup?saya pikir sudah mati kamu…) terdengarnya berkonotasi kasar dan kurang sopan, tapi itulah keakraban pergaulan kromo khas Suroboyo. beberapa waktu lalu saya mendengar dengan geli, seorang bakul rujak yang bertutur kepada pelanggannya, “ini anak ku, gak percoyo yo? gak podo ancene soale nemu nang larak’an” (ini anak ku, gak percaya ya? memang kita tidak mirip, karena anak itu aku temukan di tempat sampah). Sangat kasar bukan? bercanda dengan mengatakan bahwa anaknya adalah hasil temuan dari tempat sampah! hahaha saya geli sekali mendengarkannya dan kangen saya terobati, inilah masyarakat ku yang terbuka, lugas tanpa menutupi perasannya, bebas saja melontarkan canda, modal yang baik untuk membangun suatu kejujuran! dan saya lahir dan menjadi bagian dari mereka!

Memang tidak semua wong Suroboyo akrab dengan situasi pergaulan kromo macam ini, setidaknya Williem H. Frederick dalam bukunya tentang sejarah revolusi di Surabaya telah menggambarkan dengan baik, bagaimana susunan “kasta” dalam masyarakat Surabaya. Ada golongan priyayi, bagian kelas menengah kota yang terpelajar, terdidik dan terbiasa dengan pergaulan kelas atas yang sarat dengan aturan dan etika yang mengikat secara ketat. Dari golongan ini guyonan kromo seperti yang saya tuliskan di atas, tentu tidak akan kita dapati. Juga pada golongan santri, tentunya guyonan suroboyoan itu akan berirama sama dengan nuansa agama yang berbeda. beberapa kata yang mereka anggap tidak senonoh atau vulgar tentu tidak mereka tuturkan. Ada juga golongan jelata yang hidup di kampong-kampong Surabaya, tidak terdidik,  tidak agamis, cenderung abangan mesti menaruh hormat pada kyai dan ulama.

Golongan pertama dan kedua, dalam pergaulan mereka menggunakan bahasa kromo inggil yang cukup ketat. sedangkan golongan yang akhir tidak mengenal kromo inggil, tapi menggunakan bahasa ngoko yang lebih kasar dan bernuansa egaliter, jujur apa adanya dalam mengungkapkan perasaan khas Jawa Timur-an. Dari golongan inilah lahir wong-wong seniman macam Cak Durasim, Markeso, Kartolo cs, dan mungkin Gombloh! Dalam tutur kata golongan jelata ini, kata-kata semacam Jancuk (fuck you!), Jangkrik!, Asu (Anjing) terkadang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari yang dianggap wajar dalam skala keakraban yang teramat sangat. Meski saat ini menggunakan bahasa semacam itu akan dianggap kurang berpendidikan, kampungan, urakan dan kurang bermoral karena menabrak etika kesopanan, tapi sesungguhnya ada suatu kejujuran dan ketulusan yang memang diekspresikan secara nyleneh…..Fenomena semacam ini pun tidak hanya terjadi pada masyarakat Surabaya. Setau saya dalam masyarakat Betawi, Batak, atau Padang sekalipun, juga terdapat ungkapan pergaulan yang serupa, seperti Ngentot atau Pantek misalnya.

Tentu saya tidak ingin membahas sikap saya terhadap bahasa-bahasa kromo semacam itu. Saya hanya ingin berusaha menyadarkan diri saya, bahwa betapa banyak bahasa Suroboyoan lainnya yang sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat Suroboyo. Pengaruh perkembangan zaman, antara lain pengaruh bahasa para penyiar Radio dan berbagai tayangan televisi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jakarta (bukan Betawi), sudah mulai ikut ditiru oleh beberapa segmen masyarakat tertentu di Surabaya. Mendengarnya rada janggal. Lalu saya teringat dahulu di sekolah SD, betapa beberapa kawan dan ortunya bangga dengan bahasa Indonesia yang mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari, sekedar untuk menunjukkan kelas atau golongan keluarga mereka. Bagi beberapa keluarga, berbahasa Indonesia kala itu dianggap mempunyai prestige tersendiri, sehingga mereka rela meninggalkan bahasa ngoko Suroboyoan….

Di keluarga saya, ada dua darah yang mengalir di dalamnya. keluarga Bapak saya adalah keluarga santri Jawa yang menganggap bahwa bahasa kromo inggil itu masih perlu digunakan dalam pergaulan sehari-hari, khususnya kepada para orang tua. Sementara keluarga Ibu saya adalah keluarga asli Suroboyo yang menjadikan bahasa ngoko sebagai bahasa Ibu! maka saya waktu kecil sudah terbiasa menggunakan kromo inggil ala Mataraman bila berbicara dengan para orang tua, meski dalam bergaul dengan sesama saya fasih menggunakan bahasa ngoko! sampai sekarang pun, lidah dan liur saya masih kental dengan nuansa Suroboyoan! terkadang jancuk, jangkrik dan asu pun masih terlontar dengan tidak sengaja dari mulut saya kala bertemu kawan akrab atau dalam keadaan kesal!

Hal itu juga terjadi dengan keponakan-keponakan saya. rata-rata mereka fasih menggunakan bahasa Suroboyoan atau bahasa khas Malang, sesuai dengam domisili masing-masing. ada satu keponakan yang akrab dengan bahasa Jakarta-an dengan logat Jawa yang medok, sebabnya si anak banyak bergaul dengan orang Cina dan ayahnya juga mempunyai kerabat di wilayah Jakarta. Yang saya sayangkan dari mereka, adalah hilangnya kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa kromo inggil, yang menurut saya juga perlu untuk digunakan dalam tingkat pergaulan tertentu, khususnya kepada para orang tua.

Akhir akhir ini saya  juga tersadar ada beberapa kata ngoko usang yang mulai hilang dari peredaran.  Saya jarang sekali mendengar orang mengucapkan kata trachoom (sejenis penyakit mata, disebut untuk orang yang menggunakan kaca mata), gak patek en (tidak kurapan, idiom yang berarti tidak rugi sama sekali), ndesit (dari kata ndeso: kampungan)  medit (kikir) dan banyak lagi. Saya juga khawatir dengan ditinggalkannya bahasa-bahasa proletar Suroboyoan dan menggantinya dengan bahasa yg lebih santun, lebih berpendidikan, lebih mriyayeni, masyarakat kita akan kehilangan kejujurannya, ketulusannya, spontanitasnya, keterbukaannya, dan lain lain yang bagus bagus….

Tembok Sayuran, Kampong-ku

Februari 16, 2012 - Leave a Response

Namanya unik, dari dahulu hingga sekarang, jika saya berkenalan dan menyebutkan nama kampong halaman itu, orang lantas menukas “oh, sayuran? banyak sayurannya ya?” dan saya bingung jawabnya, jadi nyengir saja untuk mengambangkan antara iya dan tidak. Tidak tahu nama itu bermaksud apa? Menandakan apa? Menunjukkan kepada masa lalu yang bagaimana? Yang jelas pas saya kecil hingga saat ini tak ada banyak sayuran di kampong saya itu. Maka untuk amannya terkadang, saya mengatakan bahwa saya berasal dari “kampong tembok”, karena memang ada dua nama “tembok” yang lebih terkenal di wilayah Surabaya, yaitu Tembok Dukuh, kampung sebelah Tembok Sayuran, merupakan kampung halaman Bung Tomo yang melegenda itu. Kemudian ada Pasar Tembok plus Kuburan Tembok yang memang sudah sangat tua itu. Dapat dikatakan, kedua nama itu lebih terkenal dibandingkan dengan Tembok Sayuran!

 Lalu bagaimana dengan Tembok Sayuran? sejak dahulu keluarga (tiga generasi ke atas, bapak-mbah-buyut-mbahbuyut-) saya tinggal di wilayah ini. Menurut almarhumah nenek (emak) Bakul,  keluarga kami berasal dari Solo, sehingga tak heran di keluarga kami, bahasa jawa kromo inggil masih menyisa, tak tergerus dengan bahasa jawa ngoko khas suroboyoan! Tapi rasanya tradisi Jawa yang ke solo-solo-an (abangan) ini kemudian bercampur dengan tradisi santri Jawa Timuran. Lagi-lagi menurut emak (embah putri) saya, dahulu kakeknya adalah kyai kampong yang pertama kali datang menetap di Tembok Sayuran, sebutlah Kyai Arti, namanya, punya anak mantu bernama Kasan yang menikah dengan Arti Muna (ibu emak saya). Nah, mbah kyai Arti itulah yang membuka langgar (surau) pertama di Tembok Sayuran, yang saat ini telah berubah menjadi musholla Nurul Ahdlor, tempat saya biasa berjama’ah di kampung halaman. Langgar ini didirikan oleh buyut saya itu karena pada waktu petang, saat sholat Magrib, banyak orang yang singgah di kampung Tembok Sayuran sepulang dari pacuan kuda yang letaknya tak jauh dari kampung.

Sejauh saya mulai mengingat tak ada tanda-tanda sayuran sama sekali di kampong saya itu, yang ada hanya beberapa keluarga induk yang telah menetap puluhan tahun, yang bisa dikatakan sebagai warga asli Sayuran, termasuk keluarga orang tua saya, yang keduanya adalah keluarga besar yang dapat dibilang aseli tembok Sayuran (hanya saja keluarga dari pihak ayah saya lebih tua dan lebih aseli sayuran daripada keluarga ibu). Banyak diantara anak-anak keluarga ini melakukan kawin kamawin satu sama lain, sehingga pertalian keluarga semangkin rumit,  dari pintu ke pintu adalah keluarga. Kanan keluarga, kiri keluarga, depan-belakang adalah keluarga. Jadi pacaran dan berantem pun juga masih dengan keluarga. Hingga saat ini hampir seluruh isi kampung Tembok Sayuran gg. II adalah keluarga besar Bakul, baik dari pihak bapak maupun ibu…..  

Selain itu beberapa warga aseli Tembok Sayuran diantaranya adalah etnis Cina, atau peranakan dari gundik Cina. Pada waktu itu terasa aneh bagi mata saya, ketika melihat di dinding tetangga, terdapat potret sosok pria Cina setengah baya bersanding dengan wanita muda, yang saya kenal sebagai pemilik rumah di waktu muda. Lantas saya berpikir, “oh, Bude ini suaminya dulu orang Cina……” Tersebutlah nama-nama peranakan ini seperti Bude Ah, Bude Wara, Om Juan, Ameh lalu anak-anaknya bernama Gioklan, Konggi, Singgih, Aiyu, Liong, Jingok, dll. Nama-nama itu hingga kini masih ada dan beredar. Jadi unik juga keluarga-keluarga peranakan di Tembok Sayuran ini, rata-rata wajah mereka meski satu keluarga relatif beragam, misal adiknya yang perempuan berwajah jawa, tapi kakaknya yang laki itu dah Cuinaaa banget, ato sebaliknya. Agamanya pun juga beragam, ada yang ikut agama bapaknya jadi Konghucu atau Kristen. Ada juga yang ikut agama ibunya, menjadi Islam. Dan hingga sekarang warga peranakan ini tatkala lebaran tiba, mereka juga ikutan bersedekah ke Musholla sebagaimana layaknya warga muslim membayar zakat fitrah, lalu esko paginya mereka ikutan juga unjung-unjung, berma’af-ma’afan berbaur dengan warga yang lainnya.

Tembok Sayuran gg. II, kampong saya boleh jadi adalah kampong yang paling komunal, dan hubungan warganya paling kompleks dibanding dengan kampong Sayuran gg. I atau Sayuran Barat misalnya. Tembok Sayuran I adalah jalan yang lebih luas dan menghubungkan jalan Tidar ke arah jalan Demak, Pasar Turi kemudian ke pelabuhan. Gang (lorong) ini tentu saja banyak dilalui kendaraan bermotor, walhasil hubungan warganya agak renggang…..sedang Sayuran Barat terpisah oleh pabrik-pabrik, jauh sekali dahulu antara Sayuran Barat dan sayuran II terdapat pabrik paku, pabrik kaos dan pabrik pasta gigi Prodent. Maka, kampung ini nyaris terisolasi dengan kampung Sayuran lainnya. Ada satu kampung lagi, yaitu Tembok Sayuran gang Mei, mungkin didirkkan pada bulan Mei, disini banyak warga pendatang, banyak rumah kontrakan, karena sebenarnya kampung ini didirikan di atas selokan besar yang ditutup dengan cor-coran yang kemudian menjadi jalan kampung itu…..saya kurang paham dengan kampung yang satu ini.

Yang paling unik dari kampung saya adalah, adanya tikungan dalam kampung, sehingga Tembok Sayuran II tampak seperti gang  buntu baik dari arah jalan Tidar (mulut gang di Selatan/kidul) maupun dari arah jalan Kalibutuh (mulut gang di Utara/lor). Dan tikungan ini pula dengan sendirinya seakan menjadi batasan tabiat dari warga kampung Tembok Sayuran II, warga penduduk aseli yang kebanyakan berada di bagian utara/lor, terkenal lebih komunal, lebih egaliter, senang cangkruk, gemar bergunjing, usil dan beberapa tabiat khas warga kampung kebanyakan. Sedangkan bagian selatan/kidul kampung kebanyakan dihuni oleh warga pendatang, meskipun ada juga keluarag aseli, termasuk keluarga emak saya yang kebetulan mempunyai rumah di bagian Kidul ini, setelah sebelumnya tinggal bersama di rumah induk keluarga yang terletak persis di mulut gang bagian Lor, dekat dengan langgar (musholla)….  Nah, saya pernah tinggal di kedua bagian kampung ini. Sejak lahir hingga kelas 2 SD, saya tinggal di bagian lorkampung, rumah saya persis di mulut gang, ayah saya saat itu telah menjadi RT semenjak tahun 1967! Kemudian setelah itu, hingga hari ini saya tinggal di bagian kidulkampung Tembok Sayuran!

Hari ini banyak yang berubah. Masuk tahun 90-an dan kemudian 2000-an banyak perubahan yang terjadi. Orang aseli Tembok Sayuran banyak yang pindah, mengikuti anaknya yang telah eksodus ke wilayah lain, atau lanjut usia dan kemudian mati. Sekarang banyak warga pendatang, yang dahulu mulanya tinggal di rumah kontrakan, kini muncul sebagai warga aseli baru yang mempunyai kehidupan ekonomi yang lebih baik. Rata-rata mereka lebih bekerja keras, lebih hemat, dan tidak hidup dengan gengsi dibanding dengan penduduk aseli. Sama dengan kebanyakan kampung di Jakarta, urbanisasi secara perlahan telah menggusur dominasi warga aseli dari kampung-kampungnya sendiri. Dan rasanya Tembok Sayuran ku, kampung ku juga secara perlahan akan menjadi seperti itu……..kini lebaran tak seramai dulu lagi, biasanya dahulu kala kampung Tembok Sayuran adalah kampung yang sebenar-benarnya, tak ada warga yang mudik, tak ada yang pulang ke desa, karena kami tak punya desa lain, desa kami adalah Tembok Sayuran! Tapi tidak hari ini, semua berubah….

Tapi, bagaimanapun saya, akan tetap kangen dengan kampung ini, merindukan kampung ini, rindu masa lalu, sendau guraunya, banjirnya, permainan anaknya, pate leledum bungkembak sodor. Kangen dengan bakso Mak Mun yang khas di TK Tribina, kangen dengan pecel bali endog Wak Inem yang mantap yang menyembuhkan saya waktu kecil dari sakit malas dan meriang! Kangen orang-orang tua yang mendongeng tentang Kuntil Anak di mulut gang kidul, pocong di rumah Mbah Sagina, Jerangkong yang merangkak di tikungan hingga menghilang di tengah gang! Itu semua yang saya rindukan……

(dipublikasikan pertama kali 6 Oktober 2008)

Tradisi Kuburan….

Februari 12, 2012 - Leave a Response

Saya menganggap bahwa kuburan (makam) leluhur mempunyai arti penting dalam kehidupan saya. Gambaran soal kuburan ini dengan baik saya simak dari Grave of Tarim karya Engseng Ho yang menuliskan bahwa bagi masyarakat Hadrami yang ia teliti, makam adalah penting untuk dipelihara, bukan hanya karena makam itu dianggap suci dan dikeramatkan, namun juga karena pada makam lah titik simpul kehidupan mulai saling terkait satu sama lain. Menurut saya, Engseng Ho dalam bukunya itu cukup memperhatikan dengan sangat baik fungsikuburan.

Saya setuju dengan Engseng Ho, bahwa dalam masyarakat diasporik, pertanyaan “di mana kamu dilahirkan?” tidak menjadi penting, tapi pertanyaan “di mana kamu meninggal dan dikuburkan kelak?” menjadi sangat penting. Makam adalah penanda kehadiran seseorang, yang boleh jadi membawa garis keturunan di berbagai wilayah. Hubungan antara anak dengan bapak atau dengan ibunya, anggaplah jika si ayah atau si ibu itu tidak berada dalam satu wilayah yang sama dengan si anak, akan dibangun pada keberadaan makam si ayah atau makam si ibu. Makam itu  menjadi sangat penting bagi si anak untuk menjaga sekaligus menegaskan identitas diri si anak.

Demikianlah saya, saya boleh dikatakan adalah bagian dari masyarakat yang berdiaspora itu. Sebagai keluarga baru, entitas baru dalam kosmologi kekerabatan Jawa, saya sudah tidak memikirkan lagi dimana saya lahir. Saya sesekali kembali ke Surabaya, terkadang bukanlah untuk menyapa yang masih hidup, atau mengenang dimana saya dilahirkan. Setau saya rumah sakit dimana saya dilahirkan, yaitu RS Mardi Santoso di Bubutan, Surabaya, sudah berubah menjadi sebuah restauran! lalu rumah masa kecil saya, dimana ibu saya akan mbrojolin saya disitu sekarang sudah menjadi bengkel dinamo! Tapi dengan kepulangan saya ke Surabaya, saya ingin memastikan bahwa makam leluhur saya, makam emak saya, makam kakek buyut saya masih dalam keadaan baik-baik saja. Lalu saya berdo’a di atasnya, melakukan dialog imajiner dengan yang sudah mati itu. ngobrol ini itu, menyampaikan harapan, menciptakan katarsis baru dan sebagainya.

Setelah ziarah kuburan leluhur itu, saya seperti kembali me-recharge ulang energi kehidupan saya. Dunia Jawa saya telah mengajarkan bahwa yang mati masih bisa menyaksikan tingkah laku kita di dunia, sementara kita tidak. Dan lagi, yang mati tak lagi mempunyai kepentingan atas diri kita, sehingga yang mati serasa lebih objektif dalam menyikapi kita daripada mereka yang masih hidup. Itulah imajinasi budaya Jawa yang saya yakini.


Islam saya, Islam Jawa…

Februari 12, 2012 - Leave a Response

Islam apakah atau yang bagaimanakah yang saya anut. Islam normatif kah atau kebatinan kah? Islam modern kah atau Islam tradisionalis kah?  Semuanya itu tidak lepas dari pengaruh kehidupan saya dalam tiga fase yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Islam Jawa sebagai Islam yang normatif atau sebagai suatu sistem kebatinan adalah  dua kategori yang diperkenalkan Mark Woodward. Kedua kategori tersebut bukan dimaksudkan sebagai kategori-kategori sosiologis tertentu sebagaimana kategorisasi yang pernah dilakukan oleh Geertz. Kecuali itu, Islam Jawa dan Islam normatif lebih baik dipahami sebagai orientasi keagamaan atau bentuk-bentuk kesalehan. Woodward membatasi kesalehan normative sebagai seperangkat tingkah laku yang telah digambarkan Allah melalui utusannya Muhammad saw, bagi umat Islam. Kesalehan normatif dengan demikian merupakan bentuk tingkah laku di mana ketaatan dan ketundukan menjadi hal yang sangat penting. Dengan kalimat sederhana kesalehan normative adalah bentuk-bentuk tata laku sebagaimana dijalankan kaum santri yang lebih menekankan berpikir secara syariat. Adapun istilah kebatinan (mysticism) menyaran pada aspek dalam (esoteris) dalam Islam.

Terdapat dua kubu yang telah lama berselih paham dalam persoalan kebatinan Islam. Kubu pertama mereka yang menjalankan praktek tasawuf tetapi harus melalui tahapan syariat. Kelompok ini merupakan hasil pendamaian Al-Ghazali antara syariat dan tasawuf. Kubu yang kedua mereka yang berpandangan bahwa untuk mencapai kesatuan seseorang tidak mesti melakukan syariat. Islam Jawa sebagaimana digambarkan Woodward, dalam banyak kesempatan berupaya mengkombinasikan kedua kubu yang saling berseberangan tersebut (Woodward, 1999).

Sementara itu Nies Mulder berpendapat bahwa kebatinan yang ia sebut sebagai mistisisme itu lahir sebagai reaksi atas kehidupan yang penuh tekanan dan terdapat keresahan sosial, sehingga orang-orang mencari landasan baru terhadap kehidupan duniawi. Kondisi tersebut membuat perasaan menjadi terus-menerus terganggu dan tersisih secara kultural, dan keinginan untuk menghadapi perubahan zaman. Kejawen merujuk pada kebudayaan Jawa yang berpusat di Surakarta dan Yogyakarta yang dianggap sebagai pusat kebudayaan Jawa. Kejawen mendapatkan pengaruh dari pandangan keagamaan Hindu-Budha, terutama pada epos-epos yang berasal dari India, seperti Ramayana dan Mahabarata.

Dalam kebatinan Jawa, kehidupan dipandang sebagai peperangan antara kuasa kekacauan dan kuasa keteraturan. Kurawa, dalam epos Mahabarata, dinilai sebagai perwujudan dari kuasa kekacauan yang menggambarkan keangkuhan, egoisme, amarah, dan keserakahan. Kurawa dilawan oleh para Pandawa yang menegakkan kesalehan, keadilan sikap tanpa pamrih, dan kepercayaan pada tujuan kosmos dan kehidupan dunia yang ditandai suasana tenteram, harmonis, adil, dan makmur.

Manusia sebagai jagat cilik (mikrokosmos) hidup di dalam jagat gedhe (makrokosmos). Kuasa kekacauan dilambangkan pada segi badani yang bersifat keduniawian, sedangkan kebatinan berupaya menghubungkannya dengan makna terdalam dari kosmos dan moralitas. Raja dianggap sebagai perwujudan dari manfaat mistik atas dunia yang memiliki kekuasaan dan kekuatan kosmis yang mampu memberikan keberkatan dan jaminan kesejahteraan warganya. Sementara kraton merupakan gambaran kosmos dengan raja sebagai pusat semesta.

Dalam dunia kebatian Jawa, manusia perlu melepaskan segala yang keduniawian agar bersatu dengan asal muasalnya, Sang Pencipta, manunggaling kawula-gusti. Praktik kebatinan merupakan upaya untuk berkomunikasi dengan realitas asali, sehingga kehidupan menjadi pengalaman religius. Bagi penganut kebatinan, antara yang kudus dan profan tidak dipisahkan. Semua diatur harmoni supaya terjadi keseimbangan, seperti yang ditunjukkan melalui tingkah laku, adat istiadat, tata bahasa, serta upacara keagamaan.  Ada empat tahap dalam perjalanan kebatinan orang Jawa:

  1. Sarengat, menjalani kehidupan sesuai kewajiban atau hukum-hukum agama. Seorang muslim berarti menjalankan salat lima waktu; seorang priyayi menghargai dan menghormati orang tua, guru, atau raja. Dengan melaksanakan kewajiban tersebut menyadari bahwa dia sekaligus juga menghormati Tuhan; sementara bagi kaum abangan, pada tahap ini menekankan hormat pada para leluhur, roh-roh, dewa, serta tokoh-tokoh pewayangan.
  2. Tarekat, kesadaran tentang hakikat tingkah laku tahap pertama yang diinsyafi secara lebih mendalam. Doa dan ritual tidak hanya pada gerak-gerik, tetapi sebagai usaha luhur dan suci sebagai persiapan dasar untuk menjumpai Tuhan dalam batin manusia.
  3. Hakikat, tahap menghadap kebenaran dan pemaknaan mendalam. Ritual yang teratur mulai kehilangan nilai pentingnya, karena praktik kehidupan dan tindakan manusia juga merupakan wujud dari doa terus menerus kepada Tuhan.
  4. Makrifat, yakni ketika manusia sudah terpadu dengan makrokosmos, jiwa semesta. Manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi. (Mulder, 1978)

Keempat tahap perjalanan kebatinan yang disampaikan oleh Mulder itu sama persis dengan suluk (jalan) yang ke Islaman yang diajarkan dalam dunia sufisme Islam. Agaknya tahapan perjalanan ala Jawa itu memang mengadaptasi dari ajaran Islam. Sebagaimana saya ketahui, Sunan Kalijaga adalah seorang wali (satu-satunya wali ) yang dianut oleh orang-orang Jawa abangan. Keberhasilan Kalijaga dalam menyelaraskan antara Islam dan Jawa menjadinya diakui oleh orang Jawa sebagaiwaline Jowo. Terus terang karena saya terobsesi dengan Wali ini atau Sunan ini, saya dua kali memimpikannya. Dalam mimpi saya yang pertama, saya sembahyang berjam’ah bersama beliau di Masjid Demak, lalu mimpi kedua kami duduk dalam satu majlis dimana di dalamnya terdapat beberapa tokoh Islam tradisional yang saya ketahui atau saya kenal. Saya mereka-reka mimpi itu….

Pengembaraan saya di kota Kudus-Demak, Jawa Tengah (1997-1998) beberapa saat setelah saya lulus dari pesantren Gontor, telah meneguhkan saya bahwa betapa ajaran Jawa sangat adiluhung sehingga  rela untuk mengadaptasi beberapa ajaran Islam tanpa harus kehilangan jati dirinya. Sejak saat itu saya meneguhkan diri bahwa saya adalah penganut Islam yang Jawa. Bukan sebaliknya Jawa yang Islam. artinya secara sadar saya akan membatasi ke Islaman saya dengan kepatutan yang telah ditanamkan oleh nilai-nilai ke-Jawa-an saya, bukan sebaliknya. Maka pada titik ini saya berpendapat sama dengan Pak Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang mempunyai gagasan untuk melakukan pribumisasi Islam di Indonesia, bukan Islamisasi Indonesia seperti yang digagas oleh para tokoh Islam modernis di Indonesia. Di Kudus, saya tinggal mengaji di suatu pesantren di jalan Kyai Telingsing, suatu jalan dekat dengan wilayah Masjid Kudus, dimana terdapat makan seorang pemuka Islam-Cina di Kudus, Tai Ling Sing yang dikenal dengan Kyai Telingsing. Hingga saat ini makam sunan ini, tidak hanya diziarahi oleh umat Islam, tapi warga Cina di sekitar Kudus pun turut menziarahi. Bersama tokoh ini, Sunan Kudus membuat semacam perjanjian budaya yang diikuti oleh masyarakat Kudus saat ini, bahwa ajaran Islam yang mereka dakwahkan akan  tetap menghargai ajaran Hindu Budha yang telah terlebih dahulu ada di Kudus. Maka lihat saja, sampai hari ini di kota Kudus tidak ada orang yang  menyembelih sapi, meskipun pada hari Qurban. Untuk menghormati masyarakat Kudus yang mengagungkan sapi, Sunan Kudus tidak menyembelih sapi, tapi menggantinya dengan kerbau. Lalu masih di Kudus, saya menemui suatu klenteng di dekat terminal Masjid menara yang pada hari-hari perayaan tertentu menyelenggarakan pagelaran wayang bersama warga sekitar yang muslim.

Dan pengalaman yang paling membekas dalam hati saya, di Kudus saya sempat menyaksikan bagaimana Gus Dur memberi ceramah dengan harmoni di hadapan ribuan jama’ah haul Mbah Asnawi Kudus. Sejak saat itu saya penasaran dengan model Islamnya Gus Dur. Lalu saya banyak membaca tulisan beliau, lha kok nyambung dengan roso ke jawaan saya. Yang terakhir tak kalah membekasnya adalah ajaran guru saya, Gus Aniq di Langgar Dalem, Kudus. Melalui pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al Ghozali beliau berpesan kepada saya sewaktu pamit pulang ke Surabaya, “kang beragama itu yang terpenting adalah bagaimana menghidupkan hati, seperti al Ghozali beliau juga mengajarkan bahwa ilmu agama itu adalah ilmu hati, menghidupkan agama berarti menghidupkan hati….’ lha ini juga selaras dengan kejawaan saya. Maka sejak saat itu saya menamai Islam saya adalah Islam Jawa…

Saya (tidak) Cinta Rasul?

Februari 12, 2012 - Leave a Response

Tuduhan semacam itu pernah menimpa saya. Untungnya saya tidak senaas saudara-saudara kita jama’ah Ahmadiyah, yang belakangan ini kehidupan mereka terancam disana sini. Di Nusa Tenggara Barat mereka dikejar-kejar, di Jawa Barat dan Banten mereka dilempar dan dibakar! Saya tidak sena’as itu. Hanya dituding-tuding saja, sambil sang penuding itu menangis sesenggukan menghayati kecintaannya kepada Rasul (Muhammad saw) dan membayangkan saya sebagai Abu Jahal atau Abu Lahab yang benci setengah hidup kepada Rasul. apa sebab saya dituduh seperti itu? semua bermula dari presentasi makalah saya pada mata kuliah Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. waktu itu saya masih semester dua. dan mata kuliah itu adalah mata kuliah pilihan yang kami, anak-anak sejarah, iseng ikutan ngambil bareng mahasiswa Sastra Arab dan beberapa jurusan lainnya, berharap jumlah kuota SKS kami tidak terbuang sia-sia.

Siang itu dengan semangat dan diselingi guyon disana-sini saya mengemukakan pendapat saya tentang asal muasal para wali sanga di tanah Jawa. Saya baru saja membaca buku karya de Graff, bukan SNI III karya Nugroho Notosusanto dan tim. lalu kalimat demi kalimat saya sampaikan berdasarkan argumen buku Slamet Mulyana yang konon bersumber dari babad Klenteng itu. saya mengatakan bahwa para wali sanga itu kebanyakan berasal atau keturunan dari para ulama Cina yang masuk ke Indonesia pada akhir abad ke 14 hingga 15 Masehi. mereka bukan dari arab. kalulah ada darah arab, pasti telah tercampur pula dengan darah Cina. lalu saya katakan, bahwa pendapat itu masuk akal. karena pertama, boleh jadi sebelum Islam masuk ke Nusantara, Islam nyangkut dulu di Cina. bukankah dalam suatu hadits yang terkenal Rasul Muhammad bersabda “Carilah Ilmu hingga ke negeri Cina”. itu artinya, Cina telah lebih dahulu diketahui oleh Rasul daripada Nusantara. sehingga kepak sayap Islam lebih dahulu hinggap di Cina sebelum datang ke Nusantara.

Kedua, saya juga berpendapat bahwa jika antum-antum semua datang ke beberapa site makam para wali itu berada, niscaya mereka berada di tengah komunitas yang berwarna Cina. pada makam sunan Gunung Jati di Cirebon misalnya, umat muslim juga harus berbagi dengan umat Cina Indonesia yang juga datang bersembahyang ke makam itu, karena dalam kepercayaan mereka ada salah satu makam putri Cina yang berada disana, konon putri itu adalah salah satu istri sang wali. lalu saya pernah tinggal di Kudus, saya mendapati banya kisah persinggungan sang Wali dengan para tokoh tokoh kramat yang dikabarkan berasal dari Cina. jadi saya pungkasi cerita bahwa boleh jadi, atau ada kemungkinan bahwa wali-wali itu adalah keturunan Cina, atau datang langsung dari daratan Cina! Pendapat inilah yang menuai tuduhan bahwa saya tidak cinta Rasul…..

Kata mahasiswa yang menuding saya itu, bahwa saya terlampau memuji-muji Cina dan menafikan arab, bangsa dimana rasul lahir dan tumbuh menjadi seorang pemimpin, bangsa yang dengan bahasa mereka ayat-ayat Tuhan difirmankan. maka tak seharusnya saya bersikap atau berpendapat seolah-olah Arab tidak mempunyai kontribusi bagi perkembangan Islam di Indonesia. “anda tidak cinta Rasul!” “anda telah mengatakan sesuatu yang anda tidak ketahui tentang umat Muhammad!” begitulah pekik si mahasiswa itu sambil sesenggukan menahan emosi. kelas menjadi ramai. dosen berusaha melerai. dan saya sambil guyon menambahkan….argumen ketiga, bahwa lihatlah warisan budaya Cina di beberapa kantung umat Islam di Indonesia. dan saya menghimbau jangan terlalu mengagung-agungkan arab lah….”apa sih yang diwariskan arab untuk Indonesia? paling martabak sama minyak wangi doang!” begitu seloroh saya sambil bercanda, cengar-cengir menambah suasana semakin ger bercampur haru!

Mendengar itu sang mahasiswa semakin sesenggukan dan berulang kali memaki “anda benar-benar tidak cinta Rasul….” kali ini sambil berdiri dan kelas mulai tak terkendali. saya duduk lemes memikirkan “masak iya sih gua nggak cinta Rasul?, gara-gara Prof. Slamet Mulyana ni jadi berabe gua!” tapi masih untunglah, saat itu saya tidak sena’as jama’ah Ahmadiyah saat ini. Semoga semua segera membaik, kita dapat hidup berdampingan saling mencintai satu sama lain. mencintai Tuhan, mencintai Rasul, dan lebih lagi mencintai seluruh umat manusia!

(ditulis pada 8 Februari 2011)

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.